JAGAD TIRTHA
Kabut pagi masih menggantung rendah di jalanan ibu kota Wilwatikta ketika jeritan gadis itu memecah udara. Begitu pedih dan pilu hingga membuat langkah Jagad Tirtha Narapati terhenti di tempat. Bau kayu terbakar menusuk hidungnya, membuat dadanya sesak dan matanya perih luar biasa. Namun dari semua sensasi yang terasa di tubuhnya, yang paling mengejutkan adalah pemandangan pintu-pintu rumah terbuka satu per satu, diikuti siluet orang-orang yang muncul dengan wajah samar.
Desa yang dikenal Jagad Tirtha—yang biasanya dipenuhi kehangatan dan saling tolong—pagi ini terasa terlalu dingin. Tak ada satu pun warga yang mendekat. Tak ada yang mengambil air. Tak ada yang berteriak memanggil bantuan, seolah mereka semua sudah tahu dan memaklumi apa yang sedang terjadi.
Tatapan Jagad Tirtha kembali mengikuti gadis yang berlari dengan kaki penuh luka terbuka. Ia tersandung, hampir jatuh, lalu bangkit lagi melewati jalanan tanah yang licin oleh embun dan abu, seperti digerakkan oleh sesuatu yang lebih kuat dari rasa sakit. Hingga akhirnya gadis itu berhenti di hadapan kobaran api yang menjulang tinggi, melahap sebuah rumah tanpa pagar dengan atap berbentuk perisai. Rumah yang tadinya dihuni keluarga si gadis—ayah, ibu, dan dua adiknya—kini berubah menjadi penjara api yang mengurung penghuninya hidup-hidup.
Di tengah percikan yang jatuh ke tanah bagai hujan kecil yang membakar, Jagad Tirtha bisa melihat tubuh gadis itu ambruk dan bergetar hebat, sambil terus memanggil-manggil keluarganya yang telah dijemput maut. Suaranya pecah, semakin lama semakin parau, sampai tersisa isak tertahan yang membuat dada Jagad Tirtha terasa seperti diremas.
Ia ingin maju dan mendekat, tetapi kakinya terasa berat. Bukan karena takut pada api, melainkan pada satu keyakinan yang muncul tanpa alasan jelas: bahwa ini semua bisa dicegah jika ia tiba lebih awal. Keyakinan itu menekan dadanya semakin kuat, berubah menjadi rasa bersalah yang melumpuhkan, tepat ketika gadis itu berbalik dan mengunci tatapannya dengan mata merah dan basah.
Bibir yang dulu selalu tersenyum kini memuntahkan serangkaian sumpah serapah. Namun hanya satu kalimat yang benar-benar menembus telinga Jagad Tirtha, seperti besi panas yang ditekan tepat ke jantungnya.
"Ini semua gara-gara kau!" raung gadis itu. Suaranya bergetar, tapi tajam dan tegas.
Jagad Tirtha menggeleng dan melangkah maju. "Aku tidak—"
"Kau yang membunuh seluruh keluargaku!"
Kata-kata itu menyengat Jagad Tirtha lebih daripada panas api. Naluri prajurit yang tertanam di dadanya langsung terbangun, membuat seluruh tubuhnya menegang dan waspada. Ia bahkan sudah memasang kuda-kuda, tapi gadis itu bergerak lebih cepat. Tanpa meninggalkan kata perpisahan, ia melompat ke dalam api dan menyusul seluruh keluarganya yang sudah terbakar habis jadi abu.
Situasi pun berbalik seketika. Kini teriakan Jagad Tirtha lah yang menggema di udara. Ia memanggil, memohon, meratap, tapi gadis itu tidak pernah kembali. Bahkan saat ia ikut menerjang api, pujaan hatinya itu tetap tak bisa digapai lagi.
Napas Jagad Tirtha sudah hampir putus saat panas semakin menggerogoti tubuhnya. Begitu sakit, begitu perih, tapi ia nyaris tak peduli—hingga tiba-tiba seseorang mengguncang bahunya dengan keras. Disusul tepukan di pipi yang semakin lama semakin terasa nyata.
"Jagad! Woi, bangun, Gad!"
Saat Jagad membuka mata, api runtuh dan dunia yang berkabut telah menghilang. Di hadapannya kini hanya ada wajah Harsawijaya, sahabatnya, yang kusut dan cemas.
YOU ARE READING
Elegi Bulan Biru
FantasyJagad terus bermimpi tentang seorang gadis yang mati dilalap api sambil menuduhnya bersalah. Ia mengira semua itu hanya ilusi, sampai akhirnya benar-benar bertemu Jani di dunia nyata. Hidup, bernapas, tapi sangat membencinya. Di antara ingatan kehid...
