Hari itu kelas XI-2 tidak sedang menunggu takdir, Mereka hanya menunggu jam pelajaran pertama sambil ribut dengan dedikasi penuh, seolah kebisingan adalah mata pelajaran wajib yang akan diujikan di akhir semester. Kursi digeser tanpa rasa bersalah, meja diketuk seperti alat musik tradisional versi gagal, dan kipas angin di langit-langit berderit krek... krek... seperti veteran perang yang dipaksa lembur.
Di depan papan tulis, Jungeun sudah berdiri dengan aura "aku bukan ketua kelas tapi kalau bukan aku siapa lagi yang waras di sini". Tangannya bersedekap, alisnya berkerut, tatapannya menyapu ruangan seperti CCTV sekolah.
"Yang belakang jangan kayak pasar ikan!" serunya, wibawa tipis tapi usaha maksimal.
Mai menoleh dari bangkunya sambil mengunyah permen karet dengan filosofi hidup ngapain serius kalau bisa santai.
"Kita bukan ikan, Jung. Kita lebih ke ayam lepas kandang."
Dari ambang jendela, Koko menimpali tanpa mengangkat kepala dari komiknya. "Ayam sih ayam, tapi nilai akademik kita telor semua."
Kelas tertawa. Jungeun memijat pelipisnya, menyesali hidup tapi tetap bertahan.
Dan di tengah kekacauan yang sudah seperti tradisi turun-temurun itu, pintu kelas terbuka pelan.
Bukan terbuka dramatis. Tidak ada angin masuk membawa daun-daun kering seperti adegan film. Tidak ada musik latar. Hanya satu manusia baru yang masuk dengan langkah hati-hati, seperti takut lantai sekolah ini bisa menilai kepribadiannya dan langsung memberi rating bintang dua.
Sarang berdiri di ambang pintu.
Tasnya digenggam dengan dua tangan seperti pegangan hidup terakhir. Bahunya sedikit menguncup, tubuhnya mengecil bukan karena ukuran, tapi karena kebiasaan. Matanya tidak menatap siapa pun-bukan karena sombong, tapi karena dunia terlalu terang dan ia terlalu lelah untuk menatap balik.
Jungeun langsung menangkap anomali dalam sistem kelasnya.
"Oh, murid pindahan ya?" tanyanya, nada ramah tapi terstruktur, seperti Google Form versi manusia.
Sarang mengangguk kecil.
Mai menyipitkan mata, menilai seperti juri audisi. "Aura introvertnya kuat banget, sumpah."
Saebi, tanpa menoleh dari buku sketsanya, membalas datar, "Mata lo udah sipit, Mai. Ga usah disipitin lagi."
Koko akhirnya mengangkat kepala. "Tipe yang kalau disuruh perkenalan bilang, 'hobi saya bernapas'."
Sarang mendengar. Sarang tahu. Sarang mencatat. Tapi Sarang sudah lama mempelajari satu teknik bertahan hidup paling efektif: diam adalah tameng, reaksi adalah celah.
Ia berjalan menuju kursi paling pojok dekat jendela-zona aman, wilayah kekuasaan kaum "tolong jangan ajak gue ngobrol".
Dan di situlah bencana sosial dimulai.
Kreeet.
Kursi di sebelahnya ditarik dengan semangat yang tidak manusiawi.
"HAI."
Sarang menoleh pelan.
Jeemin.
Makhluk sosial dengan energi tak terbatas, rambut diikat tinggi seperti antena WiFi yang sinyalnya full bar, gelang plastik warna-warni berbunyi tiap gerak, dan senyum yang terlalu lebar untuk jam sepagi ini. Seragamnya rapi... secara niat. Secara hasil, masih kalah sama kepribadian.
"Kenalin, gue Jeemin," katanya cerah, menunjuk dirinya sendiri seperti kandidat presiden OSIS. "Gue orang baik kok, nggak gigit."
Tangannya terulur.
YOU ARE READING
JEE!!
FanfictionSarang pindah sekolah dengan satu harapan sederhana: tidak dikenal siapa-siapa, duduk tenang, lulus, selesai. Hidup damai tanpa interaksi sosial yang tidak perlu. Sayangnya, takdir punya selera humor. Di bangku sebelahnya duduk Jeemin - manusia pali...
