Prolog

34 3 4
                                        

𝓗𝓪𝓹𝓹𝔂 𝓡𝓮𝓪𝓭𝓲𝓷𝓰


Malam selalu punya cara sendiri untuk menyembunyikan luka.
Di bawah lampu jalan yang berkedip lemah, seorang pria berdiri dengan tangan gemetar dan napas berat. Udara dingin bercampur gerimis kecil yang membasahi kota. Di pinggir jalan, ia menghisap sebatang rokok sambil merenung, pandangannya lurus menatap danau yang gelap dan tenang, terlalu tenang untuk pikirannya yang kacau.

Kata-kata ketua saat makan malam masih terngiang di benaknya.

"Ruam, seperti yang kau lihat, aku sudah tua. Aku harap kamu mau menggantikanku memimpin kelompok ini."

Ia menghela napas lirih. Asap rokok keluar perlahan dari bibirnya.
"Kenapa harus aku?" gumamnya pelan. "Dia bicara seolah tak punya orang lain. Ck, belum puas juga dia menyeretku sejauh ini."

Tangannya mengacak rambut kasar, mencoba menenangkan pikiran yang tak kunjung tenang.

Saat hendak kembali ke mobil, kakinya tak sengaja menendang sesuatu. Sebuah buku tua tergeletak di sana.
"Kenapa ada buku di sini?" gumamnya heran.

Ia memungutnya. Buku itu aneh sampulnya polos, tanpa judul, tanpa nama penulis. Halamannya pun tak terisi penuh, bahkan tak sampai setengahnya. Rasa penasaran mendorongnya membuka buku itu di dalam mobil.

Isinya menceritakan seorang anak bernama Rael.

Seorang siswa kelas satu SMA yang hidupnya dipenuhi kesulitan. Ibunya meninggal saat ia masih kecil, sementara ayahnya harus menghadapi konsekuensi atas kekerasan yang pernah ia lakukan. Sejak itu, Rael tinggal di panti asuhan. Namun, tempat yang seharusnya memberi perlindungan justru menjadi sumber luka baru, perlakuan tidak menyenangkan datang dari pengurus maupun anak-anak lain.

Saat berusia sepuluh tahun, Rael diadopsi oleh keluarga sahabat ibunya. Keluarga itu berpengaruh dan berkecukupan. Ia dirawat dengan baik, disekolahkan, dan diberi tempat tinggal yang layak.

Namun kehidupan sekolah tidak seindah yang dibayangkan. Rael sering dipandang rendah karena statusnya sebagai anak adopsi. Hari demi hari ia berusaha bertahan, memendam semua sendirian. Hingga suatu titik, kehilangan besar dalam hidupnya membuat harapannya runtuh. Ia merasa tak lagi memiliki alasan untuk terus bertahan.

Ruam membalik halaman berikutnya.

Kosong.

Ia menghela napas pelan. Tepat saat itu, ponselnya berdering.
"Ya, kenapa, Yo?" katanya.

"Bang, lu di mana? Lu harus ke pelabuhan Ironmouth Port sekarang!" suara Tio terdengar panik.

"Hah?, kenapa sih? Gue baru mau balik," jawab Ruam malas.

"Night Union mau nyerang Ironmouth Port!."

"Hah! Dapet info dari mana lo?" suara Ruam meninggi, jantungnya ikut terpacu.
"Tadi mereka nelpon salah satu anggota. Katanya mau ke sana. Pokoknya lo harus ke sana, sekarang!" Tio hampir berteriak di ujung telepon.

"Tunggu, Yo!. Bilangin anak-anak jangan ke sa—"

Tut!

Sambungan terputus begitu saja.

Ruam menatap layar ponselnya sesaat, rahangnya mengeras.
"Aelah, ni bocah malah main matiin aja," gumamnya lirih.

Mesin mobil meraung memecah malam. Namun setirnya berbelok, menjauh dari arah pelabuhan. Ada sesuatu yang terasa janggal. Ironmouth Port bukan tujuan sebenarnya.

Lima belas menit berlalu dalam kecepatan gila. Saat mobilnya berhenti mendadak di depan rumah ketua, dadanya terasa semakin sesak.

Beberapa mobil asing sudah mengepung rumah itu.

Lampu-lampu menyala terang, bayangan orang bergerak di balik pintu kendaraan. Firasat buruk yang sejak tadi menekan dadanya kini berubah menjadi kenyataan.

"Telat" bisiknya.

Ruam melompat keluar dari mobil. Pistol terangkat, tangannya mantap meski napasnya berat. Letusan pertama memecah malam, disusul suara kaca pecah dan tembakan balasan yang bersahutan. Kekacauan terjadi dalam hitungan detik.

Ia mencoba bergerak, mencari perlindungan, namun rasa nyeri karena cedera lama di lututnya tiba-tiba menyerang. Tubuhnya goyah, langkahnya melambat.

"Sial, jangan sekarang," desisnya.

Suara tembakan terdengar lagi.

Dunia seolah berhenti sesaat. Dadanya terasa panas, tubuhnya terhuyung ke belakang. Pistol terlepas dari genggaman dan jatuh ke tanah dengan bunyi pelan yang terasa begitu keras di telinganya.

Ruam berusaha bertahan, namun kekuatannya terkikis cepat. Pandangannya mengabur, suara-suara berubah jauh dan tak jelas. Dalam detik-detik terakhir itu, wajah ketua terlintas di benaknya, bersamaan dengan buku aneh tanpa judul yang ia temukan malam ini.

'Jadi..., begini akhirnya,' batinnya.

Malam kembali sunyi, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Dan Ruam pun tenggelam bersama gelap.


𝓽𝓸 𝓫𝓮 𝓬𝓸𝓷𝓽𝓲𝓷𝓾𝓮









--------------------------------------------------------------------

Halo para cloudy o((>ω< ))o Terima kasih sudah mau membaca cerita ini. Ini adalah tulisan pertamaku, jadi mungkin masih banyak kekurangan di sana-sini. kalau mau kasih kritik dan saran dipersilahkan yaa.

--------------------------------------------------------------------

--------------------------------------------------------------------

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Mengisi Halaman KosongCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang