Di kedalaman Samudera Atlantik yang paling biru, di dalam istana kristal yang berpendar oleh cahaya ubur-ubur purba, suasana hati sang Raja Laut sedang tidak tenang. Penyebabnya hanya satu: putri bungsunya yang keras kepala, Dravella.
Gadis duyung itu tengah bersimpuh di hadapan singgasana karang ayahnya. Ekor peraknya yang indah bergerak-gerak gelisah, menciptakan pusaran air kecil di sekitarnya. Parasnya yang cantik sedang tertekuk; mata lentiknya berkaca-kaca, pipi chubby-nya menggembung penuh protes, dan bibir merah cerinya mengerucut ke depan.
"Ayah, kumohon! Hanya sekali ini saja. Aku ingin melihat bagaimana rasanya berjalan di bawah cahaya matahari yang mereka sebut hangat itu," rengek Dravella, suaranya terdengar seperti alunan harpa yang sedu.
Sang Raja menghela napas berat, tangannya yang menggenggam trisula tampak gemetar. "Dravella, daratan bukan tempat untuk makhluk sepertimu. Mereka—para manusia itu—memiliki rasa ingin tahu yang kejam. Jika mereka melihat ekormu, mereka akan menyeretmu ke laboratorium, membedahmu, dan menjadikanmu pajangan. Apakah kau mau berakhir di dalam tabung kaca peneliti?"
"Tapi aku akan bersembunyi! Aku akan sangat hati-hati, Ayah!" Dravella mendekat, memeluk lutut ayahnya dengan raut wajah paling memelas yang ia miliki. "Aku bosan hanya melihat bayangan kapal dari bawah sini. Aku ingin melihat bunga, aku ingin melihat kota!"
Melihat kegigihan putrinya yang sudah melampaui batas sabar, sang Raja akhirnya menyerah. Dengan berat hati, ia merogoh sebuah kotak dari kerang tiram emas dan mengeluarkan sebuah kalung. Kalung itu memiliki liontin permata biru laut yang berkilau mistis.
"Pakailah ini," ucap sang Raja tegas. "Ini adalah pusaka kuno. Begitu kau mengenakannya dan keluar dari air, ekormu akan terbelah menjadi dua kaki seperti manusia. Namun dengar peringatanku baik-baik, Dravella: Jangan pernah lepaskan kalung ini. Dan yang paling penting, jangan biarkan setetes air pun menyentuh kulitmu jika kau tidak sedang memakai kalung ini atau berada di laut. Jika kau terkena air tanpa perlindungan sihir ini, kau akan kembali menjadi duyung seketika itu juga. Dan jangan pernah, dalam keadaan apa pun, memberitahu siapapun siapa jati dirimu sebenarnya."
Dravella mengangguk cepat, matanya berbinar kegirangan. Ia segera memakai kalung itu dan mencium pipi ayahnya sebelum melesat pergi menuju permukaan dengan kecepatan penuh.
Dunia yang Keras dan Asing
Begitu kepalanya menyembul di permukaan air dekat pantai yang sepi, Dravella merasa dunianya berubah. Udara yang masuk ke paru-parunya terasa berbeda—lebih ringan dan kering. Perlahan, ia merangkak menuju pasir putih. Saat tubuhnya benar-benar meninggalkan air, cahaya biru memancar dari kalungnya. Sensasi kesemutan yang hebat menjalar di ekor peraknya. Dalam sekejap, sisik-sisik indahnya menghilang, berganti dengan kulit mulus dan dua tungkai panjang yang disebut kaki.
"Wah..." Dravella bergumam takjub. Ia mencoba berdiri, namun langsung tersungkur. "Aduh! Kenapa benda ini sangat letoy?"
Dravella tidak menyerah. Dengan rambut hitam panjang yang basah tergerai menutupi tubuhnya (sebelum ia menemukan kain bekas yang tergeletak di pinggir pantai untuk menutupi dirinya), ia mulai belajar melangkah. Satu langkah, jatuh. Dua langkah, goyah. Namun rasa penasarannya jauh lebih besar dari rasa sakit di lututnya.
Ia terus berjalan, mengikuti suara bising yang berasal dari kejauhan. Tak terasa, ia telah sampai di pinggiran kota metropolitan yang padat. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi seolah ingin menusuk awan. Dravella berjalan di antara kerumunan manusia dengan ekspresi plonga-plongo. Ia takjub melihat kendaraan besi yang berlari cepat dan orang-orang yang sibuk dengan kotak bercahaya di tangan mereka.
Karena terlalu asyik memperhatikan penjual kembang gula yang warnanya sangat cantik, Dravella tidak memperhatikan jalan di depannya. Langkah kakinya yang masih belum stabil membuatnya tersandung keramik trotoar yang tidak rata.
"A-aaaa!" Dravella memekik kecil, tubuhnya limbung ke depan.
DUG!
Bukannya menghantam semen, dahi Dravella justru menabrak sesuatu yang sangat keras dan bidang. Wangi kayu cendana dan aroma cerutu mahal yang sangat maskulin langsung menyerbu indra penciumannya.
"Tuan! Anda tidak apa-apa?" Suara bariton yang dingin dan penuh otoritas terdengar dari atas kepalanya.
Dravella mendongak pelan. Matanya yang bulat dan lentik langsung bertemu dengan sepasang mata tajam sedalam palung laut milik seorang pria yang sangat tampan, namun terlihat sangat berbahaya. Pria itu memiliki rahang yang tegas, rambut hitam yang tertata rapi, dan aura yang membuat orang-orang di sekitar mereka mendadak diam membatu.
Pria itu adalah Kael Vancewood. Sang pemimpin organisasi bawah tanah yang paling ditakuti. Di belakangnya, dua orang pengawal bertubuh kekar menatap Dravella dengan pandangan mengancam, tangan mereka sudah bersiap di balik jas hitam untuk mengambil tindakan.
Dravella, yang sama sekali tidak tahu bahwa ia baru saja menabrak 'malaikat maut' kota itu, malah tetap mematung sambil memegang jas mahal Kael. Ia mengerjapkan matanya, memperhatikan wajah Kael yang terpahat sempurna.
"Eh... maaf," ucap Dravella polos. Ia bukannya takut, malah menyentuh dada Kael dengan jari mungilnya. "Dadamu keras sekali, seperti batu karang di teluk utara. Apa kamu manusia batu?"
Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Para pengawal Kael menahan napas; biasanya, siapapun yang berani menyentuh Kael tanpa izin akan berakhir di rumah sakit atau lebih buruk lagi.
Kael Vancewood menyipitkan mata. Ia menatap gadis kecil yang aneh ini—parasnya sangat cantik, dengan pipi yang tampak empuk untuk dicubit dan bibir merah yang menggoda. Ada kepolosan yang begitu murni di matanya, sesuatu yang tidak pernah Kael temukan di dunia gelapnya.
Bukannya marah, Kael justru merasakan ketertarikan yang aneh. Sesuatu di dalam dirinya yang sedingin es seolah mencair melihat ekspresi bingung gadis itu.
Kael meraih pergelangan tangan Dravella, tidak dengan kasar, melainkan dengan cengkeraman yang posesif. "Menabrakku dan memanggilku batu?" Kael berbisik dengan suara rendah yang menggetarkan. "Kau punya nyali yang besar, Gadis Kecil. Atau kau memang terlalu bodoh untuk tahu siapa aku?"
Dravella hanya memiringkan kepalanya, rambut hitamnya jatuh menutupi bahu. "Aku Dravella. Dan aku baru pertama kali ke sini. Memangnya kamu siapa? Apa kamu raja di sini?"
Kael sedikit menyeringai—sebuah pemandangan langka yang membuat para pengawalnya nyaris pingsan karena terkejut. "Ya, bisa dibilang begitu. Dan karena kau sudah menabrakku, kau harus ikut denganku. Aku tidak suka urusanku terganggu tanpa kompensasi."
Tanpa menunggu jawaban, Kael menarik Dravella menuju mobil hitam mewahnya, membiarkan sang putri duyung memasuki dunia kegelapan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
YOU ARE READING
The Mermaid's Eternal Promise
Fantasy⚠️⚠️❗DISCLAIMER:⚠️❗ ini bukanlah dongeng biasa tentang putri duyung yang kamu kenal. Di sini, cinta tidak diukur dari berapa lama mereka bersama, tapi dari seberapa jauh seseorang rela bertindak demi menjaga keamanan orang yang dicintainya. Akhir ce...
