Adult territory!!! 🔞
Hana Maheswari Cho ( 23 ),adalah jurnalis tangguh yang berjuang di kerasnya London demi adiknya di Seoul. Namun, sebuah liputan pembunuhan di Epping Forest mengubah hidupnya menjadi mimpi buruk yang indah.
Dia tidak lagi menge...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
BRAKK!!!
Suara gebrakan meja kayu menggema, memutus kebisingan mesin tik dan percakapan telepon di ruang terbuka. Beberapa staf magang tersentak, nyaris menjatuhkan tumpukan dokumen mereka.
"SEPULUH JUTA POUNDS!"Teriak Pria Expired Itu Penuh Amarah.
Hana Maheswari Cho berdiri mematung di tengah ruangan yang luas itu. Di sampingnya, Sarah sahabat sekaligus fotografer setianya,menunduk begitu dalam hingga dagunya nyaris menyentuh tali kamera Canon yang melingkar di lehernya.
Hana, sebaliknya, tetap tegak. Darah Koreanya memberinya ketenangan yang dingin, darah Balinya memberinya ketangguhan, dan didikan keras di New York memberinya keberanian untuk tidak berpaling dari amarah.
"Sepuluh juta pounds adalah nilai kerugian dari kebakaran di penthouse milik putra mahkota pop Inggris semalam!" Mr. Henderson, sang editor kepala, berdiri dengan wajah yang nyaris berwarna ungu tua.
Pria bertubuh tambun itu melemparkan edisi cetak saingan mereka, The London Sun, ke atas meja. "Dan lihat ini! Mereka punya foto eksklusif sang bintang yang sedang dievakuasi hanya dengan handuk! Mereka punya kutipan langsung dari petugas pemadam kebakaran! Sedangkan kalian?!"
Henderson melangkah mendekati Hana, napasnya yang berbau cerutu murah menerpa wajah cantik gadis itu. Hana tetap bergeming, meski ia bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu.
"Kami sudah berada di sana, Sir. Tapi polisi menutup akses lima blok sebelum lokasi kejadian," Hana mencoba membela diri, suaranya tetap stabil dan jernih. "Keamanan sangat ketat, dan—"
"KEAMANAN?!" potong Henderson dengan tawa meremehkan yang menyakitkan.
"Hana, kau punya tubuh yang bisa membuat pria mana pun di gedung ini memberikan kunci rumah mereka secara sukarela. Kau punya otak yang seharusnya bisa memikirkan seribu cara untuk memanjat pagar atau menyelinap lewat saluran pembuangan! Tapi apa yang kau bawa pulang? Foto asap dari jarak dua kilometer! Kau pikir aku sedang mengelola majalah tentang meteorologi?!"
Sarah mencoba angkat bicara dengan suara bergetar, "Mr. Henderson, itu berbahaya. Ada ledakan gas kecil saat kami mencoba mendekat, polisi mengancam akan menyita kamera kami—"
"DIAM KAU, SARAH! Tugasmu hanya memencet tombol, bukan memberi kuliah keselamatan kerja!" Henderson berbalik kembali ke mejanya, mengacak-acak rambutnya yang menipis dengan frustrasi.
"Kalian tahu berapa banyak biaya yang aku habiskan untuk operasional kalian? Dan kalian hanya memberiku sampah yang bahkan tidak layak jadi alas kandang anjing."Henderson duduk di kursi kulitnya yang berderit, menatap Hana dengan tatapan yang lebih dingin.
"Ma'afkan Saya,Sir. Saya Janji Lainkali Tidak Akan Lalai Lagi." Ucap Hana Dg Nada Bersalah.
"Hana, aku tahu situasimu. Aku tahu kau punya adik laki-laki di Seoul yang biaya kuliah kedokterannya setara dengan harga satu unit mobil mewah setiap semesternya. Aku tahu kau bekerja lembur sampai matamu merah hanya untuk mengirim sisa gajimu ke Korea agar adikmu bisa makan. Tapi aku bukan yayasan amal."