chapter 1

7 2 0
                                        

Pertama kali aku mendengar tentang dia, saat aku sedang rebahan di kamar, menatap layar ponsel tanpa tujuan. Jari-jariku hanya sibuk scrolling, sementara rasa bosan perlahan menumpuk.

Tak tahan dengan suasana itu, aku memutuskan keluar rumah, sekadar mencari udara.

Saat berada di luar, tanpa kusadari pandanganku tertuju pada seorang lelaki. Tubuhnya tinggi, wajahnya tampan. tipe yang membuat orang refleks menoleh dua kali.

“Siapa dia?” tanyaku dalam hati, penasaran.

Namun aku cepat-cepat menepis perasaan itu, seolah tak ingin berharap apa-apa, lalu kembali masuk ke dalam rumah.

Keesokan harinya, aku harus menjaga toko karena ibu sedang pergi. Hari itu berjalan seperti biasa, melayani pembeli, menghitung uang, dan sesekali melamun di sela kesibukan.

Hingga akhirnya, dua lelaki datang
menghampiri. Salah satunya terasa familiar. Dan benar saja, bersama dia berdiri lelaki yang kulihat kemarin.

“Mau beli apa, Bang?” tanyaku sambil tersenyum.

“Ini… ada pulsa, nggak?”

“Ada. Nomornya berapa?”

“08*******”

Setelah pulsa terkirim, kupikir mereka akan langsung pergi. Tapi lelaki itu yang  kutahu bernama Alex justru berhenti sejenak. Ia menoleh ke samping, lalu tersenyum kecil.

“Eh, kenalin” katanya, “ini Malvin, adik abang.”

Dan entah kenapa, sejak saat itu, hari yang tadinya biasa saja terasa sedikit berbeda.

Aku mengangguk kecil, sedikit canggung.
“Oh… iya” jawabku sambil melirik lelaki di samping Alex. “Kenalin, aku zea .."

“Malvin” potongnya pelan sambil tersenyum, “ salam kenal.”

Aku sempat terdiam sepersekian detik. Senyumnya sederhana, tapi entah kenapa membuat suasana jadi berbeda.
“Iya… salam kenal juga” balasku akhirnya.

Alex terkekeh kecil melihat kami yang sama-sama kikuk.
“Ini adik abang, baru datang dari luar kota” katanya santai.

Malvin mengangguk. “Katanya tokonya rame.”

Aku tersenyum tipis. “Lumayan. Kalau lagi sepi, ya cuma aku.”

Malvin tertawa pelan. “Berarti sekarang nggak sepi dong.”

Aku terkejut kecil mendengarnya, lalu buru-buru menunduk pura-pura merapikan barang di meja.
“Iya… mungkin” jawabku singkat.

Setelah itu, suasana mendadak hening sebentar. Alex melirik jam tangannya.
“Yaudah, Vin, kita jalan dulu.”

“Oh… iya” ucapku refleks, sedikit kecewa tanpa alasan yang jelas.

Sebelum pergi, Malvin menoleh lagi.
“Besok tokonya buka lagi?” tanyanya.

“Iya” jawabku cepat.

“Kalau gitu… sampai ketemu lagi” katanya.

Aku mengangguk, memperhatikan punggung mereka menjauh. Dan saat itu juga, aku sadar, rasa penasaran yang kemarin kutepis, ternyata belum benar-benar pergi.

Malamnya, setelah toko ditutup dan ibu belum juga pulang, aku kembali rebahan di kamar. Posisi sama. Layar ponsel sama. Tapi rasanya… berbeda.

Pikiranku terus kembali ke satu nama.

Malvin.

"Ah, lebay" gumamku pelan sambil membuka ponsel.
Entah kenapa jariku malah membuka TikTok. Awalnya cuma niat iseng, sekadar scrolling seperti biasa. Tapi setelah beberapa video berlalu, aku berhenti.

Aku mengetik di kolom pencarian:
malvin

Hasilnya tentu terlalu umum. Banyak. Terlalu banyak. Aku mendengus kecil.

“Malvin aja sih namanya” pikirku.

Aku ingat lagi perkataan Alex: adik abang, baru datang dari luar kota.
Lalu entah dorongan dari mana, aku menambahkan kata kota di belakangnya. Masih acak. Tapi kali ini aku lebih teliti, melihat foto profil satu per satu.

Sampai akhirnya aku berhenti di satu akun.

Foto profilnya sederhana. Cuma siluet seseorang berdiri di pinggir jalan saat senja. Tapi entah kenapa… rasanya klik.

Aku membuka akunnya.

Followers-nya nggak terlalu banyak. Bio-nya singkat.
Dan di video teratas, aku langsung membeku.

Itu dia.

Rambutnya sama. Senyum kecil itu sama. Bahkan jaket yang dia pakai di video itu terlihat mirip dengan yang tadi siang ia kenakan.

“Ya ampun…” bisikku tanpa sadar.

Aku menonton videonya satu per satu.
Video random, jalan sore, kopi di pinggir jalan, langit malam, dan sesekali wajahnya muncul sekilas di kamera. Nggak lebay. Nggak sok keren. Tapi justru itu yang bikin aku betah.

Tanpa berpikir panjang, jariku menekan tombol follow.

Beberapa detik kemudian, notifikasi muncul.

Malvin followed you back.

Aku refleks duduk.

“HAH?”

Jantungku langsung berdebar nggak karuan.
Aku menatap layar seolah berharap tulisan itu berubah jadi ilusi. Tapi tetap di sana.

Aku buru-buru mematikan layar ponsel, lalu menelungkupkan wajah ke bantal.

“Tenang, Zea. Tenang. Dia cuma follow balik” kataku pada diri sendiri, walau detak jantungku sama sekali nggak setuju.

Beberapa menit kemudian, aku memberanikan diri membuka ponsel lagi.
Tak ada pesan. Hanya notifikasi yang sama.

Aku menatap layar lama.
Lalu tersenyum kecil, tanpa sadar.

Malam itu, sebelum tidur, satu hal terlintas di pikiranku.

Besok toko pasti buka seperti biasa.
Dan entah kenapa… aku berharap Malvin benar-benar menepati ucapannya.

“Sampai ketemu lagi.”

ETCHED IN MY MEMORYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang