[Boboiboy Elemental Arc]
Luasnya angkasa raya selalu memiliki cara tersendiri untuk membuat siapa pun merasa kecil. Di balik jendela kaca reinforced kapal angkasa TAPOPS, jutaan bintang tampak seperti debu berlian yang ditabur di atas kain beludru hitam. Hening. Tenang.
Namun, ketenangan di luar sana berbanding terbalik dengan suasana hangat di ruang rekreasi kapal.
Suara tawa, gerutuan, dan bunyi kartu yang dibanting ke meja mengisi udara.
"Ha! Makan ni! Draw four!" Gopal membanting kartu berwarna merah dengan semangat berapi-api, wajahnya penuh kemenangan. "Rasakan pembalasan Dendam Kesumat Gopal!"
Ying, yang duduk di seberangnya, hanya memutar bola mata malas. Dengan gerakan kilat-yang bahkan nyaris tak terlihat mata biasa-dia menumpuk dua kartu tambahan di atas kartu Gopal.
"Haiya, lu jangan mimpi lah, Gopal. Uno Game!" seru Ying sambil menyeringai. "Satu kad lagi, dan aku menang!"
"DEY! Mana aci macam tu! Kau guna Kuasa Masa ke tadi?!" Gopal protes keras, tangannya mengacak-acak rambut kribonya frustrasi.
Di sudut ruangan yang lebih tenang, Yaya duduk bersila di atas sofa empuk. Di pangkuannya, seekor kucing-bukan, makhluk mirip kucing tapi berkulit hijau berduri halus-sedang mendengkur nyaman. Cactus, peliharaan unik dari Planet Gurunda itu, menggeliat senang saat jari Yaya mengelus bagian kepalanya yang tidak berduri.
"Alolo... comelnya dia tidur..." gumam Yaya pelan, senyum manis tersungging di bibirnya.
Dia sesekali melirik ke arah kokpit, di mana Fang duduk tegak dengan headset di telinga, fokus penuh mengendalikan kemudi kapal menuju koordinat B-77-Bumi.
Dan di dekat pantry dapur yang terbuka, aroma harum rempah-rempah menyeruak. Wangi yang familier, hangat, dan menggugah selera.
Boboiboy duduk di bangku bar dapur, menopang dagu dengan kedua tangan. Topi oranyenya yang ikonik sedikit miring, menampilkan ekspresi wajah yang tampak damai, meski ada guratan lelah yang samar di bawah matanya.
Di depannya, Qually-koki TAPOPS-sedang sibuk memotong sayuran antariksa yang warnanya ungu neon dengan pisau dapur kesayangannya.
"Kau tahu, Qually," Boboiboy membuka percakapan, suaranya terdengar agak serak tapi lembut. "Aku selalu heran. Kenapa kau suka sangat memasak? Maksud aku... kita kan di angkasa. Cukup makan biskuit nutrisi atau ration bar TAPOPS je dah kenyang."
Qually berhenti memotong. Dia menoleh, mengacungkan wortel ungu itu ke arah Boboiboy seperti seorang guru yang memegang tongkat penunjuk.
"Ish, ish, ish. Boboiboy, Boboiboy," decak Qually, menggelengkan kepalanya dramatis. "Makanan tu bukan sekadar untuk kenyang, tahu! Memasak tu... seni. Ia macam kau belajar bahasa alam semesta."
Boboiboy mengerutkan kening, tapi tersenyum geli. "Bahasa alam semesta? Macam mana tu?"
"Tengok ni," Qually mengangkat sebutir buah bulat berwarna merah menyala yang permukaannya sedikit bergetar. "Ini Beri Magma dari Planet Volkania. Kalau kau salah potong, dia meletup. Kalau kau potong ikut urat dia, rasanya manis pedas yang boleh hangatkan badan waktu musim sejuk."
Qually mulai mengiris buah itu dengan presisi tinggi.
"Bila aku belajar masak," lanjut Qually, nadanya berubah lebih bijak, "aku bukan cuma belajar resipi. Aku belajar pasal tanah tempat dia tumbuh, iklim planet tu, dan siapa yang menanamnya. Memasak tu cara aku menghormati setiap planet yang kita singgah. Kau faham tak?"
Boboiboy tertegun. Dia menatap potongan buah di tangan Qually. Kata-kata itu... entah kenapa, beresonansi aneh di dadanya. Menghormati asal-usul. Memahami karakteristik.
YOU ARE READING
Boboiboy Elemental Arc
Fanfiction[A Fanfiction Of Boboiboy Elemental Arc] Cerita ini dimulai saat Boboiboy berhasil mencapai tahap ketiga dari ketujuh elemennya, namun itu semua baru permulaan. Satu tubuh manusia tidak akan pernah cukup untuk menampung tujuh kekuatan setara dewa...
