Presenting
«===========»
«“The Crown“»
-----------------
°
°
°
«Happy reading »
Sebelum Mahkota Dipakai
Sejarah selalu menulis kemenangan.
Ia jarang menulis harga yang dibayar untuk itu.
Di aula arsip kekaisaran, nama Therion terukir paling besar. Kaisar penakluk. Singa Besi. Pria yang menyatukan benua dengan pedang dan sumpah. Begitu kata buku-buku tua yang dijaga ketat, dibacakan dengan suara khidmat, dan dipercaya tanpa banyak tanya.
Tak ada yang menulis tentang malam-malam sunyi setelah perang.
Tak ada yang mencatat berapa banyak keputusan yang diambil tanpa tidur.
Atau berapa banyak wajah yang terus datang dalam mimpi, bahkan setelah kemenangan dirayakan.
Mahkota kekaisaran selalu disebut sebagai simbol persatuan. Logamnya tua, ukirannya kasar, dan singa yang terpatri di depannya menatap lurus ke depan-seolah menantang siapa pun yang berani memakainya. Setiap kaisar memakainya saat dunia berada di ambang kehancuran. Dan setiap kali itu terjadi, kekaisaran menang.
Selalu menang.
Tapi ada pola yang jarang dibicarakan dengan suara keras.
Setelah mahkota itu dikenakan, tidak ada kaisar yang benar-benar kembali menjadi manusia seperti sebelumnya.
Sebagian menjadi dingin. Sebagian menjadi kejam. Sebagian mati terlalu cepat.
Therion... menjadi legenda yang tak pernah selesai.
Rakyat mengenang eranya sebagai masa kejayaan. Jalan-jalan aman. Perbatasan kokoh. Musuh takut menyebut nama kekaisaran. Namun di balik patung-patung besar dan lagu kemenangan, ada bisikan yang hanya berani terdengar di lorong gelap dan doa malam.
Bahwa mahkota itu tidak memberi perintah.
Ia hanya menghapus keraguan.
Dan dunia, ketika dipimpin tanpa keraguan, selalu berdarah.
Pada malam terakhirnya, sebelum ajal menjemput, Therion menolak semua tabib. Ia juga menolak semua doa. Yang ia minta hanya satu: ruangan kosong, tanpa saksi. Mahkota diletakkan jauh darinya, seolah ia tidak ingin melihatnya lagi.
Konon, ia tertawa pelan sebelum fajar. Bukan tawa kemenangan. Lebih seperti seseorang yang akhirnya mengerti sesuatu-terlambat.
Keesokan paginya, kekaisaran bersiap menyambut penerus.
Putra mahkota.
Anak tunggal.
Seorang pemuda yang dibesarkan untuk memerintah, tapi tidak pernah diajari bagaimana caranya hidup.
Ia tahu cerita tentang ayahnya. Semua orang tahu. Yang tidak ia tahu adalah bagian yang hilang dari cerita itu-bagian yang tidak pernah ditulis, tidak pernah dinyanyikan, dan sengaja dilupakan.
Mahkota tidak memilih orang baik.
Ia memilih orang yang tidak bisa menolak.
Dan ketika dunia kembali terbakar, ketika gerbang runtuh dan sumpah kehilangan arti, mahkota itu akan kembali diangkat dari bantalan hitamnya. Bukan untuk menyelamatkan semua orang.
Hanya untuk memastikan kekaisaran tetap berdiri.
Apa pun harganya.
~To be continued ~
YOU ARE READING
The Crown
FantasyPutra mahkota Kekaisaran lahir dengan satu takdir yang tidak pernah bisa ia tolak: mewarisi mahkota... dan semua dosa yang menyertainya. Ketika Kaisar Therion wafat di tengah kekacauan perang, takhta jatuh ke tangan anak tunggalnya-seorang pemuda ya...
