Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

1

9.2K 383 23
                                        

Kericuhan memecah pagi yang bening dengan berbagai umpatan dan dentingan benda tajam. Bukan rahasia umum lagi jika SMA Nuri dan SMA Cendrawasih adalah musuh bebuyutan sejak jaman dahulu kala. Ada saja hal-hal tidak penting yang membuat kedua sekolah itu berakhir tawuran. Bukan hanya sekali dua kali juga para anak murid itu berakhir di Kantor Polisi. Tapi, jika ditanya apa mereka tobat? Jawabannya tidak sama sekali.

"CUPU LO KIDS!"

"WOY BAJINGAN! MENTAL TEMPE!"

"NYALI PATUNGAN GOBLOK!"

"JANGAN KABUR LO ANJING!"

"SOK JAGO NAJIS!"

Begitulah kira-kira kata-kata yang mengudara pagi ini.

Keano Ravindra, si pentolan SMA Nuri yang namanya kerap disebut sebagai bahan gosip. Bukan karena ia punya prestasi yang banyak, tapi karena baru saja duduk di kelas X tapi anak itu sudah menjadi langganan BK karena terlalu banyak membuat onar. Dan sekarang adalah hari pertamanya duduk di kelas XI tapi ia memilih mengawali paginya bukan dengan sarapan, melainkan tawuran.

Ia berdiri paling depan, tongkat baseball mengayun indah dari tangannya. Dasi abu-abu yang seharusnya digunakan di leher, kali ini berpindah tempat sebagai pengikat kepala untuk menahan rambutnya yang basah oleh keringat. Di sudut Keano terdapat lebam yang menurut prinsipnya adalah simbol kejantanan.

Beberapa siswi yang baru saja lewat menjerit ketakutan, ada juga yang harus memutar arah karena tidak ingin ikut terlibat.

“MAJU SINI LO!” Keano berteriak, tongkatnya menghantam bahu lawan hingga terdengar bunyi tumpul.

Seorang anak Cendrawasih terhuyung, disambut sorakan.

“Gas, No!”

“Hajar sekalian!”

Keano menyeringai. Dadanya naik turun, adrenalin memompa darah lebih kencang dari biasanya. Dunia rasanya sempit—cuma ada dia, tongkat di tangannya, dan musuh di depan mata.

Di sudut lain, mulut pemuda yang sedang mengunyah rambutan hasil curiannya di belakang gudang sekolah itu terhenti mendengar keributan dari sebelah pagar tembok. Ia mengintip dari celah pagar yang mulai retak untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Dan di sanalah ia melihatnya, puluhan siswa saling dorong, ada tongkat, batu berserakan dan saling memberi bogem mentah.

Di tengah semua itu, si Keano Ravindra, jelas paling mencolok. Meskipun tidak pernah bersinggungan secara langsung, tapi ia jelas sangat kenal siapa Keano Ravindra. Anak itu yang selalu di banding-bandingkan dengannya dalam hal keburukan. Bahkan, jika orang luar mendengar nama SMA Nuri mereka akan langsung berpikir "Tempat sekolah dua berandalan kecil Sean dan Keano."

Pemuda ber-name tag Sean Axelle itu berdecak kecil.

“Pagi-pagi ribut amat.”

Matanya turun ke selang hijau panjang yang tergeletak di dekat pot tanaman. Ia tersenyum tipis lalu memanjat pohon rambutan yang lumayan tinggi hingga keributan terlihat jelas dari atas sana.

Tanpa aba-aba ia membuka keran hingga semburan air menyapu gang sempit yang menjadi pemisah antara SMA Nuri dan SMA Cendrawasih.

“ANJIR!”

“WOY APAAN INI?!”

Air menghantam kepala, wajah, dan badan anak-anak yang sedang panas-panasnya. Dasi berubah jadi lap basah. Rambut klimis jadi lepek. Tongkat baseball Keano licin di genggaman.

Keano refleks menoleh ke atas dan tepat saat mata mereka bertemu, Sean berdiri di atas pohon rambutan, selang di tangan, dan wajah datar tanpa dosa sedangkan mulutnya masih sibuk mengunyah rambutan.

Classmate Stories to obsess over. Discover now