Siang itu udara terasa pengap, meski jarum jam masih menunjukkan pukul dua belas kurang seperempat. Di dalam kamarnya yang remang, Yura terbangun dengan napas sedikit tersengal, seolah ada sesuatu yang tiba-tiba mencubit kesadarannya dari balik mimpi.
Matanya terbuka lebar.
“Astaga…” gumamnya pelan sambil bangkit setengah duduk. Keningnya berkerut, berusaha mengingat potongan pikiran yang barusan menyergapnya. “Kok gue bisa lupa sih… untung masih jam segini.”
Tanpa menunda lebih lama, Yura segera menyingkap selimut, meraih hoodie tipis yang tergantung di kursi, lalu melangkah keluar kamar. Rumah terasa sunyi, hanya suara detak jam dinding yang menemani langkah kakinya. Ia mengambil kunci dan bergegas keluar, menembus siang yang ramai akan kendaraan.
Di atas motor, angin dan debu jalanan menerpa wajahnya. Sepanjang jalan, Yura tak henti-hentinya bergumam, seolah sedang berdoa pada semesta.
“Duh, semoga aja tokonya belum tutup. Tolong banget…”
Toko itu akhirnya terlihat dari kejauhan. Hatinya sedikit lega saat mendapati rolling door masih setengah terbuka.
“Alhamdulillah…” bisiknya.
Yura langsung masuk ke dalam, langkahnya cepat menyusuri rak demi rak. Matanya bergerak gesit, mencari barang yang sejak tadi menghantuinya. Beberapa menit kemudian, wajahnya berbinar saat benda itu akhirnya berada dalam genggamannya.
“Untung masih ada,” ucapnya lega. “Coba aja kalau nggak ada, gue pasti bingung mau nyari ke mana lagi.”
Ia pun melangkah ke kasir dan berdiri di antrean. Toko itu tidak terlalu ramai, hanya beberapa orang yang sibuk dengan urusan masing-masing. Saat itulah, tanpa sengaja, perhatian Yura tertarik pada sosok yang baru saja masuk.
Seorang pemuda bertubuh tinggi dengan rahang tegas dan sorot mata dingin melangkah masuk ke toko. Penampilannya sederhana, namun entah kenapa aura yang dibawanya membuat Yura sulit mengalihkan pandangan. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Tanpa sadar, sudut bibir Yura terangkat, membentuk senyum tipis.
Namun saat ia hendak melirik kembali, sosok itu sudah berdiri tepat di belakangnya. Terlalu dekat. Terlalu tiba-tiba.
Pemuda itu berdiri dengan wajah datar, nyaris tanpa ekspresi, seolah dunia di sekitarnya tak menarik sedikit pun perhatiannya. Bahkan ia tak melirik Yura sama sekali.
“Kenapa deg-degan sih, Yura…” batinnya kesal sendiri.
Yura segera menghadap ke depan, mencoba menenangkan diri. Detak jantungnya masih belum mau diajak kompromi.
Beberapa menit kemudian, gilirannya tiba. Setelah membayar, Yura langsung melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang. Ia tak tahu kenapa, tapi ada perasaan aneh yang membuatnya ingin segera menjauh.
Di perjalanan pulang, wajahnya cemberut.
“Dih, cuek banget,” gumamnya kesal. “Kayak kulkas dua pintu.”
Sesampainya di rumah, aroma masakan langsung menyambutnya. Di dapur, mamahnya—Bianca—tampak sibuk mengaduk masakan di atas kompor. Wanita itu terlihat rapi seperti biasa, dengan rambut terikat sederhana dan ekspresi serius yang hampir selalu menghiasi wajahnya.
“Mamahhh, Yura pulanggg,” seru Yura sambil mendekat lalu duduk di bangku dapur. “Mamah masak apa?”
Bianca menoleh sekilas, senyum tipis muncul di wajahnya. “Masak ayam, sayang. Kamu habis dari mana?”
“Habis keluar, Mah. Ada yang harus dibeli.”
Bianca mengangguk. “Yaudah, habis ini kamu makan ya. Mamah ada keperluan mendadak di kantor.”
YOU ARE READING
DUNIA HALU
Teen FictionPROLOG Pagi itu, sekolah terasa seperti biasa-lonceng berdenting, langkah kaki bergegas, dan suara tawa saling bersahutan di koridor. Namun, bagi Yura, hari itu adalah awal dari sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di balik seragam p...
