BAB 1

6.4K 254 3
                                        


Aspal dingin itu terasa seperti memeluk tubuh Elvina Lovania Serenity untuk terakhir kalinya. Di tengah guyuran hujan badai, sang CEO sukses yang dikenal bertangan dingin itu terbaring bersimbah darah. Pengkhianatan musuh bisnisnya berakhir pada sebuah kecelakaan maut.

Sialan, batin Elvi saat kesadarannya mulai meredup. Aku belum sepenuhnya menghancurkan mereka.

Namun, kematian yang ia harapkan membawa ketenangan justru membawanya ke sebuah ruang putih hampa. Sebuah suara mekanis yang dingin bergema, memperkenalkan diri sebagai "Sistem". Elvi diberikan sebuah misi: masuk ke dunia novel berjudul Lovely Harmony dan menaklukkan tiga target pria sebelum sang protagonis wanita, Aletta, melakukannya.

"Menaklukkan pria?" Elvi menyeringai di tengah kekosongan itu. "Itu lebih mudah daripada memanipulasi pasar saham."

[SINKRONISASI JIWA BERHASIL...]

[MEMASUKI TUBUH: ELVINA QUEENZY CARLEONE]

[LOKASI: KANTIN HIGH INTERNATIONAL SCHOOL]

BYUR!

Bau kuah soto yang berminyak dan panas menyengat indra penciuman Elvi saat ia pertama kali membuka mata di tubuh barunya. Hal pertama yang ia lihat adalah ubin kantin yang kotor dan sepasang sepatu branded yang berdiri angkuh di depan wajahnya.

"Woy, cupu! Bangun gak lo?! Jangan akting mati deh!" suara melengking itu milik Clarissa, sang ratu perundung sekolah.

Elvi terdiam, memproses aliran memori yang masuk paksa ke kepalanya. Elvina Queenzy Carleone—gadis malang yang menyembunyikan identitasnya sebagai anak mafia demi hidup tenang, tapi justru berakhir menjadi samsak tinju di sekolah.

"Heh, bisu ya lo?" Clarissa menjambak rambut Elvi, memaksanya mendongak. "Mana uang setoran lo? Gara-gara kacamata butut ini mata lo jadi makin burem ya?"

Antek-antek Clarissa tertawa keras. Di pojok kantin, para siswa hanya menonton dengan tatapan kasihan namun tak berani bertindak. Elvi menarik napas panjang. Rasa sakit ini? Baginya, ini hanya seperti gigitan nyamuk dibandingkan latihan keras yang ia terima dari kakeknya dulu.

Tatapan mata Elvi berubah. Tidak ada lagi ketakutan di sana, yang ada hanyalah kedinginan sedalam samudera.

"Lepas," ucap Elvi datar.

Clarissa melongo, lalu tertawa mengejek. "Apa? Lo nyuruh gue lepas? Wah, makin berani ya lo semenjak—"

KRETAK!

"ARGHHH!" Clarissa menjerit histeris saat Elvi mencengkeram pergelangan tangannya dan memelintirnya dengan gerakan teknis yang sangat cepat.

Elvi bangkit berdiri dengan tenang. Meski seragamnya basah kuyup, aura dominannya mendadak mengintimidasi seisi kantin.

[SISTEM: SKILL 'MANIPULATIVE AURA' AKTIF. TEKANAN MENTAL SEKITAR MENINGKAT 20%.]

"Dengar ya, sampah," bisik Elvi di telinga Clarissa yang kini gemetar. "Aku tidak peduli seberapa kaya orang tuamu. Tapi kalau kau menyentuhku lagi... aku akan pastikan tangan ini tidak akan pernah bisa memegang sendok lagi. Paham?"

Elvi menghempaskan tangan Clarissa hingga gadis itu jatuh terduduk. Elvi kemudian mengambil kacamata tebalnya yang jatuh di lantai, lalu dengan sengaja menginjaknya hingga hancur berkeping-keping.

Tiba-tiba, suasana kantin menjadi hening luar biasa. Tiga pemuda paling berpengaruh di sekolah itu masuk ke area kantin.

[TARGET DETECTED:]

1. Xavier Alexander Dewa (Pewaris Tambang - Si Dingin)

2. Nathaniel Gio Alfano (Ketua OSIS - Si Manipulatif)

3. Calvin Arsha Sebastian (Atlet Voli - Si Ceria)

Elvi tidak menunduk. Ia justru menatap mereka satu per satu dengan tatapan menilai, seolah mereka hanyalah komoditas bisnis yang perlu dikelola.

Nathaniel Gio Alfano, sang Ketua OSIS, melangkah maju dengan senyum formal yang selalu ia gunakan untuk memikat massa. Namun, matanya yang tajam mengamati kekacauan di lantai.

"Ada apa ini? Vina, kamu tidak apa-apa?" tanya Nathaniel lembut, namun Elvi bisa merasakan ambisi dan kepalsuan di balik nada suara itu.

Elvi tidak menjawab. Ia hanya membersihkan noda di seragamnya dengan gerakan elegan yang tidak mencerminkan seorang gadis "cupu".

"Jalan ini terlalu sempit karena terlalu banyak orang sombong yang berdiri di sini," ucap Elvi dingin sambil melangkah melewati Nathaniel begitu saja, bahkan ia sengaja menyenggol bahu Xavier Alexander Dewa dengan keras.

Xavier, yang biasanya tidak peduli pada sekitar, berhenti di tempatnya. Ia menoleh, menatap punggung Elvi dengan alis bertaut. Tak ada seorang pun di sekolah ini yang berani menyenggolnya, apalagi tanpa meminta maaf.

"Dia... siapa?" tanya Xavier pendek, suaranya berat dan penuh penekanan.

Calvin, sang atlet voli, hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Itu Vina, kan? Tapi... kok beda banget? Biasanya dia kalau lihat kita langsung sembunyi di balik tembok."

[NOTIFIKASI SISTEM: TINGKAT KETERTARIKAN XAVIER NAIK 5%. NATHANIEL MULAI MERASA PENASARAN.]

Sementara itu, di pintu masuk sekolah, seorang gadis cantik dengan aura cerah baru saja tiba. Aletta Viola Maheswari. Sang protagonis wanita asli telah datang. Namun, perhatian yang seharusnya tertuju penuh padanya, kini terbagi karena gosip tentang "perlawanan Vina" yang menyebar seperti api di hutan.

LOKASI: KELAS XI-IPA 1

Elvi duduk di bangku paling belakang, mengabaikan bisik-bisik teman sekelasnya. Ia sedang asyik memperhatikan jendela status yang hanya bisa dilihat olehnya.

[NAMA: ELVINA QUEENZY CARLEONE]

[IDENTITAS RAHASIA: PUTRI MAFIA (CHANCE OF REVEAL: 5%)]

[POIN: 50]

Pintu kelas terbuka. Nathaniel masuk mengantar Aletta, sang siswi baru. Seluruh kelas gaduh mengagumi kecantikan Aletta yang tampak seperti malaikat. Namun, mata Nathaniel secara insting mencari sosok di pojok belakang.

Setelah sesi perkenalan, Nathaniel berjalan menghampiri meja Elvi. Ia menumpukan tangannya di meja, menghalangi pandangan Elvi ke depan.

"Vina, perbuatanmu di kantin tadi... Clarissa masuk UKS karena trauma ringan. Kamu tahu kan aku harus mencatat ini sebagai pelanggaran?" Nathaniel berbisik dengan nada mengancam yang dibungkus keramahan.

Elvi meletakkan pulpennya, mendongak, dan menatap Nathaniel tepat di manik matanya. "Catat saja. Sekalian catat berapa kali dia merundung siswa lain dan kau hanya diam menonton sebagai Ketua OSIS yang 'baik'. Bukankah itu namanya kelalaian jabatan, Nathaniel?"

Nathaniel tersentak. Senyumnya goyah. Gadis di depannya ini bukan lagi Vina yang mudah diinjak. Kata-katanya tajam, sistematis, dan langsung menyerang titik lemahnya.

"Gue suka gaya lo yang sekarang," Nathaniel mengubah gaya bahasanya menjadi lebih santai, menunjukkan ketertarikan yang mulai tumbuh menjadi obsesi. "Jangan harap lo bisa lepas dari pengawasan gue."

Tepat setelah Nathaniel pergi, sebuah bola voli meluncur masuk melalui jendela dan mendarat tepat di sebelah tangan Elvi.

"Wops! Miss dikit!" Calvin muncul di balik jendela dengan cengiran lebar. "Eh, cewek pemberani! Lo oke? Gue lihat tadi si Nathaniel kayaknya lagi mau 'makan' lo ya?"

Elvi menatap bola voli itu, lalu menatap Calvin. "Ambil bolamu, atau aku akan memastikan bola ini tidak akan pernah bisa kau pantulkan lagi."

Calvin bukannya takut, malah tertawa keras. "Galak banget! Eh, lo mau nggak jadi manajer tim gue? Kita butuh orang yang punya nyali kayak lo!"

Di barisan depan, Aletta memperhatikan interaksi itu dengan perasaan aneh. Mengapa semua orang populer justru berkumpul di sekitar gadis yang katanya "paling cupu" itu?

Elvi menyeringai tipis. Permainan baru saja dimulai, dan dia sudah memegang kendali papan caturnya.

( END ) THE QUEEN'S STRATEGY : Elvina CarleoneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang