"ASTAGAA!!!!... Kenapa bisa jadi kacau sejauh ini?!!" Teriak diriku.
Suara alarm darurat menggema tanpa henti di seluruh sudut mall, bercampur dengan teriakan panik dan langkah kaki yang saling berdesakan.
Aku terjebak di tengah kerumunan manusia yang kehilangan arah-wajah-wajah penuh ketakutan, amarah, dan keputusasaan. Di saat dunia sedang sakit karna COVID-19 yang sudah bukan lagi hanya merenggut nyawa, tapi juga merobek tipis batas antara nalar dan naluri bertahan hidup.
"Jaga jarak! Jaga jarak, sialan!"
"Tanganmu! Jangan sentuh aku!"
"Woy Minggir!!! itu semua punyaku!!?" Teriak pria berbadan besar.
"Tidak!!! Itu punya ku." Balas seorang pria gemuk.
"Hei!! Jangan dorong-dorong! Ada anak ku yang masih kecil disini!!?" Seru seorang wanita.
"Ibuuu.... Aku takut!!" Seru anaknya sambil menangis.
Melihat rak-rak toko telah kosong. Kaca etalase pecah berserakan di lantai marmer yang kini dipenuhi jejak sepatu. Orang-orang saling dorong hanya demi Makanan, Minuman, Obat-obatan dan barang-barang agar bisa bertahan untuk melihat esok hari. Aku datang ke mall ini hanya untuk mencari kebutuhan sederhana, tapi tak pernah menyangka akan terperangkap di neraka kecil buatan manusia.
Kaca toko elektronik di sebelahku pecah. Seseorang menjerit.
"Ada yang jatuh!"
"Bukan urusan kita! Ambil dulu!"
Aku menoleh ke lantai. Seorang pria tua tergeletak, terinjak. Tangannya gemetar meraih udara.
"Tolong..." bisiknya.
Tak ada yang berhenti.
"Bangun..." gumamku, tapi kakiku sendiri tak sanggup bergerak.
Aku memaksa kakiku untuk bergerak sambil merangkul pria tua yang tergeletak barusan ke luar gedung mall dan dari luar gedung, terdengar suara sirene menyayat udara. Pihak berwenang akhirnya datang. Melalui pengeras suara, mereka memerintahkan kami untuk diam. percaya bahwa keadaan akan terkendali, Namun saat orang-orang mulai keluar mall mereka semua terdiam di tempat mereka berdiri. Aku perlahan maju kedepan dan aku tertegun, melihat para polisi mengarahkan senjata api kepada kami.
Seorang pria berkacamata maju perlahan dan mulai berbicara
"Pak!! Tolong turunkan senjata kalian Kami tidak bersenjata sama sekali!"
"BERHENTI DAN DIAM DITEMPAT ANDA BERADA!!" Balas komandan polisi menggunakan pengeras suara.
Lalu terdengar letusan Tembakan peringatan.
Suara itu menggema seperti petir, memantul di dinding beton dan kaca. Bukannya menenangkan, suara itu justru menjadi pemicu. Kerumunan meledak. Orang-orang berteriak, berlari tanpa arah, saling menjatuhkan. Dalam kekacauan itu.
"APA YANG ANDA LAKUKAN!!! ANDA HANYA MEMBUAT KEADAAN SEMAKIN BURUK!!!" ucap marah pria berkacamata.
"DIAM! Ini adalah perintah dari pemerintah!"
"Perintah dari pemerintah?!! Perintah macam apa yang membuat kalian menodong kan senjata kepada kami?!!"
"Perintah untuk mengeliminasi semua orang yang ada ditempat ini, karna kalian semua semua terinfeksi virus COVID-19!!"
Mendengar pernyataan yang diucapkan oleh polisi aku shock, kenapa para pemerintah ingin membunuh kami dengan dalih kami terkena virus. Saat itu juga, para warga yang tadinya terdiam tiba-tiba mulai panik dan berlarian lagi.
YOU ARE READING
Budak Takdir
Fantasy"Takdir, sesuatu yang ditentukan sebagai penentu kehidupan suatu makhluk. Sesuatu yang ditetapkan sebagai hal absolut yang tak bisa dirubah karna hal itu sudah ditentukan oleh sang pencipta". Tapi, banyak orang yang ingin berusaha merubah takdir dir...
