Bab 1 Masih Malu-malu di Awal Peremuan

5 0 0
                                        

Musik synthwave menggempur aula kampus yang gelap. Laser menyapu kerumunan tubuh yang bergoyang, menangkap tawa dan keringat. Di tepian, Mina mengamati dengan senyum tipis, menikmati euforia dari kejauhan.

Dari pintu belakang, seorang pemuda menyelinap masuk. Wanur, dengan kemeja kotak-kotak usang, mengantarkan kardus susu tambahan untuk pesta. Dia terlihat asing di tengah gemerlap ini, seperti bayangan yang salah tempat.

Tiba-tiba, sekelompok mahasiswa berlarian dan menabraknya. Kardus di tangannya terjatuh, beberapa kotak susu berhamburan. Satu kotak meluncur deras di lantai licin, tepat mengarah ke sepatu Mina.

"Lho, ini ada kiriman spesial?" ujar Mina, menyelamatkan kotak susu itu tepat di ujung kakinya.

Wanur buru-buru berlutut, wajahnya memerah. "Maaf, sekali. Saya tidak sengaja."

Dia mengumpulkan kotak-kotak yang berserakan dengan canggung. Mina tak bergerak, hanya mengamati kerutan di kemeja pria itu dan tangannya yang terlihat kasar.

"Kamu bukan dari sini, ya?" tanya Mina, sambil akhirnya membungkuk untuk membantu.

"Dari departemen logistik. Cuma antar pesanan," jawab Wanur, menghindari kontak mata.

"Saya Mina. Jurusan Komunikasi." "Wanur.Pekerjaan harian antar susu, Depkes."

Suaranya datar, tanpa embel-embel. Mina tertarik pada kejujurannya yang polos. Di sekeliling mereka, pesta terus menggelegak, tapi seolah ada gelembung keheningan yang tiba-tiba mengurung mereka berdua.

"Pesta seperti ini bukan duniamu, ya?" Mina menyodorkan kembali kotak susu terakhir.

Wanur mengangkat bahu, akhirnya berani menatapnya. "Dunia saya lebih banyak dimulai subuh-subuh. Tapi... tidak apa-apa sesekali melihat yang berbeda."

Senyumannya kecil, tulus. Mata mereka bertemu sejenak lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu yang jernih di dalam pandangan Wanur, jauh dari kepalsuan yang sering Mina temui di ruangan ini.

"Kalau begitu, selamat menikmati pemandangan 'yang berbeda', Wanur," ucap Mina, dengan nada main-main.

"Terima kasih, dan maaf lagi untuk tadi." "Jangan khawatir.Kecelakaan kecil yang menyenangkan."

Seorang teman memanggil Mina dari kejauhan. Dia memberi isyarat sebentar. Sebelum berbalik, dia mengulurkan tangannya. Di telapaknya, tertulis sekumpulan angka dengan pulpen glitter.

"Nomor saya. Untuk... kalau kamu mau tahu versi 'yang berbeda' lainnya," katanya, setengah berguraul.

Wanur menerima sobekan kertas itu, terkejut. Sebelum sempat menjawab, Mina sudah menghilang di kerumunan, gaun hitamnya menyatu dengan kegelapan dan cahaya strobo.

Dia berdiri di sana, memegang kertas kecil yang berkilauan dan kotak susu terakhir. Suara musik masih menggila, tapi yang terdengar jelas hanyalah dentang kotak susu dingin di tangannya.

Perkenalan singkat, terasa ada jeda yang aneh dan sempurna dalam irama malam yang kacau.

Sebuah awal yang tidak direncanakan, tertulis di atas kertas basah bekas kemasan susu.

**

Matahari pagi di Goyu menyapu sisa-sisa kegaduhan malam. Mina terbangun dengan kepala sedikit cenat-cenut, cahaya menyelinap di antara tirai kamar kosnya yang berantakan.

Dia meraih ponsel, melihat notifikasi media sosial dari pesta semalam.

Seorang teman mengirim pesan, "Kamu kemana pas lagi asik? Liatin cowok pengantar susu?"

Mina hanya membalas emoticon tertawa. Matanya tertuju pada selembar kertas kecil di meja, nomornya sendiri yang ia berikan.

"Gila, aku ngapain ya?" gumamnya sendiri, sambil memutar-mutar kertas itu.

Sementara itu, jauh di seberang kota, Wanur sudah berdiri di gudang dingin Departemen Kesehatan.

Dia mengenakan seragam kerja biru tua yang sudah lusuh, tangan terampil memindahkan krat-krat susu ke gerobak motor listriknya.

"Ur, semangat kayaknya pagi ini," sapa rekan kerjanya, Budi. "Biasa saja.Pekerjaan harus tuntas," jawab Wanur singkat.

Pikirannya sesekali melayang ke malam sebelumnya. Dia mengeluarkan kertas glitter dari saku, sekarang agak lecek. Nomor itu masih terlihat jelas, begitu asing di tengah daftar pengiriman hariannya.

Mina memulai harinya dengan kelas teori komunikasi. Dosen membahas analisis media, tapi pikirannya melayang. Dia melihat keluar jendela, membayangkan jalanan kota yang sibuk.

"Persepsi dibentuk oleh konteks, Mina. Setuju?" tanya dosen tiba-tiba. "Sangat setuju,Pak," sahutnya cepat, tersenyum kecut.

Wanur melaju di jalanan yang mulai ramai, berhenti di depan klinik pertama. "Susu rutin, Bu," katanya kepada petugas resepsionis yang sudah hafal dengannya. Dia mencatat dengan rapi di buku kecil yang basah oleh embun pagi.

Di kafe kampus, Mina bercerita pada sahabatnya, Lila. "Jadi, kamu kasih nomormu ke kurir susu?" tanya Lila tak percaya. "Bukan kurir, dia pegawai Depkes. Dan iya, aku yang kasih."

"Apaan sih, Min. Nanti dia stalker kamu." "Dia tidak terlihat seperti stalker.Dia terlihat... lelah."

Wanur beristirahat sebentar di taman kota, duduk di bangku sambil menghabiskan roti panggang. Dari kejauhan, gedung kampus tempat pesta semalam berdiri megah. Dunia yang sangat berbeda dari dunianya.

Dia membuka ponsel murahnya, membuka menu pesan baru. Jarinya terbang di atas keypad, lalu berhenti. Apa yang harus ditulis? "Halo, ini Wanur, si pengantar susu?" Terdengar konyol.

Mina, di sisi lain, merasa gelisah. Dia mengecek ponsel berkali-kali antara kelas. "Aku menunggu pesan dari seseorang yang mungkin tidak akan mengirim pesan," ujarnya pada diri sendiri, frustrasi.

Saat matahari mulai turun, Wanur mengakhiri rutenya. Di gudang, Budi bertanya, "Kamu dari tadi melamun. Ada masalah?" "Tidak. Cuma... bingung mau kirim SMS atau tidak."

"SMS? Cewek dari pesta kampus kemarin?" Budi menyeringai. "Ya sudah kirim saja! Hilang satu, tumbuh seribu." "Bukan seperti itu,Bud. Dia berbeda."

Malam tiba, Mina masih menatap ponselnya. Lila menghiburnya, "Mungkin dia sibuk. Atau malu. Atau sudah punya pacar." "Atau mungkin aku yang terlalu impulsif," keluh Mina.

Akhirnya, di kamar kosnya yang sunyi, Wanur menatap layar ponsel yang terang. Dengan napas dalam-dalam, jarinya menekan tombol. Pesan singkat terkirim: "Ini Wanur. Terima kasih untuk bantuannya semalam."

Dering ponsel Mina memecah kesunyian. Jantungnya berdebar kencang melihat nama yang tidak dikenal. Sebuah senyum merekah di wajahnya. Dia membalas,

"Sama-sama. Pesta itu jadi ada cerita seru."

Dua dunia yang berjalan paralel, kini bersinggungan oleh satu gelombang sinyal. Ritme Goyu terus berdetak, tapi bagi mereka, sesuatu yang baru saja dimulai.

***

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 13 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Cinta 2 GarisWhere stories live. Discover now