Gema Takbir berkumandang dari berbagai penjuru wilayah. Petasan racikan berbunyi bak bom disana-sini. Para Ibu sibuk menyiapkan ketupat, lontong dan opor sebelum pergi ke masjid. Tawa riang anak anak kecil dan tanggung memenuhi setiap sudut jalan dan ruangan. Hari terfavorit ku, tapi juga hari yang mengundang perasaan gelisah. Bagiku yang berumur 5 tahun, ketika Hari raya Idul Fitri tiba, hatiku seakan ingin meledak saking senangnya. Aku bisa makan banyak jajan dan kue, lalu aku bisa makan opor ayam yang enak_makanan yang sangat jarang kumakan di keseharian ku, kemudian aku juga bisa bermain kesana kemari dengan gelak tawa penuh bersama teman teman main di lingkunganku.
Baju baru? Satu pasang saja sudah membuatku bahagia bukan main. Tidak merasa iri sama sekali jika melihat berpasang pasang baju baru milik teman temanku. Berandai andai, itu pasti. Akan sangat menyenangkan jika suatu hari aku memiliki baju lebaran berpasang-pasang atau sendal princess yang berkilau seperti milik teman temanku. Hanya berandai-andai. Menyampaikan rasa iri ataupun keinginan untuk memiliki baju lebaran lebih dari satu adalah seperti hal paling tabu bagiku. Lebih tepatnya, aku takut untuk mengatakannya.
Ciri khas anak anak ibuku saat lebaran adalah memakai baju lebaran hasil jahitan ibu sendiri. Menggunakan bahan sisa jika belum ada rezeki yang cukup dan menggunakan bahan yang dibeli di pasar jika sedang ada rezeki yang cukup. Jangan ditanya bagaimana hasil jahitan ibu. Bagiku yang umur 5 tahun, jahitan ibu adalah jahitan terbaik sepanjang masa. Bagiku, Ibu adalah designer terbaik, aku selalu puas dengan hasil jahitan Ibu. Itu mengapa aku selalu merasa cukup dengan satu baju lebaran begitupun kakak kakakku.
***
Aku berjalan menuju tenda biru tempat halal bihalal keluarga dilaksanakan_menggenggam tangan kakakku, Yasmin, kakak yang hanya terpaut dua tahun dariku. Kakak yang selalu memiliki baju kembar denganku saat lebaran dan sendal kembar denganku saat lebaran pula.
Aku dan kak Yasmin berjalan di samping Ibu, sedangkan Ayahku sudah melesat ke rombongan keluarga khusus laki laki.
Ibu menyuruh kita Salim kepada orang yang sudah datang satu persatu. Aku, kak Yasmin dan kak Desi_kakak pertamaku yang terpaut sembilan tahun denganku_pun menurut menyalimi orang orang yang katanya saudara dan kerabat kita.
"Eeeeh lucuuu yaaa bajunya kembar, kaya anak kembar. Ini namanya siapa? Cantik banget ya kaya buleee, hidungnya mancung," ucap salah satu kerabat kepada kita. Kak Yasmin yang dipegang tangannya, ditanyain nama dan dipuji mirip bule pun tertawa canggung.
"Yasmin," jawab kak Yasmin salah tingkah.
"Cantik ya namanya, kaya anaknya, cantik. Ini adiknya yang mana dan kakaknya yang mana?" tanya wanita itu lagi sembari menatap ibuku.
"Yasmin kakaknya, dan Ruru adiknya," jawab Ibuku dengan bangga.
"Oooh yang ini adiknya? Ruru ya? Kok beda ya, nggak kaya Yasmin wajahnya. Kalo Yasmin kan cantik, putih dan bule banget. Kalo Ruru ini lebih ke Jawa ya, sawo matang, idungnya habis di kakaknya kali ya, ga kebagian si Ruru, makanya minimalis hidungnya," kelakar wanita itu seraya tertawa. Mungkin bagi orang lain yang melihat dan mendengar, itu seperti gurauan emak-emak biasa. Tapi bagiku, itu ejekan. Aku yang berumur 5 tahun merasakan cubitan panas dihatiku. Apa salahnya memiliki kulis sawo matang? Apa salahnya hidungku tidak mancung?
Ibu yang mendengar itu ikut tertawa," ibunya Jawa, Ayahnya Jawa, ya anaknya Jawa, sawo matang. Kalo si Yasmin tuh gatau kenapa bisa kaya bule sendiri, aku yang ibunya aja heran."
Diumurku yang 5 tahun, perbedaan itu sudah sangat terlihat. Aku baru tahu, ternyata anak kecil untuk bisa disukai itu harus cantik. Kak Yasmin cantik makanya dia punya banyak teman dan mudah bergaul, kak Yasmin cantik makanya orang orang dewasa suka menanyakan namanya, kak Yasmin cantik makanya orang orang mendekat kepadanya. Dan aku? Anak kecil yang tangannya kak Yasmin genggam_anak yang selalu mengekor dibelakangnya.
Lagu lama jika menyangkut orang-orang dewasa yang mengatakan bahwa aku berbeda dari kak Yasmin. Kita berdua selalu bersama, semakin kita bersama maka semakin terlihat perbedaan itu dari tatapan dan perkataan orang orang.
Hari itu aku masih anak kecil, tapi hatiku sudah belajar membandingkan. Bukan aku yang mulai, dunia yang lebih dulu menunjuk siapa yang pantas dipuji dan siapa yang cukup diam.
Dari peristiwa itu, dan beberapa peristiwa lalu yang mirip, aku belajar bahwa cinta orang dewasa kepada anak kecil sering datang dengan syarat. Dan tanpa sadar, aku tumbuh sambil percaya bahwa menjadi diriku sendiri belum tentu cukup.
Aku memang tidak kehilangan apa-apa hari itu_tidak baju, tidak mainan. Aku hanya kehilangan rasa aman untuk merasa cukup sebagai anak kecil.
YOU ARE READING
Katanya Hidupku Enak!
General FictionAku Kembang Arum. Orang-orang memanggilku Ruru. Usiaku dua puluh tiga tahun, anak bungsu, dan sering dianggap gadis yang hidupnya paling enak di antara yang lain. Itu karena aku bungsu. Tidak cantik, tidak mencolok, tidak juga memikat dalam sekali p...
