KAEL
"Emangnya musik bisa bikin kamu hidup, El?"
Banyak orang bilang, jadi anak sulung itu terlalu banyak cobaannya. Banyak tuntutan, banyak tekanan, dan banyak harapan yang diselipkan.
Dulu waktu masih bocil, gue nggak terlalu peduli beban jadi anak pertama. Mungkin karena gue masih kecil, gue belum terlalu merasakan tuntutan yang dikasih sebagai seorang abang untuk empat adik-adiknya.
Tapi, ketika adik-adik gue lahir—sampai empat pula, gue mulai merasakan—oh ini, rasanya jadi anak sulung? Selalu harus ngalah, jadi panutan, dan dewasa untuk adik-adiknya.
Gue pikir, itu udah part yang paling sulit, jadi abang.
Ternyata bukan.
Jadi anak sulung di mata seorang bokap ternyata jauh lebih berat daripada jadi abang.
Gini, adik-adik gue nggak pernah nuntut gue buat jadi abang dengan pekerjaan sebagai pilot lah, PNS lah, banker, atau apa pun itu yang "katanya" hasil kerjanya nyata. Kelihatan, pakai seragam.
Adik-adik gue tuh, tahunya gue punya duit aja terus tinggal minta—terutama waktu mereka masih sekolah semua, apalagi Vanilla. Mereka nggak peduli kerjaan gue apa, tahu nya gue ada kerjaan aja. Udah.
Kenapa gue bilang jadi anak sulung di mata seorang bokap tuh jauh lebih berat? Karena bokap selalu maksa gue buat memenuhi semua ekspektasinya dia. Contoh, nerusin usaha keluarga yang bukan minat gue sama sekali.
Dari gue kuliah, bokap bener-bener maksa banget, sampai-sampai gue selalu bertengkar sama beliau karena masalah yang sama.
Tapi setelah perdebatan panjang, akhirnya bokap ikhlasin gue tetap bermusik, tetap jadi produser.
Meskipun kayaknya nggak ikhlas-ikhlas banget, sih.
Tapi, gue nggak peduli. Gue tetap melakukan apa pun yang gue suka.
Dengan musik, gue merasa bebas. Gue merasa menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura di depan semua orang. Menulis lagu, membuat musik, dan berada di dalam studio ini udah membuat gue merasa nyaman.
Gue menatap lurus ke arah di balik kaca ruang rekaman, gue lihat satu suara yang sekarang lagi berusaha jujur sama dirinya sendiri.
Ini yang selalu gue suka dari dulu. Nggak peduli kadang yang gue denger tuh nada meleset, emosi yang keburu pecah, atau bahkan berdebat soal aransemen.
Nggak peduli secapek apa bahkan harus take berkali-kali, gue tetap ingin jadi produser—meski sebenarnya ini bisa membuat mood gue berantakan, seperti hari ini.
Gue masih menatap lurus ke dalam booth, gue bahkan nggak ingat ini udah berapa kalinya gue tekan tombol stop.
"Kurang."
Di dalam sana, cewek itu mengernyit sambil menatap gue tajam dari balik kaca. "Kurang apa lagi?"
Gue menghela napas kasar. Kertas-kertas yang berisikan lirik lagu ini gue banting ke atas meja. "Menurut lo, lo lagi nyanyi apa baca teks proklamasi? Lo kaku."
"Kaku menurut lo, Kaelvano Meidiawan."
Gue kembali melirik tajam. Nih cewek makin lama makin berani aja gue lihat-lihat. Maklum, belum pernah lihat gue ngamuk, kayaknya.
"Jadi lo keberatan, Kalila Fara Diatmika?"
"Ya iya lah," jawabnya cepat, dia masih menatap gue sewot. "Mau lo apa sih, ini udah lima belas kali take, ya!"
"Kalau lo bagus, kita nggak mungkin sampai lima belas kali take."
"Oh ya?! Mungkin lo bukan the best producer like they said?!"
YOU ARE READING
Home: Reka Rasa
RomanceApa jadinya jika dua orang yang saling membenci harus berpura-pura jatuh cinta? Kaelvano dan Kalila mengira mereka memegang kendali, bahwa kesepakatan konyol yang tak sengaja dilakukan itu tak akan berlangsung lama. Namun, siapa sangka? Kebohongan...
