Kue ulang tahun itu sederhana. Tidak besar, tidak mewah—cukup untuk enam potong, cukup untuk keluarga yang tersisa. Di dinding ruang makan, foto Ayah dan Ibu tergantung rapi, senyumnya membeku di masa ketika rumah ini masih lengkap.
"Selamat ulang tahun, Kak," ucap Aira ceria.
Wildan tersenyum. Senyum yang ia pelajari sejak lama—sejak ia harus tumbuh lebih cepat dari semestinya.
"Dua puluh lima," gumam Iqbal. "Kalau Ayah masih ada, beliau pasti bangga."
"Dan Ibu pasti ribet dari pagi," sambung Kinan pelan. "Masak banyak, terus marah kalau Kakak kecapekan."
Tawa kecil mengisi ruangan. Hangat, tapi rapuh. Maura menatap Wildan lebih lama dari yang lain. "Ulang tahun sekarang beda rasanya."
Wildan meneguk air putihnya. "Beda di mana?"
"Karena Kakak sendirian," jawab Maura jujur. "Kami cuma mikir... Kakak sudah cukup umur untuk ditemani."
Iqbal mengangguk. "Ada orang yang nungguin Kakak pulang."
"Yang ngingetin obat," tambah Kinan lirih.
Kata itu jatuh pelan, tapi tepat. Api lilin di atas kue bergetar—atau mungkin dadanya saja yang tiba-tiba terasa sempit. Wajah Dinda hadir tanpa diundang. Tatapan yang dulu hangat, lalu berubah tajam. Dan kata-kata yang menghantam lebih keras dari penyakit apa pun.
"Kamu itu sakit. Hidupmu aja belum tentu panjang." Jari Wildan mengeras di bawah meja.
"Kalian nggak perlu mikirin aku," katanya akhirnya, suaranya tenang tapi berjarak. "Sejak Ayah dan Ibu nggak ada, tugasku cuma satu: menjaga kalian."
"Kakak juga berhak bahagia," bisik Kinan.
Wildan meniup lilin itu. Api padam dalam satu hembusan.
"Aku bahagia," ucapnya pelan. "Kalau kalian bahagia."
Dan di ulang tahunnya sendiri, Wildan kembali memilih menjadi penyangga—bukan yang disandari.
Di sudut lain di kota yang sama, rumah Sania lebih kecil, tapi riuh oleh persiapan.
"Syifa, tolong pegangin ini ya," pinta Sania sambil menunjuk hiasan bunga.
Syifa tersenyum, menggulung lengan bajunya. "Tenang. Aku datang bukan cuma buat makan."
Mereka tertawa. Persahabatan sejak SMA itu bertahan tanpa banyak syarat—cukup saling hadir.
Salman berdiri di dekat pintu, pura-pura sibuk dengan ponselnya. "Minum?" tawarnya singkat.
"Boleh," jawab Syifa, sedikit kikuk.
Percakapan mereka sederhana. Kata-kata biasa, perhatian kecil—sesuatu yang tumbuh pelan, tanpa berani diberi nama. Namun dari dapur, kursi digeser agak keras.
"Salman," panggil ibunya. "Bantu Ayahmu."
Nada itu dingin. Tegas. Seperti garis tak kasatmata yang ditarik rapi.
Syifa menunduk. Ia sudah terbiasa. Tidak semua tempat menyediakan ruang yang sama untuk setiap orang.
Hari itu, Sania resmi menjadi istri Indra. Syifa berdiri di antara tamu undangan, tersenyum tulus saat sahabatnya mengucap janji. Namun di balik senyum itu, ada ruang kosong yang tak ia mengerti.
Ia tak tahu, di kota yang sama—di jam yang hampir bersamaan—ada seorang lelaki yang meniup lilin ulang tahunnya dengan doa serupa: agar orang-orang yang ia cintai lebih dulu bahagia, meski dirinya memilih menunggu. Dan tanpa mereka sadari, jarak antara dua kesunyian itu tidak sejauh yang mereka kira.
YOU ARE READING
Karma Bernama Cinta
General FictionSyifa menikah bukan karena cinta, melainkan karena harta yang menjanjikan kuasa. Ia mengkhianati kesetiaan, merusak rumah tangga, dan menukar hati dengan ambisi. Ketika semua topeng runtuh, cinta tak lagi menunggu. Yang tersisa hanyalah karma- be...
