01. Proyek Neraka

7.6K 223 9
                                        

   Bau bensin dan oli di bengkel sekolah siang itu terasa menusuk. Deka menendang kursi plastik di depannya hingga terjatuh ketika mendengar pengumuman dari Pak Kumis jika dia kedapati harus satu kelompok bersama cowok yang paling pengen dia giles pake ban motor. Matanya langsung melotot tajam ke arah Tuan Muda Rodien yang sedang berdiri di seberang ruangan, nempel di tembok sambil masukin tangan ke saku celana dengan gaya sok asik.

   ​“Gak bisa gitu dong, Pak! Masa saya satu kelompok sama ginian?!” Deka menunjuk ke arah Asther menggunakan dagunya, mukanya udah sepet banget.

   Pak Kumis pergi, tidak menghiraukan ocehan Deka yang sudah naik sampai ubun-ubun.

   ​Asther hanya menaikan alisnya sebelah. Dia melangkah perlahan, menghampiri Deka yang memasang posisi siap nerjang.

   ​“Kenapa? Takut?” tanya Asther pendek, suaranya dingin tapi menyesakkan di telinga.

   ​“Takut?! Gak usah sok asik lo, anjing! Gue cuma males nilai gue ancur gara-gara partner yang bisanya cuma gaya doang. Lo kalo nggak bisa megang mesin, mending lo pergi deh, jangan jadi beban di sini!” Deka nyerocos, mukanya merah padam.

   ​Asther berhenti tepat di depan Deka. Dia lebih tinggi beberapa senti, membuat Deka harus sedikit mendongak agar bisa menatap manik dark brown yang meremehkannya itu.

   ​“Gue nggak butuh saran dari bocah jalanan yang bisanya cuma ngegas di jalan layang,” balas Asther sinis. Dia mengambil kunci pas dari meja, lalu menaruhnya di bahu Deka dengan gerakan yang benar-benar merendahkan harga diri Deka sebagai mekanik. “Kerjain bagian lo. Jangan banyak bacot kalo nggak mau mulut lo gue sumpel pake kain majun.”

   ​Deka langsung menepis kunci pas itu hingga terjatuh ke lantai beton.

PRANK!

​   “Lo pikir lo siapa, hah?! Cuma karena lo punya geng abal-abal itu, lo ngerasa bisa ngatur gue? Di sini nggak ada anak buah lo, nggak ada perlindungan buat lo. Sekali lagi lo berani nyentuh gue, gue pecahin kepala lo pake nih kunci!” Deka mencengkeram kerah baju praktik Asther cukup kuat.

   ​Asther tidak membalas cengkraman itu, dia malah tersenyum tipis, senyum manipulatif yang paling Deka benci karena merasa terhina.

   ​“Gitu? Coba aja kalo berani. Gue pengen liat seberapa jauh gas lo bisa meledak." Asther menunduk, berbisik tepat di depan wajah Deka sampai deru napasnya terasa di kulit. “Lo itu cuma sumbu pendek yang gampang banget gue sulut. Berontak terus, gue suka liat lo frustrasi kayak gini.”

   ​“Bangsat lo!” Deka hendak melayangkan bogeman, tetapi suara langkah kaki Pak Kumis yang tadinya pergi, kini kembali lagi ke arah bengkel. Membuat dia terpaksa melepas cengkramannya dengan kasar.

​   “Gue bakal selesaiin ini secepat mungkin. Abis itu, lo jangan pernah berani muncul lagi di depan muka gue,” ancam Deka sambil mendelik tajam.

​   “Kita liat aja,” sahut Asther santai. Dia mengambil kain lap, kemudian dengan sengaja ngelempar kain kotor itu ke pundak Deka sebelum lanjut berjalan ke arah mesin motor tua yang akan menjadi bahan project tim mereka ke depannya. “Bersihin tuh muka lo, cemong kayak kucing got.”

​   “ANJING LO, YA!!” ​Deka hendak menerjang lagi, namun Asther hanya sebatas dadah-dadah kecil tanpa menoleh ke belakang, sengaja banget memancing emosi Deka.

“Handeka. Mulut kamu mau Bapak gadein?” tegur Pak Kumis semerdu mungkin.

------------------

   Suara besi beradu dengan lantai beton bengkel yang jadi latar musik klasik di bengkel siang itu. Deka sedang jongkok di depan mesin Yamaha Mio tua copotan, tangannya sangat lincah memainkan kunci sok, seolah-olah dia sudah hafal mati setiap letak baut di posisinya.

   ​Asther berdiri di sampingnya, menyodorkan karburator yang baru saja dia bersihkan. “Nih. Pasang. Gue udah setel pelampungnya, harusnya nggak banjir lagi.”

​   Deka tidak langsung mengambilnya. Dia hanya melirik karburator di tangan Asther dengan tatapan super sinis, lalu mendengus menyepelekan.

​   “Setelan lo standaran banget, cupu. Gue nggak butuh karbu yang cuma nyala. Gue butuh yang tarikannya jambak.” Deka menarik karbu itu kasar dari tangan Asther. “Lo mending minggir deh. Ketua geng kayak lo mah taunya cuma motor kinclong buat gaya-gayaan depan anak buah doang. Soal modif daleman? Lo masih level bocah di mata gue.”

   ​Asther menahan napas, matanya menajam. “Gue tau teori mesin ini luar kepala, anjing. Jangan sok jago cuma karena lo tiap malem tidur sama oli.”

​“Teori?!“ Deka terkekeh, tipe ketawa tipis yang mengejek. “Mesin itu bukan soal buku, bego! Ini soal feeling. Lo setel gas segini aja udah bangga? Sini liat…”

   Deka mengambil obeng setting, memutar sekrup udara dengan gerakan yang presisi hanya menggunakan insting. Setelahnya, memasukan moncong karbu ke intake manifold mesin. Infus, kelistrikan dan busi, buka baut angin, lalu yang terakhir adalah menyalakan mesinnya.

   Hasilnya lebih stabil dari yang mereka pikir, meski onderdil disana rongsokan semua.

   ​Deka menengok ke Asther sambil menaikan satu alisnya, memasang raut wajah paling songong sedunia. “Liat? Itu bedanya mekanik asli sama mekanik abal-abal yang cuma modal dandan kayak lo. Jauh, kan? Selevel di atas lo, anjing.”

​   Asther meremas kain lap di tangannya. Dia mengakui dalam hati, Deka memang gila soal mesin, tapi harga dirinya sebagai Ketua Geng Galaksi tidak terima diinjak-injak begitu saja. Dia maju, menendang kaki meja praktik hingga suaranya menggelegar di bengkel yang lagi sepi itu.

   ​“Lo emang pinter soal ginian, gue akuin,” bisik Asther, suaranya merendah. Dia lalu menunduk sampai mukanya sejajar dengan Deka yang masih jongkok. “Tapi lo lupa satu hal. Mesin sehebat apa pun, kalo nggak ada yang bisa jinakin liarnya... cuma bakal jadi besi tua.”

​   Asther memegang tengkuk leher Deka, memaksa cowok itu agar menatapnya. “Sama kayak lo. Lo ngerasa selevel di atas gue soal mesin? Oke. Tapi soal jinakin barang liar... gue jauh satu level di atas lo, anjing.”

​   “FAKYU!” Deka menepis tangan Asther, kemudian berdiri dengan napas yang memburu. “Gak usah sok keras di depan gue! Lo pikir lo siapa bisa jinakin gue?! Lo sentuh gue lagi, gue pastiin tangan lo nggak bakal bisa megang kopling lagi seumur idup!”

   ​“Coba aja kalo berani,” tantang Asther, matanya menatap Deka dari atas ke bawah, menyulut emosi Deka yang kembali naik. “Lo emang jago modif mesin, Dek. Tapi ntar gue bakal buktiin... gimana rasanya dimodif sama gue sampe lo nggak bisa ngegas lagi.”

​   “LO... LO EMANG ANJING PALING SAKIT JIWA YANG PERNAH GUE TEMUIN!!”

   “Gue anggep itu pujian…”

   Melihat Asther pergi seraya mengangkat tangan, Deka kembali membuka mulut, siap mengumpat. “ASTHER NGENTOTT!!”


















( •̀_•́ ) ??

Dek ; Ast. Where stories live. Discover now