Nadhira Putri Wiratama menjalani hidup dengan satu tujuan pasti; memiliki gaji dua digit sebelum usia 30. Namun, kenyataan berbanding terbalik dengan yang ia duga. Menganggur, terkena layoff, serta berbagai penolakan kerja justru yang ia dapat dan k...
Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.
"BAWA bekel lagi hari ini lu, Nad?"
Nadi yang baru saja mengeluarkan kotak bekal dari dalam tas mengubah arah pandangnya menuju Emil dan mengangguk singkat, "Iya, nih, Mil. Tanggal tua," tukasnya tak acuh.
Sebenarnya seisi kantor pun tahu kalau baik tanggal tua maupun tanggal muda, Nadi akan selalu membawa bekal untuk ia makan saat istirahat. Pertanyaan Emil barusan pun ia yakini sekadar pertanyaan retoris untuk basa-basi. Alasannya sesimpel ia perlu berhemat saja, sih. Tanggungannya banyak dan sebagai tulang punggung keluarga, Nadi harus memastikan gaji imutnya itu cukup untuk bertahan hidup selama paling tidak sebulan ke depan, menunggu sampai tanggal gajian berikutnya.
Suasana dapur kantor saat jam makan siang hari ini cukup sepi. Mba Mayang pergi bersama Pak Har, pimpinan KCP (Kantor Cabang Pembantu), untuk menemui nasabah potensial. Katanya sih berurusan sama pembukaan rekening siswa untuk sebuah sekolah yang cukup punya nama di daerah Jakarta Selatan. Para Account Officer yang lain pun sibuk dengan urusan masing-masing, beberapa menemui nasabah untuk akad kredit sehingga menyisakan Nadi, Emil serta frontliner mereka yang belum punya waktu untuk makan siang.
Nadi sendiri baru akan menemui nasabah setelah istirahat nanti. Sejak pagi ia sibuk melakukan simulasi kredit untuk beberapa calon nasabahnya yang menghubungi bahkan di weekend sekalipun. Sebagai seorang AO baru, Nadi cukup terkejut dengan budaya kerja di bank yang sangat dar der dor, meski mentalnya juga sudah teruji hasil tiga tahun kerja di agensi, sih. Sayang agensi tempat kerjanya sebelum ini bangkrut karena biaya operasional nggak nutup dan sang owner harus terus-terusan nombok gaji karyawan, padahal Nadi sudah nyaman di sana.
Kalau di bank, meski dari segi apa pun lebih settle, tapi tekanannya juga nggak main-main. Target kredit miliaran sudah menjadi makanan Nadi sehari-hari, menghantuinya di setiap aktivitas yang hendak ia lakukan. Makan pun jadi tak tenang. Ibaratnya, kita yang harus menjemput bola. Apalagi di marketing. Kata Pak Har, bosnya, momentum sekecil apapun tetap harus kita manfaatkan untuk mencari nasabah.
"Nasabah yang kemarin jadi mau ambil kredit, Nad? Siapa ya, namanya? Yang mau pensiun itu," Emil kembali bertanya dengan mulut full kebab jumbo ekstra topping keju parut langganannya yang selalu ia pesan untuk makan siang. Nadi pun sampai heran melihatnya karena Emil tampak tidak kunjung bosan.
Mencoba mengingat, Nadi akhirnya menemukan sosok yang dimaksud oleh Emil barusan, "Oh, Pak Bambang? Belum tau nih, Mil. Gue belum dapet balesan lagi."
Jumat yang lalu Nadi memang sempat menyuruh Emil sebagai admin operasional untuk mengecek SLIK milik Pak Bambang, seorang karyawan swasta yang dua tahun lagi akan pensiun. Pak Bambang sendiri bukan nasabah baru Bank Amerta. Kredit terakhirnya baru lunas tiga bulan lalu dan sekarang beliau ingin mengambil kredit lagi untuk keperluan usaha semasa pensiun.
Tepat setelah Nadi mengucapkan kalimat itu, suara langkah kaki khas heels tujuh senti yang diikuti dengan sapaan heboh dan nyaring dari Mba Mayang terdengar memenuhi seisi lorong yang menyambung ke dapur.