Asap dupa menari di udara, membentuk bayangan seperti tangan-tangan halus yang mencoba meraih takhta.
Di hadapan Raja Cassian, Peramal Tertinggi Thalvoryn menunduk, wajahnya tersembunyi di balik kain hitam, suaranya lirih seperti doa yang dikutuk.
"Kedamaian Thalvoryn akan berakhir sebelum musim berganti," ujarnya perlahan.
"Akan ada darah di aula kerajaan dan mahkota akan lebur oleh darah anda sendiri."
Cassian memandangi peramal itu dengan mata gelap penuh amarah dan takut yang bercampur jadi satu.
"Siapa yang akan menjatuhkan mahkota itu?"
Senyum tipis muncul di bibir peramal itu. Terasa dingin, nyaris seperti luka yang belum kering.
"Salah satu dari tiga belas pangeranmu, Paduka. Tapi kutukan ini tak akan berhenti pada mereka. Duri itu akan terus tumbuh... bahkan di dalam mahkota."
Seketika api lilin padam, meninggalkan ruang singgasana dalam keheningan yang menggigit.
Hanya napas Cassian yang terdengar berat dan tak tenang. Seolah seluruh istana ikut menahan napas bersama sang raja.
🪷 🪷 🪷
Thalvoryn berdiri megah di atas reruntuhan kerajaan-kerajaan lama. Rakyat menyebutnya tanah kejayaan, tapi di pasar-pasar yang berdebu, suara kelaparan dan amarah mulai tumbuh.
Para bangsawan bersulang di aula emas, sementara di luar istana, bisik-bisik tentang pajak dan pengkhianatan menyebar seperti api.
Tak ada yang tahu sebuah luka kecil akan segera membesar menjadi duri yang meruntuhkan mahkota.
Semua orang ingin memiliki mahkota.
Tak ada yang peduli pada darah dan duri yang ditinggalkannya.
Bagi sebagian orang, luka itu adalah harga.
Bagi yang lain, luka itu adalah takdir.
Dan di antara darah yang mengalir serta bunga yang mekar, jiwa yang sama-sama terluka akan saling menemukan atau saling menghancurkan.
Seperti pagi itu, matahari mulai keluar dengan sinarnya. Menghangatkan makhluk-makhluk yang berada di bumi. Sinarnya melewati celah-celah kecil di sebuah ruangan luas dengan barang berlapis emas.
Makhluk dengan definisi keindahan terlihat mencari kesadarannya. Kulit seputih es yang turun dibumi pada musim dingin, bibir senada buah persik, dan lengan tipis yang seolah mudah hancur.
Sorrelis Thane, pangeran ke-12 kerajaan Thalvoryn yang saat ini usianya menginjak 21 tahun masih belum didebutkan. Dimana idealnya seorang pangeran akan didebutkan saat usia 15 sampai 20 tahun.
Semua itu karena Sorrelis lahir dari seorang selir. Selir ke-4 kerajaan. Ya, Raja kerajaan tersebut memang gemar mengoleksi istri. Bahkan menyimpan beberapa gigol* cantik diistananya.
Hal tersebut sudah menjadi rahasia umum. Namun dikalangan kerajaan banyak yang mengetahui hal tersebut. Sorrelis besar tanpa kasih sayang ibunya. Dulu sewaktu kecil dia hanya tahu jika ibunya dikabarkan meninggal. Setelah itu dia diasuh oleh selir ke-2, Lady Althea.
Lengan kurus tersebut mengusap wajahnya. Mencoba mengahalau gejolak cahaya yang berlomba masuk ke retina matanya. Wajah yang dianugrahi kecantikan tersebut berkerut saat mengenali ruangan tersebut bukan kamarnya.
"Ditawan dikamar siapa lagi sekarang?" Ucapnya sambil mendudukkan dirinya di kasur empuk tersebut.
Ingatannya dibawa diacara sebelumnya saat perjamuan makan malam. Ada pesta kecil yang diadakan oleh ayahnya, Raja Thalvoryn. Dan tentu saja tidak lepas dari 'anggur'. Thane yang tidak tahan meminumnya hanya diam dipojok ruangan.
Hubungannya dengan saudara-saudara yang lain memang kurang baik. Thane sering dirundung karena wajahnya. Padahal dibalik itu mereka benar-benar tergoda olehnya.
YOU ARE READING
Blood in Bloom
FantasyBagaimana aku bisa membenci duri, jika aku mencintai mawarnya...
