Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

-01 Tabrak Lari di Gunung

5 0 0
                                        


"Jangankan manusia, langit saja berubah jika sudah waktunya"

----------------------------


"Eh eh, aduh!" Ucap seorang perempuan saat kakinya tergelincir karena pijakan yang salah di jalur turunan.

"Awass"

"BANG AWAS!" pekiknya kencang dengan tubuh yang sudah hilang kendali, hingga

BRUK

"Awwss" ringisnya sakit.

"Kamu tuh ya ngga ada habis-habisnya buat masalah. Pertama, kamu hampir menjatuhkan kamera saya. Kedua, kamu minum air dari botol milik saya tanpa izin, dan sekarang kamu tabrak saya dari belakang." Ucap pria berusia itu kesal sambil berusaha berdiri.

Dasar cewek sumber masalah, gumam pria itu pelan.

"Kalau gue sumber masalah berarti Lo jadi solusinya. Gimana, cocok kan?" sahutnya menyengir tanpa rasa bersalah.

"Cepat, saya bantu berdiri" ucap Devan mengulurkan tangannya ke arah seorang gadis yang jatuh tersungkur setelah menabraknya dari belakang sambil berlari.

Gadis itu segera menerima uluran tangan Devan lalu sesekali meringis merasakan sakit di kakinya. Jarak pos 1 sebenarnya sudah cukup dekat, namun ia tak yakin bisa berjalan kesana dengan mudah. Gadis itu merutuki kebodohannya yang kurang hati-hati hingga salah pijakan di jalur turunan yang sudah licin karena hujan. 

"Lo beneran gapapa Jing?" tanya Keino cemas, teman Jingga. 

"Gapapa Kei, cuman bengkak dikit. Masih bisa jalan kok" ucap Jingga tak ingin teman-temannya khawatir. 

"Biar gue papah Jing" ucap Tiara ingin mengambil alih tangan Jingga dari Devan yang sejak tadi menopangnya berdiri. 

"Biar saya gendong sampai pos 1, kaki kamu perlu segera diobati" ucap Devan menawarkan bantuan dan langsung meminta Jingga naik ke bagian belakang punggungnya. Devan berjalan diikuti oleh teman-teman Jingga dan teman Devan dibelakang. 

Sampai di Pos 1 Devan menurunkan Jingga untuk duduk bersandar di dekat tembok. 

"Pelan-pelan turunnya. Kamu bisa senderan dulu di tembok" ucap Devan yang dibalas anggukan oleh Jingga. 

Dibantu teman-temannya, Devan segera mengambil perlengkapan medis untuk mengobati kaki Jingga. Dalam keadaan seperti ini hal yang harus dilakukan adalah 

Mengompres area yang bengkak menggunakan es batu yang dilapisi kain. Karena tidak ada, Devan langsung membalut area yang bengkak menggunakan perban elastis dengan teknik angka 8 agar sendi tetap stabil dan tidak bergeser. Disana mereka juga sekalian istirahat sebentar sebelum turun ke basecamp. 

"Bang, makasih ya udah bantuin gue. Padahal dari kemarin gue udah buat Lo kesel" ucap Jingga merasa bersalah kepada Devan yang sedang duduk memakan Roti disampingnya. 

"Hm" jawab Devan berdehem singkat 

"Dingin banget dah, kayak kulkas 3 pintu" gumam Jingga pelan namun ternyata masih terdengar oleh Devan. 

"Makan, habis ini kita lanjut ke basecamp" ucap Devan menawarkan roti rasa coklat kepada Jingga dan berlalu pergi ke arah teman-temannya. 

"Kondisi princess gimana bro?" tanya Kenan, teman Devan. 

"Udah mendingan. Stop panggil dia princess. Ga cocok, orang cerewet kaya gitu." jawab Devan kesal

"Lagian dari kemarin ada aja masalah Lo sama dia. Jodoh kali" ucap Damar dengan nada  mengejek 

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 07 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cahaya Jingga untuk DevantraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang