We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Part 1 Tak suka dengan badannya

210 5 0
                                        

Mita membereskan barang-barangnya ke dalam tasnya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Mita membereskan barang-barangnya ke dalam tasnya. Hari ini ada dua mata kuliah dan mata kuliah selanjutnya di jam dua siang.

Nirada Mita adalah gadis kampung dari Jawa timur khususnya di Banyuwangi. Ia sudah merantau sejak ia mendapatkan kabar ia di terima di kampus ini dengan beasiswa.

Mita merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Ayahnya hanya tukang pemanjat kelapa sedangkan ibunya seorang penjual sayur di pasar.

Hidupnya pas-pasan, ia berharap semoga ia bisa mengubah kehidupannya dengan keluarganya.

"Mit, nanti bikinin gue ppt ya?"

"Siap Bim," ujar Mita dengan suara khas jawanya.

"Gue juga Mita, nanti gue transfer deh."

"Kamu masih punya utang loh Noah."

Noah menyengir lebar dengan memperlihatkan gigi gingsulnya. Ia juga mendapatkan tabokan dari Bima.

"Gak usah di kerjain Mit."

"Jangan dong. Nanti gue di hukum. Janji deh besok gue transfer."

"Yowes lah kalau begitu. Aku kerjain dulu ya."

"Siap Mit."

Hidup di kota yang keras ini Mita selalu belajar untuk mengandalkan kemampuannya. Awalnya ia hanya mencoba, tapi lama kelamaan ia mulai terbiasa mengerjakan tugas sebanyak-banyaknya.

"Diana kamu dari mana aja? Kok gak masuk?"

Diana Larasati, teman Mita yang tinggal di Jakarta. Dia cantik dengan rambut pirangnya yang sangat cocok di wajahnya.

"Biasa Mit, layanin sugar dady gue. Dia tuh lagi ngambek, jadi gue gak di bolehin pergi tadi malam. Malah minta nambah terus lagi."

Mita hanya bergidik ngeri. Diana memang merupakan sugar baby. Ia sudah menjalankan hubungannya dengan sugar baby-nya itu selama dua tahun ini.

Diana hidup glamor sejak dahulu karena ayahnya tidak lagi membiayainya setelah perceraiannya dengan ibunya. Kadang Mita kasihan tapi Diana seperti senang saja dengan hidupnya itu.

"Diana, tanda di leher kamu....."

"OMG, kok pudar sih. Ayo ke toilet."

Diana menarik Mita ke toilet. Diana dapat melihat ada berkas merah yang ada di lehernya yang kini kelihatan, padahal ia sudah mengolesinya dengan pondesion.

"Mit, sugar dadymu ganas ya."

"Banget Mit, tapi bikin gue ketagihan. Ini aja vagina gue gatal pengen di masukin."

Mita menggelengkan kepalanya melihat sikap blak-blakan Diana. Mita sudah terbiasa sebenarnya. Diana mau berteman dengannya saja karena menurutnya Mita dapat di percaya. Buka itu saja, Diana juga tak suka bergaul dengan sembarangan orang. Saat mengajak Mita untuk berteman saja, Mita seakan menjauh. Butuh waktu untuk Diana mengajak Mita berteman karena Mita benar-benar polos sekali.

"Mit, kalau gue jadi Lo gue akan jadi sugar Daddy. Payudara Lo aja kencang Mit. Gue aja sampai iri."

"Hust, nda boleh ngomong gitu loh Diana. Nanti di dengar orang."

Diana memutar bola matanya malas. Ia sering kali memuji badan Mita. Mita itu lebih tinggi darinya. Badannya bahkan putih dari lahir. Lihat dua bukti kembar yang menonjol di dadanya. Terlihat kencang dan besar. Siapa saja tahu kalau Mita memang memiliki proporsi tubuh yang bagus. Hanya saja tertutupi oleh kaca mata hitam yang bertengger manis di hidungnya. Penampilannya juga kucel, kadang Diana selalu memarahi temannya itu.

"Gak ada orang-orang disini Diana."

"Tapi jangan ngomong gitu lagi. Aku malah malu."

Mite memandang wajahnya di dalam cermin besar yang ada di toilet. Mita sengaja memakai baju kebesaran untuk menutupi payudaranya yang selalu menonjol besar. Malu tentu saja. Ibunya selalu berpesan padanya untuk menjaga diri. Di kampung saja Mita akan menjadi bahan omongan jika payudaranya menonjol.

"Gak usah di samain sama di kampung Lo. Udah dikasih tahu juga."

"Tapi aku malu Diana, kamu nda ngerti pokoknya. Kalau aja aku punya banyak uang payudaraku ini aku buang sedikit."

"Ih ngomongnya gitu." Cetus Diana. "Janganlah, artis aja pakai implan karena gak pede sama payudaranya. Eh Lo malah mau hilangin."

"Kan beda-beda orang toh."

"Gak tahu deh sama isi pikiran Lo."

Diana keluar di ikuti oleh Mita. Langkah mereka ke perpustakaan. Lebin tepatnya Diana yang mengikuti kemana arah pergi Mita.

"Kerjain tugas gue sekalian."

"Nda gratis ya."kekeh Mita.

"Dasar mata duitan. Iya gue bayar."

"Nda usah, kalau sama teman sendiri tak kasih gratis."

Sudah itu Mita larut dalam mengerjakan tugas dari beberapa temannya. Di dalam perpustakaan hanya ada beberapa saja. Mita lirik Diana yang sibuk bertukar pesan dengan sugar dadynya.

"Gue di kirimin uang."

"Sama om Jordan?"

"Gak, bukan. Dia mantan sugar Daddy gue. Udah lama sih pas kita masih maba."

"Loh kenapa di kasih uang?"

"Kangen gue katanya."

"Nda usah macam-macam. Satu aja udah cukup Diana."

"Kalau bisa dua kenapa harus satu."

Pasti Diana akan menduakan sugar Daddynya. Itu sudah biasa. Mita bahkan selalu hafal namanya tapi tidak pernah ketemu. Paling Diana hanya memperlihatkan fotonya saja padanya.

Ternyata Diana pemilih juga. Dia tidak memilih sugar Daddy yang umurnya sudah tua. Mungkin sugar Daddynya kebanyakan umur empat puluan.

"Mit, nanti temani gue beli underwear ya. Stok gue habis karena di robek sama om jordan."

"Iya, gampang itu."

"Nanti gue beliin Lo juga. Lo kan belum punya yang merah kan?"

Mita menghela nafas lelah. Jika Diana membeli bra dan underwear pasti dia tak lupa juga membelikan untuk Mita. Tapi masalahnya Mita tak pernah menggunakan barang itu. Melihatnya saja membuat Mita bergidik ngeri.

"Nda usah, kamu belikan makanan saja."

"Gak bisa gitu dong. Rugi tahu kalau barangmu gak di pakein barang-barang seksi. Sesekali lihat dong badan Lo di cermin sambil pake pakaian yang gue beli. Pasti seksi banget."

Mita manyun, ia tidak sepercaya diri itu. Memakai tanktop dan celana pendek saja ia merasa tak nyaman.

"Nda mau Diana. Kamu aja yang pake."

"Ish nyebelin banget."

Mita menyimpan rahasia sampai sekarang kalau ia pernah di lecehkan di kampungnya. Tak ada yang tahu, ia menyimpannya sendirian sampai sekarang.

Pada saat itu umurnya lima belas tahun. Pada saat pulang sekolah sepedanya rusak. Ia terpaksa berjalan sambil membawa sepeda rusaknya.

Di tengah jalan, ia bertemu dengan pak RT. Mita takut, karena ia sering kali mendapatkan pelecehan secara langsung. Contohnya saja pada saat ia ke pasar yang di isi oleh banyak orang. Pak RT yang kebetulan dari arah berlawan mencolek payudaranya. Ingin menangis di tengah kerumunan, Mita tentu saja tidak bisa karena ia takut.

Itulah alasan mengapa Mita takut untuk memakai barang-barang seksi. Tidak seksi saja ia di lecehkan bagiamana jika ia memakai baju yang bisa mengundang nafsu laki-laki. Mungkin Mita langsung di seret begitu saja.

putri tidur Stories to obsess over. Discover now