01. THE LIFE OF MORIX

72 8 14
                                        

happy new year 🎇🎆

di awal tahun ini, sebuah cerita baru dimulai, tanpa membawa beban lama, tanpa mengulang luka yang sama.

hanya ada niat untuk berjalan lebih jujur dan harapan agar setiap halaman memiliki maknanya sendiri.

happy reading 🌹

🦖🦖🦖


Sore itu, langit di atas Moonrise Complex, atau yang lebih sering disebut Morix, tampak keemasan.

Suara burung bercampur dengan teriakan anak-anak kecil yang masih main sepeda di jalanan. Tapi kalau bicara soal keramaian, semua orang sudah tahu siapa penyebab utamanya.

"Woy Noel! Balikin bola gue, bego!" teriak Mohan Wirantara, yang di komplek lebih dikenal dengan panggilan Mohan.

Tubuhnya sudah berlari ke tengah jalan sambil menunjuk ke arah Noel Novarien, si partner in crime Aqeela yang sedang kabur membawa bola futsal.

Noel cuma ketawa kencang sambil terus lari, "Bola lo payah Mohan, Enteng banget, nggak kerasa kayak bola futsal beneran. Kayak bola plastik abang-abang ini mah!"

"Ngaco lo! Itu bola, gue beli dua ratus ribu, anjir!" Mohan makin kencang mengejar.

Di pinggir lapangan komplek, anak-anak lain sudah mulai teriak-teriak. Aqeela Celvaira berdiri sambil melipat tangan, mukanya tersenyum puas melihat keributan.

Cewek satu itu memang the life of Morix. Kalau bukan dia yang bikin rusuh, ya dia yang minimal jadi penonton paling ribut.

"Gas, Moh! Jangan kasih kendor! Hajar aja tuh Noel kalau ngeyel!" Aqeela teriak lantang sambil ketawa kencang.

Fattah Zayendra Riezval, yang sedari tadi duduk santai, cuma geleng-geleng kepala. Gaya cueknya memang paling beda, tapi matanya tidak bisa lepas dari Aqeela yang sedang teriak-teriak.

Ia menatapnya lama, seperti biasa. Tapi begitu sadar ada Vania di sampingnya, dia buru-buru mengalihkan pandangannya.

"Serius deh, mereka kayak bocah TK nggak sih?" kata Vania Elviane sambil memainkan ujung rambutnya.

Fattah mendengus. "Ya emang mereka bocah."

"Lo juga sebenernya bocah, Fat," timpal Vania sambil tertawa.

Fattah tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis. Gengsinya terlalu gede untuk ikut tertawa lepas.

Sementara itu, di sebelah pohon mangga, Zara Lynore Avendra duduk tenang sambil ngemil keripik. Cewek kalem itu selalu jadi penonton setia kalau Morix lagi ribut.

Aurelia Ciara Veyra, yang lebih misterius, duduk di sebelahnya sambil menyender ke tembok. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, tapi matanya tidak lepas dari adegan kejar-kejaran itu.

"Lo nggak mau ikut nimbrung, Zara?" tanya Ciara akhirnya.

Zara menggeleng pelan. "Mending jadi penonton aja. Kalau gue ikut malah ributnya makin panjang."

Di tengah keributan, Andro Ryzandar tiba-tiba muncul dari balik motor, sengaja menjegal langkah Mohan. Mohan hampir terjatuh kalo saja ia tidak segera meloncat.

"Woy Andro, apaan sih lo!" Mohan teriak.

Andro malah tertawa. "Biar rame aja, Moh!"

Tak lama, Raditya Ravindel, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Adit. Sahabat setia sekaligus rival ribut Andro, ikutan nyaut. "Lo emang tukang bikin masalah Dro! Gue kasih tau nyokap lo, ya?"

MOONRISE COMPLEX (MORIX)Where stories live. Discover now