31. Persiapan.

15.9K 1K 144
                                        

Prabu menggeram tertahan disela-sela ciumannya dengan Gendhis. Sialan, semakin dekat tanggal pernikahannya. Semakin ia tidak tahan melihat Gendhis. Perempuan itu semakin cantik, semakin menggairahkan dimata Prabu. Terlebih lagi Gendhis semakin dikenal oleh orang-orang dikampungnya. Banyak orang penasaran akan siapa perempuan yang akan ia nikahi. Membuat Gendhis menjadi orang yang kerap dibicarakan oleh beberapa orang.

"Maaash." Gendhis sedikit mendorong pundak Prabu. Pria itu datang-datang mengajaknya naik keatas dan berakhir duduk di pangkuan Prabu.

"Udah ih." Gendhis sekuat tenaga mendorong Prabu menjauh. Prabu memang melepaskan ciumannya. Tapi bibirnya masih terus menghisap dan menjilati lehernya. Membuat Gendhis meremang dibuatnya.

"Mas." Gendhis semakin merapatkan tubuhnya kearah Prabu. Pria itu benar-benar menahan tubuhnya. Gendhis sedikit kurang nyaman saat menyadari bahwa Prabu sudah mengeras dibawah sana.

"Jangan di goyang sayang." Nafas Prabu memburu diceruk leher Gendhis.

"Ya makanya lepasin." Gendhis mencoba untuk memposisikan diri sesuai kenyamanannya. Tapi sepertinya hal itu membuat Prabu semakin frustasi.

"Sial. Yang!" Prabu menggigit ceruk leher Gendhis. Goyangan pantat Gendhis terasa nikmat. Membuat Prabu pusing menginginkan hal lebih.

"Pas?" Prabu menatap Gendhis yang nampaknya sudah menemukan posisi yang pas di pangkuannya. Sangat pas juga bagi Prabu.

Gendhis mengangguk menjawab pertanyaan Prabu. Membuat Pria itu gemas bukan main. Apakah Gendhis tidak menyadari bahwa posisi mereka sangatlah pas dibawah sana.

"Maaash." Gendhis sedikit mendesah kala Prabu menggerakan pinggulnya perlahan.

"Makin keras ih." Gendhis menatap Prabu dengan pandangan sayu. Tubuhnya meremang. Milik Prabu semakin keras menggesek miliknya.

"Gimana ngga keras. Posisimu lo gini." Prabu menatap Gendhis dan turun kebawah. Melihat milik mereka yang tumpang tindih dengan posisi yang sangat pas.

"Akadnya ngga bisa di cepetin kah sayang?" Prabu mengeluh sedih. Ia sangat frustasi akhir-akhir ini.

"Mas tu mau nikahin aku karna pengen hidup bersama selamanya? Atau biar bisa cepet-cepet ... " Gendhis menggantungkan ucapannya. Sebelum melanjutkan, Prabu sudah terlebih dahulu menjawab.

"Hidup bersama lah sayang. Itu bonus. Mas pinjem kamar mandi ya." Prabu menegakan tubuhnya. Mencium Gendhis singkat sebelum menurunkan Gendhis dari pangkuannya. "Kita makan habis ini. Mas mandi dulu sebentar."

***

Gendhis berjalan perlahan dengan hati-hati memijak tanah. Lahan pertanian memang tidak selalu rata, bertekstur kadang juga berlubang. Gendhis membawa dua buah keranjang besar di tangannya. Tadi sepulangnya dari rumah Pak RT. Gendhis melihat Lita tengah menyiapkan banyak bungkus makanan. Lita berkata bahwa semua itu pesanan Prabu untuk pekerja di ladang cabai. Karna Gendhis tidak memiliki urusan lagi, ia memilih mengantarkan pesanan itu sendiri.

Beni dengan sigap berlari kearahnya saat pria itu melihat dirinya membawa dua buah keranjang besar sendirian. Ada Prabu disana, pria itu hanya tersenyum melihatnya dari kejauhan.

"Saya bantu Mbak." Beni mengambil dua keranjang tersebut dari tangan Gendhis.

"Liat tu mas. Bos mu itu. Bukannya batuin malah senyam-senyum doang." Gendhis menatap Prabu sinis.

"Sudah tugas saya Mbak." Beni menjawab cepat omongan Gendhis. Ia hanya bisa menenangkan pacar Tuannya itu.

"Ish. Bela mulu dah." Gendhis berlari sedikit cepat kearah Prabu. Perempuan itu langsung memeluknya dan mencubit pinggang Prabu.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 11, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Gendhis Pacar Mas Juragan (21+)Where stories live. Discover now