Malam turun di atas langit Jakarta.
Hujan membasahi kaca-kaca tinggi rumah itu tanpa henti sejak sore tadi, meninggalkan jejak air yang bergerak samar di permukaannya sebelum menghilang ke bawah.
Rumah utama keluarga Angkasa tetap berdiri megah seperti biasa.
Lampu-lampu di lorong menyala redup. Beberapa staf rumah berjalan pelan di area belakang dengan suara langkah yang nyaris tidak terdengar.
Di ruang tamu utama
Airin duduk sendirian di sofa panjang dekat jendela.
Ia masih mengenakan dress cream yang dipakainya sejak sore tadi. Makeup tipis di wajahnya mulai memudar, menyisakan mata lelah yang sejak tadi hanya diam menatap hujan.
Tidak ada televisi menyala.
Tidak ada musik.
Hanya suara hujan dan detak jam besar di sudut ruangan.
Tik.
Tik.
Tik.
Airin menarik napas pelan.
Dadanya terasa berat sejak tadi sore.
Tangannya bergerak pelan menyentuh ujung rambutnya sendiri yang cukup pendek.
Tepat sebahu.
Matanya perlahan turun.
Kosong, lalu tanpa sadar ia tertawa kecil.
Pendek sekali.
Hujan di luar semakin deras.
Airin memejamkan mata sebentar, dan bayangan sore tadi justru kembali muncul jelas di kepalanya.
Alexandra.
Perempuan itu berdiri beberapa langkah di depannya dengan wajah pucat dan mata yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menghancurkan hidup orang lain.
Nafasnya mulai terasa tidak stabil.
Airin langsung menekan dadanya pelan berharap bisa mengurangi sesak di dadanya, sayangnya rasa sakit itu semakin jelas.
Ia bangkit perlahan dari sofa.
Kakinya terasa lemas, tapi ia tetap berjalan melewati lorong panjang rumah itu.
Lampu-lampu dinding memantulkan cahaya hangat samar di lantai marmer.
Di ujung lorong, ia berhenti tepat di depan foto pernikahan mereka yang berukuran besar. Airin menatap pantulan wajahnya di kaca bingkai tersebut.
Di sana, ia melihat wanita dengan gaun putih dan rambut sebahu yang persis dengan dirinya saat ini.
Angkasa terlihat sempurna dalam setelan hitamnya.
Tenang.
Tampan.
Tatapan laki-laki itu lurus mengarah ke kamera sementara tangannya memeluk pinggang Airin dengan posesif.
Airin melangkah mendekat perlahan.
Ia memperhatikan senyumnya sendiri di foto itu, lalu beralih melihat tangannya yang gemetar.
ia benar-benar melihat dirinya sendiri.
Gaun putih.
Rambut pendek.
Bahkan senyumnya.
Semuanya terasa seperti tiruan seseorang.
Bibir Airin bergetar kecil.
YOU ARE READING
Bunga Terakhir
RomanceKonsep Cerita dan Emosi Utama Novel ini mengisahkan perjalanan cinta dua manusia yang rusak secara berbeda-Angkasa, laki-laki yang hidup dalam tumpukan bayangan masa lalu, dan Airin, perempuan yang tak sadar menjadi perpanjangan dari perempuan lain...
