Cerita ini tidak untuk para remaja labil dan masih bau ee kucing. Mengandung unsur dewasa+kekerasan+bahasa kasar yang mungkin menganggu sebagian dari kalian.
Just for fun guys, harap bijak dengan para tokoh. Author hanya memakai nama mereka sebagai bahan karakter. Jika ada yang tersinggung, harap lapor atau bisa juga protes ya di komentar, author akan semaksimal mungkin membuat kalian nyaman.
Dan yang tidak suka boleh skip ya, karna ceritanya enggak maksa kalian buat tinggal di sini membacanya.
Terimakasih jika intrupsinya sudah habis di baca👍
××××××××××××××××××××××××××××××××××××××
“Kingdom, fantasi…” Erine mendecak pelan, alisnya langsung berkerut saat membaca judul besar di sampul buku. “Kok klise gini sih? Alurnya juga—ya ampun, jelek, Del.”
Tangannya asal menarik satu novel dari rak buku milik Delynn, lalu mengangkatnya seolah benda itu adalah barang bukti kejahatan sastra.
Delynn yang sejak tadi duduk bersila di lantai, dikelilingi buku pelajaran dan kertas PR, langsung mendongak. “Belum juga lu baca, udah dikomentarin aja ke ibu-ibu Facebook!” sahutnya ketus. Tangannya tetap sibuk menulis, tak perduli jika erine mungkin akan mengacak-acak isi kamarnya.
Erine mendengus, tapi tetap menjatuhkan diri di atas kasur. Awalnya ia hanya berniat membuktikan kalau pendapatnya benar—sekilas baca, lalu lanjut nyinyir. Namun entah bagaimana, lima halaman berubah jadi sepuluh. Sepuluh jadi dua puluh.
Kamar itu perlahan sunyi, hanya diisi suara halaman yang dibalik. Sampai akhirnya Erine berhenti di tengah buku.
“Hah… sumpah ngeselin.” Ia menutup buku dengan bunyi thump, lalu menatap langit-langit seolah pangeran di cerita itu ada di sana.
“Harusnya si liam liam ini gak usah jadi pangeran, terlalu bego milih cewek. Ini juga! Putri noel nya bodoh banget ngejar cowok beginian. Astaga! Cerita novel terburuk, tapi kok lu beli sih del?!”
“Itu kan lu yang ngambil asal di rak waktu itu! Gak usah fitnah gw lu!” balas delynn tanpa menoleh.
Erine bangkit setengah duduk, ekspresinya penuh kejengkelan. “Cewek protagonis lemah dari kalangan bawah, hidupnya sengsara, terus—jreng!—dikejar pangeran bego. Yang lebih tolol lagi, si pangeran ninggalin tunangannya sendiri.” Erine mengibaskan tangan kesal.
“Padahal jelas-jelas tuh tunangan cantik, bohay, pinter, berkelas. Paket lengkap anjir.”
“Judulnya pun lebay, apa coba? ‘Gadis Biasa Pilihan Pangeran’. Harusnya diganti jadi—” Erine berhenti sejenak, lalu menyeringai sinis.
“‘Cowok Tolol Gak Tahu Milih Pasangan Hidup’.”
Delynn akhirnya berhenti menulis, agaknya sedikit terusik. Pena di tangannya tertahan di udara. Ia menoleh perlahan, menatap Erine dengan ekspresi antara heran dan capek.
“Udah gila lu?” katanya. “Marah-marah cuma gara-gara cerita novel.” Ia menghela napas, lalu menutup bukunya sendiri sebentar. “Kalo kesel, maki aja authornya di Twitter, jangan berisik di kamar gue.”
Erine membuka mulut, tapi belum sempat membalas.
“Satu lagi, tadi kan niat lu kesini buat ngerjain tugas.” Delynn melanjutkan, menatap tumpukan PR yang belum tersentuh.
YOU ARE READING
KOK BISA?! - Harem
Historical Fiction|| Erine Dom || || Mampir bang, selesaikan dua bab dulu baru di skip || "Hah... sumpah ngeselin." Ia menutup buku dengan bunyi thump, lalu menatap langit-langit seolah pangeran di cerita itu ada di sana. "Yaelah, Del. Sama aja kayak cerita lainnya...
