BAB 1 (Awal yang Salah)

22 7 5
                                        


(Aliya Nadhira)
Malam itu setelah Mutholaah rutin, aku bergegas menuju ke kamar, yang sebelumnnya padahal aku betah diam di musholah hanya karna mencari satu hukum saja ataupun menghafalkan hingga aku benar-benar lelah. Tapi entah kenapa malam itu terasa seakan aku lari dari sesuatu.
Ada yang menunggu, ada yang kutunggu. Benar saja, baru ku buka layar awal seakan kembang api meluncur tanpa arah, apakah ini yang ku tunggu?.
"Gimana dek, sudah Mutholaah-nya?"
"Alhamdulillah. Sudah kang, capek banget. Ini juga masih belum nambah hafalan."
"Iya dek. Jangan malem-malem ya sholehah. nanti sakit."
Aaa bagaimana ini!. Kata itu seakan memberikan ku pelukan hangat. Di antara rasa lelah penutup hari ini.
Kenapa dia harus semanis itu?. Membuat rasa ini sangat nyaman bagiku. seakan ada rasa bahagia yang baru pertama aku rasakan. Bagaimana ini?. salahkah aku bahagia?. Entah kenapa, dadaku terasa penuh- bahagia yang tidak bisa ku jelaskan. Tapi, juga merasa ada yang keliru. Halah tidak sepenuhnya salah kan?. Aku tak pernah benar-benar mengatakan sayang sama kang Asvak dan aku tak benar-benar melakukan gesture romantic sama kang asvak, dan hubunganku hanya sekedar kakak kelas dan adek kelas yang saling membantu dalam kesulitan. Ya, aku tau ini sangat nyaman untuk dikatakan salah.
"Mbak aliyatunnnnn, lagi ngelamunin apa sih dari tadi. Ga ada apa-apa juga. Senyum-senyum sendiri. Kesambet lo nanti!.
Aku terkejut!. dari mana datangnya bocil ini?. Apakah dia sosok vampire yang jalannya bagai angin yang lewat tanpa aba-aba.
"apasiih..., orang aku lagi menghayal indah. Tau ga sih orang pintar itu selalu membuat scenario indah di otaknya sendiri. Wleee!"
Aku bales dengan nada nyebelin, sok ngejek, tapi dalam hati ngakak-dasar bocah comel.
"yeh mana ada kek gitu. Itumah samean sakit huuu kebanyakan ngalu tuh ga baik bikin hati mati!"
"ih iya-iya boceel!"
Sahutku sebel, tapi gemesss.
"gimana tugas presentasi buat nanti malem?, udah selesai?.
"affah?!!. Oh iya!!. Ya ampunn! Gimana inih"
Aku terkejut lagi. Kali ini bukan karna angin yang datang tanpa aba-aba. Seakan ada peluru bom nuklir yang menghantam tanpa kejelasan apa-apa. Bagaimana bisa aku lupa?. Perihal apa yang membuat ku selupa itu?!.
"tuh kan mba aliya nadhiraaaa!!. Samean itu sakit. Mangkannya jangan kebanyakan ngelamun ga jelas"
Ejek anomali satu ini.
"aduh boceeel. Iyaa gampang dah tinggal minta tolong ajar kang asvak kan!.."
"haaa?!"
Sahut Nayla heran.
"uupps!!"
Aku langsung terdiam, mata membesar. Astoge... barusan aku bilang afaaa?!!! (dalam hati)
Mata bocil anomaly ini menyipit seakan mengintimidasi aku yang penuh dengan kerahasian yang harusnya dia sejak awal aku melangkah ke jalan ini. Tapi aku memilih tuk diam, bukan aku tak lagi suka berbagi segalannya dengannya, hanya saja aku memilih waktu yang pas dan gaya bicara yang bijak agar dia tidak menganggap ini jalan yang salah. aku dan bocil ini sudah bersahabat sekitar dua tahun lamanya. Waktu yang sesingkat itu berhasil membuat kita menjadi sahabat, yang ada dikala sedih, maupun senang, yang saling menasehati ketika diantara kita ada yang salah. bisa dikatakan kita itu bestie sedekat nadi.
Tapii, karna itu aku jadi berfikir panjang bagaiman cara cerita tentang ini ke dia. Aku gam au dia meliht ini jalan yang salah. dan apakah ini terlihat jalan yang salah?. tidak!!. Ini terlalu nyaman dan hangat untuk dikatakan salah. aku baru saja merasakan pelukan hangat itu meski hanya lewat kata-kata.
Seakan kehadirannya menjadi rumah tempatku berpulang. Seakan kasih saying yang selama ini aku harapkan sudah menjadi keyataannya. Hadirnya tak membuatku berada dalam kesesatan. Dia selalu membantuku dalam mengerjakan beberapa hal. Dia juga tak pernah bosan mengingatkanku tentang kebaikan. Apakah itu yang dinamakan kesalah?. Toh aku tak pernah bersentuhan. Mana berani aku melakukan dosa yang seperti itu. Sementara, nama santri melekat dihatiku. Ini bukan kesalahan !. namun, apakah ia menerimannya?.

MUSNADWhere stories live. Discover now