[0]

130 18 1
                                        

Kisah hubungan romansa beda status itu klise. CEO dingin dengan gadis kuliahan. Ketua mafia bertunangan dengan perempuan asing entah dari mana. Atau mungkin boss kaya raya dengan sekretarisnya.

Plot cerita begitu sudah klise dan pasaran. Kalau kalian coba cari entah di platform cerita mana, "CEO" lihatlah, akan ada banyak sekali cerita dengan format yang sama.

Wajar sebetulnya, karena kebanyakan pembaca digital itu adalah perempuan, dan perempuan gampang dipikat dengan laki-laki sempurna seperti di novel-novel.

Dan tidak bisa bohong kalau aku termasuk ke golongan perempuan yang ingin menikah dengan laki-laki kaya raya. Aku serius, ini bukan halu.

Mau bagaimanapun, aku sebenarnya tidak menyesal bisa lahir di keluargaku. Keluargaku itu semuanya suka bergerak untuk mendapatkan uang. Tak terkecuali diriku.

Nasib, jika ingin apapun yang berhubungan dengan uang, kami harus mengejarnya lebih dulu, tidak bisa asal minta, "Bunda, aku butuh handphone baru, punyaku sudah rusak" tidak, tidak, tidak.

Inisiatif, kerja, dapat uang, beli sendiri. Begitulah siklus perekonomian kami sebagai kelas menengah ke bawah.

Sudahlah pusing karena uang, hari ini aku malah dibuat makin pusing dengan kehadiran anak pindahan di sekolah, dia duduk tepat di sebelahku.

Dia laki-laki yang cukup tinggi, rambutnya panjang berantakan, dan dia lahir di keluarga kaya raya. Berbeda dengan kebanyakan laki-laki kaya raya, Azam itu good looking—bukan karena punya fitur wajah tirus yang membuatnya nampak tampan, tapi dia punya pipi gemoy serta mata besar yang suka berbinar. kelakuannya juga terbilang cukup aneh.

Walau dia dari keluarga yang berada, sayangnya dia adalah seorang autis tingkat dua, sedang.

Yang paling meresahkan dari tukang ngemut jempol ini tuh ada dua. Terlalu lugu (mudah ditipu), dan terlalu blak-blakan.

"Eva, ini apa? Azam nggak paham." Jarinya menunjuk ke arah gambar bintang di bukunya. "Ini Eva, ini. Azam nggak paham."

Aku dengan sepelan dan sesederhana mungkin berusaha menjelaskan. "Ini namanya bintang, Azam."

Azam kemudian menatapku lama, kenapa mendadak dia menatapku begitu?

"Yang biasanya terang di malam hari?"

"Iya, matahari kita, yang di pagi hari itu juga termasuk bintang."

Azam kembali melihat bukunya di atas meja. "Ohhh."

Azam memandang ke arah gambar ilustrasi bintang di buku paketnya lama. Ia kemudian menoleh padaku. "Bintang, mirip kayak Eva."

Aku dengan bingung langsung menaikkan alis. "Hah? Mirip aku?"

"Iya, Bintang itu mirip kayak Eva." Aku memiringkan kepala, masih tak paham.

"Kok bisa mirip aku?"

Azam mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Azam suka lihat bintang setiap hari, Azam suka lihat Eva setiap hari. Jadi, Eva itu mirip bintang, soalnya sama-sama suka Azam lihat."

Aku buru-buru memalingkan wajah. Bangsat! Aku tau anak autis itu punya sebuah bakat, entah matematika atau melukis. Tapi kenapa Azam harus berbakat bikin orang lain salah tingkah, sih?!

Aku jadi kewalahan dibuatnya.

Ini baru sedikit dari kelakuan Azam yang membuatku selalu ingin memakannya. Dia tidak cuma manis, Azam itu juga menggemaskan.

Tapi memang, sosok lucu, manis, menggemaskan, dan mudah ditipu seperti Azam itu pasti punya predator yang akan selalu mengintainya.

Dan sialnya, aku telat menyadari hal itu.

AUTISTIC LOVE Where stories live. Discover now