1. Marriage Contract

1.1K 81 4
                                        

Short Story




"Gila, lo yakin mau ngelakuin ini, Nyet?" suara Gisel, sahabat paling bar-bar yang gue punya, memecah keheningan di kamar apartemen minimalis gue.

Gue cuma nyeruput kopi pait gue. Rasanya? Sepait takdir yang lagi gue hadepin.

Nama gue Fransiska—panggil aja Siska. Umur 24 tahun, baru lulus S2 dari Amrik, dan punya planning hidup yang udah gue susun rapih: kerja di start-up teknologi, nabung, beli loft kecil, terus adopt anjing Golden.

Tapi, semua planning itu literally dibakar habis sama satu perjanjian bisnis antara bokap gue dan bokapnya Arsen.

Arsenio Dirgantara.

"Yakin apanya, Sel? Gue nggak punya pilihan. Bokap literally ngancem bakal narik semua funding buat yayasan seni nyokap gue kalo gue nolak. Lo tau kan, nyokap gue udah tulus banget bangun itu dari nol?" Gue ngehela napas panjang, ngebiarin rambut gue yang baru di blow jatuh nutupin muka. "Lagian, ini cuma kontrak, Sel. Enam bulan. Setelah itu, cerai. Simpel."

"Simpel pala lo peyang! Nikah itu sakral, Siska! Walaupun lo bilang kontrak, ini ada legalitasnya, ada restu orang tua—walaupun restunya bau duit," Gisel nyentil dahi gue pelan. "Lo bakal tinggal bareng sama cowok asing! Arsen itu terkenal dingin. Mukanya kayak patung Yunani, tapi ekspresinya kayak es balok berasa di kutub."

Gue kenal Arsen, tapi nggak dekat. Dia anak tunggal dari keluarga Dirgantara Group, raksasa di bidang properti. Bokap gue, pemilik Savitri Tech, butuh injeksi modal gede buat proyek ambisius yang katanya bakal ngubah landscape digital Asia Tenggara. Pernikahan ini, kata mereka, adalah 'ikatan sempurna' yang menjamin kedua belah pihak bakal all-in dalam proyek ini.

Satu-satunya yang bikin gue sedikit tenang adalah klausul yang gue paksa masukin ke dalam perjanjian pranikah itu: No Skinship, No Intimacy, No Obligation of a Real Married Couple.

Kami bakal tidur di kamar terpisah. Kami bakal tampil sebagai pasangan sempurna di depan umum, tapi di rumah, kami cuma dua orang asing yang kebetulan numpang hidup di bawah atap yang sama.

"Gue udah bikin perjanjiannya, Sel. Jelas kok. Gue sama dia cuma temen sekamar yang tidur beda kasur. Lo tenang aja,"

Gue meyakinkan Gisel, tapi sebenernya lebih ke meyakinkan diri gue sendiri.


Tiga hari kemudian.

Gue berdiri di depan cermin, pake gaun pengantin custom made yang harganya bisa buat gue liburan keliling Eropa tiga kali. Rasanya aneh. Perut gue mules bukan karena excited, tapi karena takut.

Acara pernikahan super mewah yang cuma dihadiri kolega bisnis dan keluarga inti. Arsen berdiri di samping gue, setelan jasnya necis banget, bikin dia keliatan kayak model catwalk yang nyasar.

Wajahnya? Datar. Senyum yang dia pamerin ke para tamu cuma senyum profesional yang nggak nyampe ke mata.

Pas dia megang tangan gue untuk prosesi tukar cincin, tangannya dingin. Dingin banget. Kontak fisik pertama kami setelah resmi jadi suami istri. Dan itu pun cuma sebatas jari yang nyentuh telapak tangan.

"Senyum, Siska. Mereka liat," Arsen berbisik di telinga gue. Nadanya datar, nggak ada getaran sama sekali.

Gue maksa senyum, senyum terbaik yang bisa gue keluarkan di hari paling palsu dalam hidup gue.

LISA SHORT STORY 2 | Lisa x BoyHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora