Juli, 2020.
Tak terasa sudah dua tahun Afa telah meninggalkan masa merah putihnya dan tinggal satu tahun lagi masanya di putih biru dan tinggal sedikit lagi ia memasuki masa putih abu. Meskipun seolah hanya berpindah gedung saja, akan tetapi tetap saja rasanya akan berbeda.
Setiap titik dan setiap sudut yang awalnya asing kini telah ia jelajahi. Tak ada satu sudut dari SMP Dharma Bhakti yang belum pernah ia pijaki. Dari seorang gadis yang masih lugu dan sedikit pemalu menjadi gadis yang mulai berani dengan jati dirinya yang sedikit tomboy. Serta satu hal yang tidak ketinggalan, kehadirannya adalah untuk merecoki dan menyusahkan Tria.
Tria adalah sebutan untuk ketiga kakak sepupunya, bisa dibilang kakak angkatnya atau kakak pungutnya. Mereka adalah Aksa, Aron dan Awan, ketiga laki-laki itu berbeda tiga tahun dari Afa.
"Mas Aksa! Bagi duit dong!"
Suara teriakan itu menggelegar diantara keramaian yang berada di kantin umum SMU Dharma Bhakti. Anak-anak dari SMA Dharma Bhakti tak lagi asing dengan suara tersebut., apalagi di kantin umum Ace, tempat dimana tongkrongan Tria berada. Meskipun tak hafal pasti dan spesifik, tetapi satu yang mereka tahu, perempuan itu pasti mencari Tria. Sosok Nasyafa Alliona Fauziyah yang pernah membuat geger satu sekolah itu pasti mencari ketiga pengasuh pungutnya.
"Sa, tuh."
Mendengar suara yang sudah terekam di dalam ingatannya, laki-laki pemilik nama Aksalana Marga Adwiyata itu lantas menoleh, dan benar mendapati empat orang gadis dengan rok biru khas SMP memasuki kawasan kantin SMA Dharma Bhakti. Tanpa basa-basi dan sebelum Afa sampai di meja tempatnya menikmati makan siang ini, ia langsung mengeluarkan selembar uang berwarna hijau dan memberikannya ke Awan.
"Buat gue ini?" tanya Awan konyol, mendapatkan tatapan dari Aksa.
"Mau juga lo?"
"Maulah ege!" sahut Awan jelas antusias, ketika laki-laki itu hendak memasukkan uang dua puluh ribu itu ke saku seragamnya, deheman dari laki-laki berkulit putih langsat di sampingnya membuat Awan menghela. Tepat sekali saat itu Afa sampai di meja tempat mereka duduk bersama.
"Ma-"
"Nih!" Awan langsung menyodorkan uang berwarna hijau itu ke depan gadis itu.
Melihat itu Afa lantas mengernyit. "Sejak kapan dirimu punya banyak duit, Mas?"
"Bangke ni anak," umpat Awan ketika uang di tangannya diambil alih oleh perempuan di depannya itu. Diantara Aron dan Aksa, hanya dirinya yang tak memiliki hubungan saudara apapun dengan Afa. Berbeda dengan kedua cowok tersebut, Awan hanyalah teman mereka yang ikut menganggap Afa seperti adiknya, dan hanya dia yang selalu menjadi sasaran kejahilan Afa, sekaligus partner bertengkar Afa. "Gue ada duit gak gue kasih lo."
"Ih?! Kok gitu? Ntar aku ngilang, mampus kalian."
"Fa!"
Suara teguran dari Aksa dan Aron yang serentak membuat nyali Afa menciut. Ia menunduk dan ia peluk lengan kanan Ale, salah satu teman dekatnya. Melihat sahabatnya sedikit ketakutan, Uci mengusap pundak Afa sambil membisikkan sekaligus mengingatkan sesuatu, hal yang tak disukai kedua kakaknya itu.
"Jangan lupa mereka itu pernah setakut itu karena nyariin lu, Fa."
"Maaf, Mas." Afa melirik sedikit ke arah Aksa dan Aron yang menatapnya dengan peringatan dan kekhawatiran. Kedua laki-laki itu tidak suka jika Afa berbicara sembrono seperti itu. Apalagi jika itu menyangkut dirinya sendiri.
Ketika berada di semester satu, Afa pernah dikira hilang karena tersesat saat pulang lantaran tak ada yang menjemput. Selama satu hari Aksa, Aron, dan Awan mencari keberadaannya dibantu dengan teman-teman tongkrongannya juga teman dekat Afa, seperti Uci, Ale, dan Nia. Hingga perempuan itu ditemukan tengah mencuci piring di sebuah pedagang mie ayam, dan itu menjadi pengingat Aksa dan Aron untuk mereka lantaran lalai menjaga Afa.
Sebagai anak tunggal, rasanya seperti mendapatkan sebuah anugrah karena mendapatkan saudara yang pengertian seperti Aksa dan Aron. Terlepas dari hubungan kekerabatan mereka yang terbilang jauh, tetapi bagaimana cara mereka memperlakukan Afa juga menghawatirkan perempuan itu jauh seperti adik sendiri. Hal itu membuat Afa terkadang merasa bersalah karena selalu merepotkan ketiga laki-laki itu karena ia hadir dalam hidup mereka.
Perasaan itu tidak hanya ada pada diri Afa, tetapi pada diri ketiga laki-laki itu. Hadirnya Afa ternyata memberikan sebuah perasaan hangat dan juga hadirnya mewarnai kehidupan mereka dari berbagai sisi. Aksa dan Awan sebagai anak terakhir, dan Aron sebagai anak tengah yang ternyata membutuhkan kehadiran Afa untuk mengisi kekosongan hidup mereka. Dan di sinilah mereka, meskipun berbeda tetapi terasa sama dan saling melengkapi diantara mereka.
Helaan nafas keluar dari bibir Aksa, lalu ia mulai menyantap batagor yang ada di depannya. Setelah itu, tangannya menyapu udara, memberikan kode untuk Afa pergi. Melihat itu, Afa mengernyit. "Diusir? Oke."
"Fa."
Kini bukan dari kakaknya, tetapi panggilan dengan sedikit nada teguran itu dari teman dekatnya, Uci yang berbicara. Melihat Afa sudah berbalik dan mengambil langkah untuk berjalan terlebih dahulu, Uci dan yang lain hanya bisa mengikuti dan menyusul langkah perempuan itu saja.
"Lu jangan keterlaluan juga, Fa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Afraid Self
Fiksi Remaja"Mereka ngga salah kalau pergi, tapi aku yang salah kalau maksa mereka tetap di sini." Ini kisah tentang cerita hidup seorang Nasyafa Alliona Fauziyah, seorang gadis yang lahir dari keluarga sederhana yang hidup apa adanya. Cerita tentang suka duka...
