Pagi itu tidak membawa pertanda apa pun.
Nayala Mantika Ambula masih sempat mengeluh tentang dasi ayahnya yang miring dan cara ibunya memeriksa tas sekolahnya berkali-kali, seolah Nayala masih anak kecil yang bisa lupa membawa buku hanya karena terburu-buru. Di dapur, aroma teh hangat bercampur dengan suara berita pagi, dan semuanya terasa biasa—terlalu biasa untuk sebuah hari terakhir.
Galang berdiri di dekat pintu, mengancingkan jam tangannya sambil menatap Nayala yang sibuk mengenakan sepatu. Seperti biasa, ia mengacak rambut gadis itu sekilas, sebuah kebiasaan yang sudah ada sejak Nayala masih terlalu kecil untuk memprotesnya dengan sungguh-sungguh.
"Jangan pulang terlalu malam," kata Galang, suaranya datar tapi penuh makna.
Nayala mendengus, setengah bercanda. "Iya, Kak. Aku bukan anak TK."
Tak ada yang menyangka bahwa percakapan singkat itu akan menjadi kenangan terakhir yang utuh.
***
Kabar itu datang sore hari, saat Nayala sedang duduk di kelas tambahan dan hujan turun tanpa jeda. Ponselnya bergetar di dalam tas, satu kali, lalu berhenti, seolah ragu untuk mengganggu. Ketika ia akhirnya mengangkatnya, suara di seberang terdengar asing, resmi, dan terlalu tenang untuk sesuatu yang akan merobek dunia seseorang.
Kata kecelakaan terdengar seperti bahasa lain.
Kata orang tua Anda terasa tidak masuk akal.
Dan kalimat kami mohon Anda datang ke rumah sakit membuat tangan Nayala kehilangan kekuatan.
Ia menjatuhkan ponselnya sebelum sempat bertanya apa pun.
***
Ruang IGD terasa dingin, bukan hanya karena pendingin udara, tetapi karena cara waktu berjalan terlalu lambat dan terlalu cepat sekaligus. Nayala duduk dengan seragam sekolah yang masih rapi, lututnya gemetar tanpa ia sadari, sementara pandangannya terus tertuju pada pintu yang belum terbuka.
Tidak ada Galang di sana.
Tidak ada keluarga lain.
Hanya Nayala, menunggu sesuatu yang tidak ingin ia dengar.
Ketika dokter akhirnya keluar, Nayala sudah tahu jawabannya sebelum kata-kata itu diucapkan. Ia mendengarkan penjelasan singkat yang terdengar seperti prosedur, lalu mengangguk pelan, seolah semua itu masuk akal jika diterima dengan cukup tenang.
Ia tidak menangis.
Belum.
***
Pemakaman berlangsung cepat, terlalu cepat untuk dua orang yang telah mengisi seluruh hidupnya. Orang-orang datang membawa simpati, menepuk bahunya, mengucapkan kalimat yang sama berulang kali, lalu pergi dengan langkah ringan karena duka itu bukan milik mereka.
Nayala berdiri lama di depan dua nisan baru, menatap nama yang terasa asing dalam bentuk ukiran batu.
"Kak Galang ke mana?" tanyanya pelan, pada udara yang tidak pernah menjawab.
Baru beberapa hari kemudian ia tahu bahwa Galang telah pergi jauh sebelum semua ini terjadi—dipaksa oleh keadaan, oleh orang tua mereka, oleh pernikahan yang tidak pernah Nayala pahami sepenuhnya. Dan ketika kehancuran datang, ia datang tanpa Galang.
***
Kehilangan itu tidak berhenti pada kematian.
Perusahaan keluarga dinyatakan bangkrut. Rekening dibekukan. Surat-surat resmi berdatangan tanpa peduli bahwa penerimanya masih berseragam sekolah. Rumah yang dulu penuh tawa harus dilepas, dan Nayala belajar bahwa dunia tidak memberi jeda bagi orang yang sedang berduka.
Ia pindah ke rumah susun dengan satu koper dan satu tas punggung, membawa pakaian secukupnya dan kenangan yang terlalu berat untuk ditinggalkan. Kamar itu sempit, temboknya kusam, dan jendelanya menghadap langsung ke bangunan lain—seolah langit pun kini dibatasi.
Malam pertama, Nayala duduk di lantai, memeluk lututnya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia menangis tanpa suara, takut jika kesedihannya terlalu keras, dunia akan mendengarnya dan menertawakan kelemahannya.
"Aku sendirian," bisiknya, bukan sebagai keluhan, tapi sebagai kenyataan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sun and Andromeda | END |
Fiksi RemajaKehidupan Nayala Mantika Ambula runtuh dalam satu hari. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan, perusahaan keluarga bangkrut, dan rumah yang pernah penuh tawa berubah menjadi kenangan yang harus ia tinggalkan. Di usia SMA, Nayala dipaksa tumbuh leb...
