PEMBUKA

68 7 1
                                        

WARNING

CERITA INI HANYA BERSIFAT FIKTIF, APABILA DI TEMUKAN KESAMAAN NAMA TOKOH, LATAR BELAKANG, PROFESI, DAN KONFLIK ADALAH KEBETULAH SEMATA.

CERITA INI MEMUAT BEBEPA ADEGAN DEWASA, KATA-KATA KASAR, DAN UMPATAN. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA.

18+

KU LO SA | Playing With Ego

-Marenoirr-

•••

"Proyek di wilayah B di batalkan" kalimat itu seolah menjadi mimpi buruk di siang bolong bagi wanita yang kini duduk di kursi kerjanya sambal menggenggam drawing pen yang baru saja ia gunakan untuk membuat sketsa.

Wanita itu membeku tatapan kosong menatap kertas-kertas yang berserakan di meja kerjanya. Semua perhitungan, sketsa hasil dari berjam-jam yang membuat dirinya tidak tidur setiap malam, berdebat dengan klien, revisi yang sepertinya tidak ada habisnya, dan kepercayaan terhadapa proyek yang kini menjadi pencapainya terbesarnya. Proyek pada Wilayah B bukanlah hal yang kecil yang bisa ia lepaskan begitu saja.

"Maksud lu?" Joyana bertanya seolah ia tidak percaya dengan ucapan yang Hira katakana di sambungan telepon.

"Proyek wilayah B dibatalkan, Mbak" Ulang Hira kali ini ia berbicara dengan intonasi yang lebih pelan seolah ia tahu bahwa kabar yang ia bawa ini akan mengguncang diri seorang Joyana.

Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia memijat kedua pelipisnya dengan satu tangan, menghelas nafas kasar mencoba untuk menangkan dirinya sendiri yang sebernarnya ingin saja meledak kala itu juga.

Ia bersandar pada kursi kerjanya, menatap langit-langit ruangannya yang sunyi dan dingin, lalu detik berikutnya ia memejamkan matanya membiarkan telepon itu tetap tersambung dengan seorang di sebarang sana.

Wilayah B

Nama itu seolah seperti kaset rusak yang selalu berputar-putar di kepalanya, diikuti deretan angka, jadwal, rapat, revisi desain, dan janji-janji yang saat ini terdengar seperti lelucon.

"Kapan?" Balasnya dengan datar namun terdengar menusuk.

"Barusan" Hira menjawab dengan hati-hati. "Surat resminya baru saja masuk. Stempel yang masih basah dan tanda tangannya lengkap. Habis ini gue kirim ke lu".

Joyana tersenyum kecil seolah mengejak dirinya sendiri "Gak perlu" balasnya cepat seolah ia tahu bahwa Hira akan segera mengirimkan potret dari surat pembatalan proyek itu.

"Alasannya kenapa?" Wanita itu kembali melayangkan pertanyaan.

Joyana bisa mendengarkan tarikan nafas dari Hira. Wanita itu juga bisa membayangkan bagaiamana ekspresi dan gaya khas dari Hira ketika menerima kabar yang tidak menyenangkan.

"Katanya pihak atas butuh pertimbangan lagi buat proyek itu".

Wanita itu terkekeh seolah mengejek alasan pembatalan proyek yang menurutnya sangat tidak logis baginya. "Selalu begitu" gumamnya pelan.

Ia bangkit dari posisinya, melangkah menuju jendela kaca besar yang ada di sudur ruangannya. Dari ketinggian ia menatap Gedung-gedung mrnjulang, lalu Lalang kendaraan yang tidak ada habisnya, orang-orang yang berjalan dengan urusan masing-masing.

"Mbak ini proyek pemerintah" Hira kembali berbicara "Lu tahu sendiri kan konsekuensinya kalau udah menyangkut-"

"Politik kan?" potongnya cepat.

Rasanya Joyana ingin marah sekali saat itu juga, namun ia tahu kemarahannya tidak akan mengubah sesuatu yang sudah terjadi.

Sebenarnya ia sudah berusaha sejauh mungkin untuk tidak terlibat dalam dunia itu. Joyana benci dunia itu baginya semua itu hanya di penuhi kepentingan dan permainan kuasa yang tidak pernah sama sekali ia minati. Tapi entah mengapa takdir seolah menyeretnya dalam dunia tersebut meskipun ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhinya.

"Siapa yang batalin?" wanita itu kembali bertanya dengan nada yang sedikit tinggi.

Wanita itu mengepalkan tangannya membiarkan kuku-kuku panjangnya menusuk telapak tangannya menatap lurus ke arah depan menunggu jawaban dari Hira yang mungkin saja bisa membuatnya berfikir kembali itu merelakan proyek bernilai ratusan juta itu. "Gak usah takut, gue gak bakal bikin masalah" katanya pelan.

"Yang gue tahu adalah tentu saja orang-orang yang bertanda tangan di kertas ini mbak" Hira memberikan jeda sebentar sebelum kembali berbicara. "Tapi setahu gue selain mereka yang bertanda tangan pasti ada dalang di baliknya, mbak. Dan orang itu pasti bukan sembarang orang yang keputusannya bisa nimbus ke antar partai selain itu gue jamin dia punya kuasa penuh buat nutup proyek ini dengan bersih".

Joyana lagi-lagi menghela nafasnya.

Pikirannya sudah di penuhi bayangan sosok dalang di balik pembatalan proyek miliknya itu. Seseorang sangat ia kenal dan sangat ia benci tanpa mencari tahu lebih lanjut Joyan bisa menebaknya saat ini juga.

"Gue tahu siapa" katanya pada Hira.

"Mbak jangan buat masalah, please" Hira terdengar panik mendengar jawaban dari atasannya itu. "Kita cari solusinya buat kerugian ini".

"Gue tahu apa yang harus gue lakuin, sisanya urusan gue".

"Mbak lu jangan cari masalah sumpah mbak, ini politik. Gue gak mampu kalau lu cari gara-gara sama mereka mbak!! Dengerin gue please-"

Wanita itu langsung mengakhiri panggilan teleponnya sepihak.

Joyana tahu keputusan ini bukan implusif. Orang di baliknya adalah orang yang sangat berhati-hati dalam bertindak dan caranya berfikir selalu tidak terduga termasuk dirinya sendiri. Jika proyek miliknya dihentikan oleh orang tersebut, Joyana tahu pasti ada sesuatu yang tidak ia ketahui dan Joyana yakini ini adalah bagian dari rencana yang mungkin saja di susun sejak lama dan di simpan secara rapi.

Ini bukan tentang uang.

Ini tentang kendali dan siapa yang paling berkuasa diantaranya.

•••

MEET MR. MOEHAIMIN AND MRS. SAJIWA WITH LOVE

 SAJIWA WITH LOVE

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
KU LO SAWhere stories live. Discover now