1

119 18 1
                                        

Pagi itu langit terlihat muram, hujan rintik-rintik terus membasahi bumi, meninggalkan bau yang khas. Terus turun dari semalam, seakan langit sedang enggan meninggalkan dataran. Gadis berseragam putih abu-abu terlihat berlari, bergegas menuju gerbang sekolah setelah turun dari angkutan umum. Masa bodoh dengan seragamnya yang jadi basah karena ulah sang hujan, dirinya hanya ingin cepat-cepat sampai kelas.

Gadis itu berjalan di koridor yang sepi, mengeluarkan sebuah kardigan kuning dari dalam tasnya. Sengaja tak ia pakai tadi, takut basah, karena memang ia siapkan hanya untuk menghalau dingin. Ia mengenakan kardigan itu dengan gerakan cepat, mencoba menghangatkan tubuhnya yang menggigil.

"Ketua kelas apanya, jam segini baru datang?"

Kanaya menghela nafas, secara otomatis menghentikan langkahnya. Itu suara yang sedang tidak ingin ia dengar. Suara paling menyebalkan seantero jagat raya menurut dirinya. Cocok sekali dinobatkan menjadi yang paling juara mengoyak gendang telinga, karena menurutnya kaleng rombeng saja rasanya jauh lebih merdu dari ocehan remaja lelaki di hadapannya itu. Oke, itu mungkin agak berlebihan.

Ia mencoba mengabaikan pandangan seseorang yang mungkin bisa membuat kepalanya tertusuk, sungguh tajamnya. Kanaya tahu Anggara masih kesal karena ia mengadukannya kemarin. Ia tidak menyesali keputusannya; toh, ia memang tidak salah. Anggara sudah sering sekali melanggar peraturan, dan sekali-sekali harus dibuat jera.

Kanaya yang terlalu polos mengira harinya akan berjalan lancar. Dirinya lupa akan kehadiran anomali satu itu. Tapi, ya sudahlah, Kanaya tak mau ambil pusing. Ia bahkan tak mau repot-repot menoleh, pandangannya lurus ke depan, kakinya melangkah mantap memasuki kelas yang masih sepi, terlihat baru ada beberapa murid di dalamnya.

"Sombong sekali, kupingmu itu hanya pajangan, hah?"

Abaikan saja, bicaralah semaunya, peduli sekali. Dirinya sedang tidak punya energi meladeni makhluk jadi-jadian itu. Dengan langkah santai, memilih tetap berjalan ke bangkunya. Sepenuhnya mengabaikan lelaki di belakangnya yang ia dengar samar masih setia menggerutu, mungkin kesal karena diabaikan.

Ia menyapa sahabat sebangkunya, Arin, gadis itu sibuk sekali dengan buku catatannya, sepertinya sedang menyalin.

"Lah, kamu lagi ngerjain PR, Rin? memangnya ada?" Kanaya bertanya, agak panik, takut dirinya lupa.

"Nggak ada."

"Terus? kamu lagi ngerjain apaan?"

"Tugas minggu kemarin" jawab Arin santai, masih sibuk membolak-balikan buku catatannya.

Refleks, Kanaya mendorong bahu gadis di sampingnya, cukup kuat hingga membuat tubuh sahabatnya oleng ke samping. Nasib baik, Arin masih bisa menjaga keseimbangan. Kalo tidak, dirinya mungkin akan berpeluk mesra dengan lantai dingin, yang sebagian sudah bertoping lumpur dari sepatu.

"Dasar bocah gendeng, baru mau dikumpul sekarang?" Kanaya menggelengkan kepala, heran dengan kelakuan sahabatnya.

Arin mengangguk lemas, "Aku lupa, Ay." ia menoleh ke arah Kanaya. "Kalo nggak dikumpulin hari ini, bisa-bisa aku nanti yang dimakan sama pak Broto. Kamu tahu, Ay? kemarin aku dicegat pak kumis itu waktu mau beli baksonya Mang Uyang." Arin melanjutkan, "Tapi aku lumayan tenang sekarang, karena aku bukan satu-satunya orang yang akan jadi tumbalnya pak Broto" nada bicaranya terdengar lebih ringan.

Kanaya mengerutkan dahinya, "Siapa lagi?" ia penasaran.

Kanaya mengikuti arah pandang Arin, dengan senyuman lebar gadis itu menatap ke arah pojok kelas. Anggara, lelaki itu, duduk dikelilingi beberapa teman lainnya, sibuk dengan gitarnya, menggenjreng, yang disahuti nyanyian oleh yang lainnya. Suara alunan gitar yang dihasilkan sebenarnya cukup merdu, tapi gengsi sekali Kanaya untuk mengakui. Ia tetap merasa suara 'anomali' itu subang, sungguh tidak enak didengar.

Kisah KasihStories to obsess over. Discover now