I. AT THE TIME WE MET

24 3 0
                                        

.・。.・゜✭・🫧.・✫・゜・。.

Northern Tide


Hujan turun tanpa jeda sejak pagi, menimbulkan kabut tipis yang menyelimuti lereng bukit di desa kecil itu. Tanah di bawah kaki Anjani mulai lembek, setiap langkah terasa seperti menapak di atas napas bumi yang berat. Kamera di tangannya bergetar, bukan hanya karena angin dingin, tapi juga karena kegelisahan yang menekan di dada.

"Pastikan sinyalnya masih ada!" teriaknya ke arah kameramen yang berdiri di bawah payung plastik biru.

"Masih, Mbak! Tapi… sinyalnya naik turun terus!"

Anjani menatap ke arah tebing di seberang sungai kecil di sana, rumah-rumah kayu berdiri rapuh, sebagian sudah miring karena hujan yang tak kunjung berhenti tiga hari ini. Ia menggigit bibir, lalu menunduk, memastikan mic di dadanya terpasang sempurna.

"Baik, kita ambil dari sini," ujarnya pelan, menatap kamera.
Suara lembutnya berbaur dengan rintik hujan dan gemuruh jauh di langit.

"Saya Anjani Gandhita Ayu , melaporkan langsung dari lokasi, lokasi yang terancam longsor akibat hujan deras sejak tiga hari terakhir.. "

Kata-katanya menggantung di udara, tertelan oleh suara yang tiba-tiba meledak di belakangnya, seperti jeritan bumi yang pecah.

"Anjani, awas!"

Semuanya terjadi begitu cepat.
Suara batu runtuh. Pohon tumbang. Tanah bergerak.
Satu detik lalu ia masih berdiri di depan kamera, dan detik berikutnya dunia terbalik dalam warna cokelat lumpur dan abu.

Anjani sempat melihat langit abu-abu, berat, nyaris menelan cahaya sebelum tubuhnya terhempas ke tanah. Kamera jatuh beberapa meter darinya, masih menyala, merekam bayangan payung yang terbuka separuh dan air yang menetes perlahan ke lensanya.

Udara tiba-tiba jadi dingin sekali.
Ia mencoba bangkit, tapi tubuhnya tak mau bergerak. Sebelah kakinya terjepit di antara batu dan ranting. Sakitnya menembus tulang, tapi lebih tajam lagi adalah rasa takut yang merayap ke seluruh tubuh.

'Jangan sekarang, kumohon, aku masih harus pulang. Masih ada berita yang belum ku selesaikan…'

Suaranya terhenti di tenggorokan.
Ia mencoba memanggil, tapi hanya napas tersengal yang keluar. Di kejauhan, suara orang-orang berteriak. Hujan menelan semua.

Sebelum kesadarannya lenyap, Anjani sempat merasa seolah waktu berhenti sesaat.
Suara itu…
Wajah itu..
Bayangannya datang memenuhi kepala Anjani.

Lalu semuanya gelap.

Northern Tide

Suara sirene memecah hujan.
Mobil ambulans berlari di jalanan licin, membelah kabut yang menggantung di antara pohon-pohon pinus. Di dalamnya, tubuh Anjani terbaring lemah, berlumur lumpur dan darah di pelipis kiri. Masker oksigen menutupi wajahnya, sementara paramedis terus menekan perban di luka kakinya yang sobek cukup dalam.

"Tekan terus, tekanan darahnya turun!"
"Siap, Dok!"

Suara langkah kaki bergegas memenuhi lorong rumah sakit ketika pintu ambulans terbuka. Lampu neon putih memantulkan bayangan basah di lantai.
Malam itu, ruang gawat darurat penuh aroma antiseptik dan suara langkah yang terburu.

Anjani tak sepenuhnya sadar. Antara nyeri dan kantuk, matanya sempat terbuka samar. Cahaya putih menyilaukan. Suara-suara bergema di telinganya, terpotong-potong seperti potongan film yang rusak.

"Pasien perempuan, reporter lapangan, luka parah di kaki kanan, pendarahan aktif, kemungkinan fraktur…"

"Dokter yang bisa standby?"

“Dr. Maha baru saja keluar dari operasi, saya panggilkan!"

Nama itu melintas di udara seperti bisikan yang tak seharusnya ia dengar.

Maha.

Samar.
Seolah hujan di luar baru saja berhenti hanya untuk menyebutkan nama itu.

Tak lama, suara langkah berat terdengar mendekat cepat, mantap, seperti detak waktu yang ia kenali entah sejak kapan. Seorang pria muncul di balik tirai ruang darurat. Jas dokternya masih lembap, rambutnya basah oleh keringat. Wajahnya tegas, tapi matanya… ada sesuatu di sana, antara lelah dan terkejut.

"Kecelakaan dari Jagakarsa?" suaranya berat, dalam, dan serak.

"Ya, Dok. Luka terbuka di paha kanan, retak tulang tibia, memerlukan tindakan segera."

Ia menatap pasien di hadapannya. Sekejap, waktu berhenti.

Dunia di sekitar terasa jauh — suara monitor, langkah perawat, bahkan hujan di luar — semuanya memudar.

Hanya ada satu wajah di depan matanya.
Wajah yang dulu pernah ia hafal setiap garisnya.

"Anjani…"bisiknya lirih, seakan nama itu sudah lama terjebak di tenggorokan.

TO BE CONTINUE.

don't be siders..

Don't forget to vote, comment and follow my account guys...
See u in the next chap by sann 🩷

NORTHERN TIDEWhere stories live. Discover now