01.

89 4 3
                                        

Tahun 1900-an, tanah Jawa sudah lama dikuasai Belanda. Bukan lagi rahasia kalau rakyat hanya dianggap sapi perah. Hasil bumi dirampas, tanah dijadikan milik kerajaan asing, dan rakyat dipaksa tunduk. Tapi di sebuah kampung kecil di lereng bukit, orang-orang masih mencoba hidup seadanya. Mereka menanam padi, memelihara ayam, dan berharap pasukan Belanda tidak datang terlalu jauh.

Harapan itu hancur pada suatu siang.

Dari kejauhan, terdengar derap sepatu berat dan denting logam. Debu mengepul di jalan tanah. Puluhan serdadu Belanda muncul, berbaris rapi dengan senapan teracung. Di belakang mereka, beberapa kereta kuda mengangkut peti kayu besar. Wajah-wajah pucat penuh kesombongan itu menatap lurus tanpa peduli orang-orang kampung yang sudah berdesakan di pinggir jalan.

Achmad Patriot Al-Pasha, pemuda dua puluh delapan tahun, berdiri di antara kerumunan. Semua orang memanggilnya Pasha. Ia menatap dengan rahang mengeras, matanya mengikuti setiap gerakan serdadu itu. Di sampingnya, ayah dan ibunya terdiam, hanya menunggu apa yang akan terjadi.

Seorang perwira Belanda dengan seragam rapi naik kuda hitam. Suaranya lantang, bercampur logat kasar.

“Mulai hari ini, kampung ini milik kerajaan Belanda! Semua lelaki akan dibawa ke tambang! Semua wanita dan anak-anak harus tunduk! Siapa pun yang melawan, akan dihukum mati!”

Teriakan itu menggema. Orang-orang panik, beberapa ibu langsung meraih anak-anak mereka. Seorang lelaki tua maju, wajahnya merah padam.

“Kami bukan budak! Ini tanah kami!”

Dor! Dor!

Tembakan meledak. Tubuh lelaki tua itu terhuyung lalu jatuh. Darah mengalir deras membasahi tanah kering. Semua orang membeku. Tangisan pecah, tapi tak ada yang berani bergerak.

Perwira itu mengangkat cambuknya tinggi. “Inilah akibat melawan kerajaan Belanda!”

Dua serdadu menyeret seorang gadis remaja keluar dari rumahnya. Usianya paling lima belas tahun. Ia menjerit, meronta, tapi kepalanya ditekan kasar ke tanah. Pakaiannya dicabik-cabik di depan mata orang banyak. Gadis itu diperkosa di tengah jalan, dijadikan tontonan umum. Semua orang dipaksa melihat, laras senapan diarahkan ke kerumunan agar tak ada yang berani berpaling.

Pasha menggertakkan giginya. Tubuhnya bergetar, amarah memuncak. Tapi ia tahu, jika ia bergerak, peluru akan menembus kepalanya.

Tawa serdadu-serdadu itu pecah. Mereka bersorak setiap kali gadis itu berteriak. Bagi mereka, tubuh budak hanyalah mainan.

“Lihat baik-baik!” teriak perwira di atas kuda. “Wanita kalian milik kami! Dan bukan hanya wanita. Pria kalian pun sama!”

Benar saja. Tak lama, seorang pemuda ditarik paksa dari kerumunan. Ia dipukul sampai tersungkur, lalu dipermalukan dengan cara yang sama. Tangis dan jeritannya dijadikan hiburan, tontonan untuk menanamkan rasa takut.

Orang-orang terdiam. Beberapa muntah, beberapa menutup wajah anak-anak mereka, tapi Belanda tidak peduli. Mereka menikmati penderitaan itu.

Pasha memejamkan mata sejenak, lalu membukanya lagi. Ia harus mengingat semuanya. Ini bukan sekadar kekejaman, ini awal dari neraka yang akan ia hadapi.

•••

Malam itu, kampung berubah jadi penjara terbuka. Serdadu Belanda mendirikan pos di balai kampung, menyalakan obor, dan berpatroli. Rumah-rumah didobrak kapan saja. Wanita diseret keluar, diperkosa di jalan, lalu dilempar kembali ke rumah seperti barang rusak. Para lelaki yang mencoba melawan dipukuli sampai mati, mayatnya dibiarkan tergeletak sebagai peringatan.

Di rumahnya, Pasha duduk di lantai, tubuhnya kaku. Ibunya memeluknya erat, sementara ayahnya sudah dibawa entah ke mana. Malam dipenuhi jeritan, tangisan, dan tawa serdadu yang bergema. Tidak ada doa yang bisa menahan neraka itu.

•••

Keesokan paginya, perintah diumumkan. Semua lelaki muda harus berkumpul di lapangan. Pasha ikut berdiri bersama puluhan pemuda lain, tangannya terikat rantai besi.

Perwira itu menatap mereka satu per satu. “Kalian semua budak kerajaan Belanda. Kalian akan bekerja di tambang. Siapa pun yang melawan akan ditembak. Siapa pun yang mencoba kabur akan dipermalukan di depan umum, lalu dibunuh.”

Orang-orang terdiam. Beberapa menangis, beberapa menunduk tanpa daya. Pasha tetap menatap lurus, matanya membara.

Barisan budak baru digiring keluar kampung. Di belakang mereka, kampung yang dulu damai kini tinggal reruntuhan air mata. Anak-anak berpegangan pada ibunya yang lemah, para wanita terisak sambil menatap suami dan anak lelaki mereka dibawa pergi.

Pasha menoleh sekali lagi. Ia melihat wajah ibunya di antara kerumunan, pucat dan berlinang air mata. Ia menelan amarahnya, lalu melangkah dengan rantai di tangan.

Hari itu, tahun 1900-an, di bawah cengkeraman penjajahan Belanda, hidup Pasha berubah selamanya. Dari seorang pemuda kampung, ia kini menjadi budak koloni, dipaksa masuk ke tambang, dipaksa tunduk, dipaksa menerima bahwa tubuh dan harga diri bangsanya dijadikan mainan.

Budak KoloniWhere stories live. Discover now