Prolog

18 7 0
                                        

Keringat membasahi dahi Sena. Napasnya terengah, tetapi senyum tipis terukir di wajahnya. Cermin besar di depannya memantulkan bayangan dirinya dan beberapa trainee lain yang baru saja menyelesaikan koreografi terakhir.

Sudah pukul sembilan malam, dan tubuhnya berteriak minta istirahat. Ia mengemasi tasnya dengan gerakan lambat, berharap bus terakhir belum pergi.

Dunia luar terasa jauh; hanya ada studio ini, musik yang terus berputar di kepalanya, dan mimpi yang terasa begitu dekat namun juga sangat jauh.

Di sisi gedung yang lain, di lantai yang berbeda, Aksara terbangun kaget. Alarmnya mati. Ia melihat jam dinding, matanya membelalak. Jadwal latihan vokal solonya dimulai 15 menit yang lalu. Panik, ia menyambar jaket dan ponsel, melupakan segalanya.

Sepatunya tergeletak di samping pintu. Ia memasukkan kakinya, menarik tali dengan asal, dan membiarkannya menggantung longgar. Tidak ada waktu untuk mengikatnya dengan benar. Pikirannya hanya satu: mencapai ruang latihan secepat mungkin.

Di luar gedung, Sena melangkah gontai menuju halte bus. Earphone terpasang di telinganya, menyembunyikan kebisingan kota dan kelelahan yang ia rasakan.

Tepat saat ia tiba, seorang pria berlari melewatinya. Terburu-buru, panik, dan ceroboh. Ia tersandung. Dan di sanalah, di bawah lampu jalan yang temaram, sebuah tali sepatu yang tak terikat menghentikan langkah seorang idola, dan mempertemukannya dengan takdirnya.

Senandung Halte BusWhere stories live. Discover now