Zenara tidak pernah baik-baik saja selama lima tahun ini berperan sebagai pengasuh bagi putri Kaze. Perannya bukan hanya sebagai pengasuh, juga sebagai pemuas gairah Kaze yang istrinya sudah lama tiada. Pria itu selalu menyampaikan lamarannya setela...
[Haiii! Cerpen baper yang bisa kalian nikmati dalam sekali duduk datang lagi! Kalian bisa membaca selengkapnya di Karyakarsa kataromchick, ya. Happy reading semuanya:)]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Zenara memejamkan matanya untuk mengumpulkan kesabaran yang semakin hari rasanya semakin tipis. Mengurus anak kecil memang tidak pernah mudah, sudah mau meledak saja api dari mulut Zenara layaknya naga.
"Darla mau tambah tinggi atau nggak?"
Darla bersedekap dan menghindari tatapan Zenara. "Kata ayah manusia bakal tumbuh dan berkembang. Artinya Dala bisa tumbuh setinggi ayah nanti, kalo udah besal."
"Ayah kamu lupa untuk bilang ke kamu, bahwa setiap manusia yang tumbuh tinggi dan berkembang dengan baik itu hasil dari asupan yang berkualitas dan bagus. Contoh dari asupan yang bagus adalah makanan bergizi. Susu yang menunjang pertumbuhan tulang dengan sumber kalsium untuk menguatkan tulang manusia—"
"Teori yang kamu berikan ke Darla sangat jauh dari kemampuannya untuk menyerap, Zenara."
Kaze, ayah Darla, sudah bersedekap dan menyandarkan diri di kusen pintu kamar putrinya. Zenara tidak aneh melihat keberadaan pria itu di sana.
"Bapak sudah pulang," ucap Zenara dengan helaan napas lega.
Setidaknya akan ada orang yang bisa mengimbangi cerewetnya Darla dalam membuat alasan.
"Ayah!"
Darla masuk dalam pelukan ayahnya dengan senang. Senyuman Darla membuat Kaze tertawa senang.
"Zenara, tolong buatkan saya susu juga. Supaya saya bisa menikmatinya bersama putri saya yang manis ini."
"Baik, Pak."
Zenara melakukan tugasnya tanpa bicara panjang kepada Darla yang hanya menjulurkan lidahnya pada Zenara yang melewati mereka dengan gestur meledek yang sama pada anak itu.
Sepanjang membuatkan susu untuk Kaze, ada banyak hal yang masih tidak bisa Zenara terima begitu saja hingga kini. Pikirannya berkeliaran hingga satu bisikkan yang begitu jelas di telinganya mengembalikan Zenara ke dunia nyata.
"Malam ini kamu menginap, 'kan?"
Zenara mengaduk susu pesanan Kaze dan memutar tubuhnya hingga menghadap pria itu. "Keluarga saya datang dari kampung hari ini, Pak. Saya harus di rumah."
Kaze menghela napas kecewa. "Saya udah berharap kamu bisa menginap malam ini."
Zenara menatap pria itu dengan lembut. "Susu yang Bapak pesan."
Kaze menerima gelas yang Zenara sodorkan, lalu dengan satu tangan lainnya dia menarik pinggul Zenara untuk merapatkan tubuh mereka. "Untung saya bisa pulang lebih awal hari ini. Jadi, kita bisa melakukannya nggak harus di malam hari."
"Pak, Darla gimana?"
"Tidur. Kamu pasti kasih obat tidur ke susunya Darla."
Dengan terkejut Zenara menggelengkan kepala. "Saya nggak gila untuk memberi obat tidur ke anak-anak, Pak."
Kaze tersenyum dengan reaksi Zenara itu. "Memang nggak. Saya hanya menggoda kamu saja. Darla memang lebih mudah tidur setelah meminum susunya dan mendapatkan pelukan hangat dari ayahnya."
Kaze meletakkan gelas berisi susu itu. Dengan cepat mengangkat Zenara untuk melingkarkan kedua kakinya di pinggul Kaze menuju kamar pria itu.
Bunyi kecipak dari bibir yang menyatu membuat mereka tidak mendengarkan suara-suara yang lain. Kaze memastikan pintunya terkunci agar tidak ada insiden Darla memergoki ayahnya tidur dengan pengasuh anak itu.
Penyatuan tubuh keduanya benar-benar menjadi hal yang sangat Kaze suka. Seberapa banyak Kaze mengisi tangki kepuasan dari Zenara, tetap tidak cukup bagi pria itu. Setiap kali peluh mereka membasahi tubuh satu sama lain, dan saat Kaze buru-buru melepas kejantanannya agar tidak membuat Zenara hamil sebelum resmi menikah, Kaze sangat frustrasi untuk membawa Zenara pada keputusan yang sama.
"Menikahlah dengan saya, Zenara."
Ini sudah kesekian kalinya Kaze meminta perempuan itu untuk mau menerima pinangannya. Tapi tidak ada satu pun pinangan yang Zenara terima.
Zenara mengusap pipi Kaze dan tersenyum penuh misteri. Kaze tidak mengerti kenapa Zenara selalu tampak sedih jika Kaze menyampaikan lamarannya pada perempuan itu.
"Saya mandi duluan, ya, Pak."
Lagi. Zenara menolak Kaze dengan mengabaikan ajakan menikah pria itu.