Awal mula

1.4K 30 11
                                        

Heningnya larut malam itu pecah oleh derit pintu pagar yang berusaha dibuka perlahan. Pukul 01.30, bayangan Alesha menyusup masuk ke dalam pekarangan rumah megahnya, bagai hantu yang takut pada cahaya bulan. Setiap langkah kakinya di atas keramik dingin terasa seperti pengakuan dosa; ia menapak dengan hati-hati, menahan napas, berharap tak satu pun lantai yang berderit atau satu pun perabot yang bersuara. Dalam benaknya, hanya satu mantra: jangan sampai mereka terbangun.

Namun, nasib berkata lain. Tangan yang hampir menyentuh gagang pintu kamarnya terhenti kaku oleh sebuah teriakan yang memecah kesunyian, menusuk langsung ke jantungnya.

ALESHA KINASIH RAMADHANI!”

Suara itu, milik ayahnya, Pak Rizal, menggema di lorong yang luas, penuh dengan getaran kemarahan yang sudah lama dipendam. Alesha berbalik pelan, seperti bergerak dalam mimpi buruk. Ludahnya terasa pahit saat ia telan. Di sana, berdiri kedua orang tuanya. Sosok ayahnya tegang bagai batu, sementara air mata diam-diam mengalir di pipi ibunya, Ibu Sarah. Pandangan mereka bukan sekadar marah; itu adalah campuran sakit yang mendalam, kecewa, dan ketakutan yang telah berubah jadi amarah membara.

“Anak perempuan tidak pulang berhari-hari,” desis Pak Rizal, suaranya parau dan getir. Setiap kata diukir dari rasa frustrasi yang dalam. “Bermain-main dengan pria? Apa yang kau lakukan?”

“Ayah…” ucap Alesha, suaranya lirih, nyaris tak terdengar, mencoba mencari pembelaan yang bahkan ia sendiri tahu tak akan didengar.

“Apa? Mau jelasin apa lagi, ha? Ayah sudah tidak habis pikir, Alesha!” teriaknya, dan untuk pertama kalinya Alesha mendengar gema kegagalan yang retak dalam suara tegas ayahnya itu. “Ayah merasa gagal mendidikmu.”

Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada teriakan mana pun. Alesha merasa lututnya lemas. “Ayah… maafin Alesha,” ratapnya, suaranya bergetar menahan isak tangis yang sudah mengganjal di kerongkongan.

“Berkali-kali! Ini sudah bukan pertama kalinya, Nak. Kamu satu-satunya putri Ayah, permata kami… tapi kau membuat Ayah malu dan, yang lebih parah, khawatir setiap saat.” Dadanya naik turun dengan cepat. “Ayah tidak punya pilihan lain. Untuk kebaikanmu sendiri, besok Ayah akan membawamu ke pesantren. Di sana kau akan belajar disiplin dan taat.”

Pesantren. Kata itu menggema di kepalanya bagai lonceng kematian. Dunianya runtuh seketika. Kaki yang sudah lemas itu akhirnya menyerah, dan Alesha terjatuh lunglai di lantai yang dingin. “Tolong, Ayah, jangan…” pintanya dengan suara serak, air matanya sudah membasahi karpet mewah di bawahnya. “Jangan kirim Lesha ke pesantren. Lesha janji akan berubah…”

Tapi Pak Rizal memalingkan wajah, menutup hatinya dari permohonan putrinya. Keputusan itu terasa pahit, tapi baginya, itu perlu.

Alesha pun beralih kepada sang ibu, pelindung terakhirnya. “Ibu, tolong,” bisiknya penuh harap, merangkak sedikit mendekat. “Lesha tidak mau jauh dari Ibu…”

Ibu Sarah mengusap air matanya, wajahnya berkerut dalam kepedihan yang luar biasa. “Maafkan Ibu, Nak,” ucapnya lembut namun pasti, suaranya bergetar. “Ibu juga setuju dengan Ayah kamu. Kamu sudah melangkah terlalu jauh, Lesha. Kami tidak bisa membiarkanmu seperti ini lagi.”

Penolakan terakhir itu memutus semua talinya. Sedih dan rasa bersalah yang tadi menyelimuti langsung berubah jadi amarah yang meluap-luap. Alesha berdiri dengan cepat, tubuhnya gemetar. Mata yang tadi memelas kini menyala-nyala.

“KALIAN BERDUA GAK SAYANG AKU!” bentaknya, suaranya meninggi hingga nyaris menjerit, memenuhi seluruh sudut rumah. “AKU BENCI KALIAN! AKU BENCI!”

Dengan reaksi yang hampir refleks, dipicu oleh rasa frustrasi puluhan hari yang meledak dan tak tertahankan lagi, tangan Pak Rizal melayang.

Plak!

Sketsa Takdir AllahBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin