Loop Awal atau Bukan?

4 0 0
                                        

Aroma kopi yang pekat dan harumnya roti bakar yang baru saja keluar dari pemanggang memenuhi ruang makan, menyambut pagi yang cerah di kediaman keluarga Aiden. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah jendela, memantulkan cahaya keemasan di atas meja kayu tempat Aiden duduk bersama nenek, ayah, dan ibunya. Suasana pagi itu terasa begitu hangat, tenang, dan normal—sebuah kontras yang sangat mencolok dengan sisa-sisa mimpi aneh yang menghantuinya sejak ia masih kecil. Dalam tidurnya, Aiden sering melihat fragmen kehancuran yang mengerikan; bintang-bintang yang padam satu per satu, planet yang retak, dan suara tiupan sangkakala yang frekuensinya seolah membelah langit. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengenyahkan imaji visual yang mengganggu itu dari benaknya. "Hanya mimpi," bisiknya dalam hati, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa dunia yang ia pijak saat ini adalah satu-satunya realitas yang nyata.

"Aiden, habiskan sarapanmu. Nanti keburu dingin dan tidak enak lagi," tegur ibunya dengan nada lembut namun penuh perhatian, menyadarkannya dari lamunan yang dalam. Aiden tersentak kecil, lalu menatap piringnya yang masih penuh. "Ah, maaf Bu. Aku hanya sedikit melamun," sahut Aiden sambil segera menyendok nasi goreng dengan cepat. Ia tahu ia harus bergegas. Pagi ini, ia memiliki jadwal pekerjaan paruh waktu di toko kue milik keluarga Zara. Uang tambahan dari hasil keringatnya sendiri sangat berarti untuk membantu ekonomi keluarganya, dan ia tidak ingin datang terlambat meskipun hanya satu menit.

Setelah berpamitan dengan sopan dan mencium punggung tangan neneknya, Aiden melangkah keluar rumah dengan penuh semangat. Langkah kakinya terasa ringan menyusuri jalanan kota yang mulai berdenyut oleh aktivitas penduduk. Sambil berjalan, pikirannya melayang pada sosok Zara, gadis manis pemilik toko kue yang sudah dikenalnya sejak kecil. Aiden merasa sangat nyaman berada di dekat Zara dan ibunya; mereka sudah seperti keluarga kedua baginya. Setibanya di depan toko, aroma manis mentega dan adonan roti yang sedang dipanggang langsung menyerbu indra penciumannya, memberikan rasa nyaman yang familier.

"Selamat pagi, Aiden! Kamu datang tepat waktu seperti biasanya," sapa Zara dengan senyum cerah yang membuat matanya yang berbinar tampak semakin indah. Aiden membalas senyuman itu dengan tulus. "Pagi, Zara. Siap untuk bekerja?" Tanpa menunggu instruksi lebih lanjut, Aiden segera mengambil kain lap dan mulai membersihkan kursi-kursi kayu di area pengunjung. Namun, karena terlalu bersemangat, ia menarik kursi sedikit terlalu kasar hingga menimbulkan suara decit yang keras.

"Aiden, kalau lagi menyusun kursinya tolong pelan-pelan, jangan dijatuhkan begitu," seru Mama Zara sambil terkekeh dari balik konter kasir. "Nanti kursinya rusak sebelum ada pelanggan yang duduk." Zara yang baru saja keluar dari dapur membawa nampan berisi 'croissant' hangat ikut menimpali. "Iya, Aiden. Santai saja. Ingat tidak waktu kita masih kecil dulu? Kamu selalu bergerak sangat cepat dan bersemangat seperti itu sampai-sampai pernah menabrak rak tepung." Aiden tertawa kecil menanggapi godaan itu. "Bagaimana aku bisa lupa? Dulu kita sering main petak umpet di taman belakang toko ini sampai baju kita kotor semua. Dan kamu, Zara, selalu saja punya tempat persembunyian yang tidak masuk akal sampai aku menyerah mencarimu."

Mama Zara menatap mereka berdua dengan tatapan penuh kasih. "Kalian berdua memang seperti anak kembar, selalu bersama dalam susah maupun senang. Aku ingat sekali dulu Aiden adalah pelindung setiamu, Zara. Dia selalu membelamu kalau ada anak-anak nakal di sekolah yang mencoba mengganggumu." Mendengar itu, Aiden merasakan sedikit rona merah di pipinya, tapi senyum kecil tetap menghiasi bibirnya. "Itu karena Zara selalu menarik perhatian mereka dengan kue-kue bekalnya yang enak," kilahnya. Mereka bertiga tertawa bersama, suara tawa yang memenuhi ruangan toko itu terasa begitu murni. Namun, di tengah tawa itu, Aiden tiba-tiba terdiam kaku. Sebuah sensasi 'déjà vu' yang luar biasa kuat menghantam kesadarannya. Percakapan ini, posisi duduk Mama Zara, hingga cara Zara memiringkan kepalanya saat tertawa—semuanya terasa seperti sebuah adegan film yang sudah pernah ia tonton berkali-kali.

Dengan perasaan ragu, Aiden mencoba menceritakan beberapa fragmen mimpi buruk yang sering menghantuinya kepada Zara dan Mamanya. Ia menceritakan tentang langit yang terbelah dan suara terompet yang membuat seluruh dunia bergetar hebat. Ia mengira mereka akan menganggapnya aneh, namun reaksi Zara justru di luar dugaan. Gadis itu mengerutkan kening dalam-dalam, matanya menerawang ke arah jalanan di luar toko. "Rasanya... aku pernah mendengar cerita ini sebelumnya, Aiden. Bukan sebagai cerita fiksi, tapi seperti sesuatu yang pernah aku lihat sendiri," ucap Zara dengan suara pelan yang bergetar. Mama Zara mencoba menenangkan dengan mengatakan itu mungkin hanya kebetulan, namun Zara tetap menggeleng kuat. "Bukan, Ma. Ini lebih dari sekadar kebetulan. Ini seperti perasaan yang tertinggal dari masa lalu yang sangat jauh."

Setelah menyelesaikan jam kerjanya, Aiden berpamitan untuk segera berangkat ke sekolah. Namun, di tengah perjalanan, ia melihat sebuah keributan di sudut jalan. Seorang anak laki-laki yang ia tahu bernama Kai sedang dikelilingi oleh tiga orang siswa berbadan besar yang mengenakan ban lengan OSIS. Mereka tampak sedang mengintimidasi Kai, mendorong bahunya dan mengejeknya dengan kata-kata kasar. Tanpa pikir panjang, Aiden berlari menghampiri mereka. Ia merasakan dorongan insting yang sangat kuat untuk bertindak. "Hei! Hentikan itu! Apa kalian tidak punya pekerjaan lain selain menindas orang?" teriak Aiden sambil mendorong salah satu anggota OSIS tersebut.

Terjadilah perkelahian singkat di trotoar itu. Aiden, yang entah mengapa merasa otot-ototnya sudah sangat terlatih untuk bergerak secara refleks, berhasil memukul mundur para perundung itu dengan beberapa gerakan bela diri yang efektif. Mereka pergi dengan wajah masam sambil melontarkan ancaman kosong. Kai menatap Aiden dengan mata yang berbinar penuh kekaguman. "Terima kasih banyak... kau menyelamatkanku," ucap Kai dengan tulus. Aiden menepuk bahu Kai. "Sama-sama. Jangan biarkan mereka menginjakmu lagi. Nanti kalau ada waktu, aku akan mengajarimu beberapa teknik untuk membela diri." Kai mengangguk antusias, namun sesaat kemudian ia terdiam dengan tatapan kosong, seolah-olah ada memori yang mencoba mendobrak masuk ke dalam pikirannya.

Setelah jam sekolah berakhir, Aiden mengajak Zara dan Kai untuk mampir ke rumahnya. Namun, di tengah perjalanan yang seharusnya tenang, realitas mereka kembali terguncang. Mereka melihat seorang remaja laki-laki berlari dengan napas terengah-engah sambil mendekap sebuah benda logam berbentuk televisi kecil di dadanya. Di belakangnya, beberapa robot tak berawak dengan sensor merah yang menyala mengejarnya sambil melepaskan tembakan peringatan. "Awas! Semuanya merunduk!" teriak Aiden, menarik Zara dan Kai ke balik reruntuhan bangunan gudang tua di gang sempit.

Mereka berhasil menarik remaja itu—yang kemudian mereka ketahui bernama Ray—ke dalam persembunyian. Di dalam kegelapan gang tersebut, benda berbentuk televisi kecil yang dibawa Ray tiba-tiba memancarkan cahaya putih keperakan yang sangat terang. Cahaya itu menyelimuti mereka berempat, menciptakan sebuah kubah energi yang terasa hangat namun sangat kuat. Ray tampak sangat bingung karena ia merasa baru pertama kali bertemu dengan Aiden dan yang lain, namun di sisi lain, Aiden, Zara, dan Kai merasakan sebuah keakraban yang sangat dalam, seolah-olah mereka adalah kawan lama yang telah melewati medan perang bersama-sama.

Saat cahaya itu meredup dan menyatu ke dalam tubuh mereka, Aiden merasakan aliran listrik dan kekuatan kinetik yang luar biasa mengalir di setiap sarafnya. Namun, kemunculan energi itu juga mengaktifkan sensor robot-robot pengejar yang kini mengepung gang tersebut. Dalam sebuah pertempuran singkat namun intens, Aiden dan kawan-kawannya—yang kini memiliki kekuatan atom, waktu, gravitasi, dan elektro—berhasil menghancurkan robot-robot tersebut dengan koordinasi yang sangat presisi, seolah-olah mereka sudah berlatih bersama selama bertahun-tahun.

Setelah debu pertempuran mengendap, mereka saling bertatapan dalam keheningan yang mencekam. "Apa yang sebenarnya terjadi pada kita?" bisik Kai sambil menatap tangannya yang masih memancarkan percikan listrik. Tiba-tiba, robot televisi itu melayang dan memproyeksikan sebuah hologram. Robot itu memperkenalkan dirinya sebagai Nova. Ia menawarkan sebuah kesepakatan: sebuah permintaan apa pun akan dikabulkan jika mereka bersedia membasmi ancaman penjahat di galaksi ini. Zara menatap Aiden, dan untuk sekilas, ia melihat bayangan di wajah sahabatnya itu. Rasa 'déjà vu' itu kini menjadi kenyataan yang tak terbantahkan. Siklus 'Time Loop' telah resmi dimulai kembali, dan meskipun ingatan mereka masih samar, Zara tahu bahwa ia telah membuat sebuah janji besar di masa lalu. Ia menerima takdir itu dengan keberanian baru, siap untuk mengulang petualangan ini demi sebuah kebahagiaan yang hakiki.

Tanpa membuang waktu, Ray dan Nova pun ikut berkunjung ke rumah Aiden, mengulangi pola kejadian yang persis sama dengan garis waktu sebelumnya. Di bawah atap rumah Aiden yang sederhana, sebuah aliansi pahlawan galaksi baru saja dilahirkan kembali dari abu masa lalu, siap menghadapi labirin waktu yang telah dirancang oleh sang arsitek misterius.

Nova Nebula (series 2: the time loop)Where stories live. Discover now