🍁
Namaku Castella Bell. Sebuah nama yang terdengar asing dan megah, kontras dengan kehidupanku yang berdebu dan biasa saja di sudut kota Daegu. Di usia dua puluh delapan tahun, aku adalah produk kegagalan yang sempurna.
Lulusan hukum yang terjebak dalam pekerjaan administrasi tingkat rendah di sebuah firma kecil, dengan gaji yang hanya cukup untuk membayar sewa apartemen sempit dan tagihan bulanan. Itu pun jika aku berhemat dan sering melewatkan makan malam.
Orang tuaku? Aku tidak pernah mengenal mereka. Ayahku, menurut cerita nenek, adalah seorang pelaut dari negeri jauh yang singgah sebentar lalu pergi selamanya. Ibuku meninggal tak lama setelah melahirkanku.
Aku dibesarkan oleh kakek dan nenek di sebuah rumah kecil di pinggiran kota, tempat dimana aroma tanah basah sehabis hujan selalu akrab di hidungku. Kakek sudah berpulang lima tahun lalu, beberapa bulan sebelum aku wisuda. Dan nenek berpulang dua tahun lalu, setelah lama tinggal di rumah sakit.
Kini, tinggal lah kenangan mereka yang tersisa.
Hari ini, semesta sepertinya memutuskan bahwa penderitaanku belum cukup. Hari ini, aku berdiri di depan sebuah altar sederhana di sebuah rumah duka yang pengap, menatap sebuah foto yang merenggut sisa-sisa kewarasanku.
Di dalam bingkai kayu itu, seorang pemuda tersenyum. Senyumnya begitu hangat, begitu hidup, seolah ia bisa melompat keluar dari foto itu kapan saja dan memelukku. Matanya yang sedikit sipit menyipit lucu, menampilkan pancaran kebahagiaan murni yang selalu berhasil menulari siapa pun di sekitarnya. Sing. Suamiku.
Udara di sekitar terasa berat, dipenuhi aroma dupa dan bunga krisan putih yang menyengat. Bunga kematian. Ironis, Sing selalu bilang ia lebih suka bunga matahari karena terlihat lebih ceria. Tapi di sini, di hari terakhirnya di dunia ini, ia dikelilingi oleh lautan krisan putih yang muram.
Aku mengenakan sangbok, pakaian duka tradisional Korea berwarna hitam longgar. Kain kasarnya terasa menggesek kulitku, tapi aku tidak merasakan apa-apa. Seluruh sistem sensorikku seakan mati. Aku hanya bisa menatap foto itu, mencoba memahami realitas yang terasa seperti lelucon paling kejam.
Baru setahun yang lalu. Ya, baru tiga ratus enam puluh lima hari yang lalu, kami berdiri di sebuah kantor catatan sipil, bukan di aula pernikahan mewah. Kami tidak mampu menyewanya. Kami hanya berdua, dengan dua orang teman sebagai saksi. Sing mengenakan kemeja terbaiknya yang sudah sedikit pudar di bagian kerah, dan aku memakai gaun putih sederhana yang kubeli dari toko barang bekas.
Setelah menandatangani surat-surat, kami berjalan bergandengan tangan di sepanjang Sungai Sincheon. Angin musim semi meniup rambutku, dan Sing merapikannya dengan jemarinya yang ramping namun kuat.
"Maaf ya, Stella," bisiknya saat itu, suaranya sedikit serak. "Aku belum bisa memberimu pernikahan yang layak."
Aku berhenti berjalan, menatap matanya yang memancarkan rasa bersalah. Aku menggeleng, lalu tersenyum. "Menikah denganmu sudah lebih dari layak, Sing. Ini adalah hari terbaik dalam hidupku."
Ia membalas senyumku, senyum yang sama dengan yang ada di fotonya sekarang. "Tunggu saja. Aku akan bekerja keras. Aku akan kuliah, mendapatkan gelar, dan mencari pekerjaan yang bagus. Kita akan membeli rumah dengan halaman kecil. Kau bisa menanam bunga-bunga yang kau suka. Aku janji."
Janji. Sebuah kata yang kini terasa seperti belati yang mengiris hatiku pelan-pelan.
Sing-ku yang baik, yang polos, yang selalu berpikir positif. Setelah lulus SMA, ia tidak langsung kuliah seperti teman-temannya. Ia bekerja serabutan untuk membantuku merawat nenek yang sakit-sakitan, lalu membantuku melewati masa-masa sulit setelah nenek meninggal. Ia selalu menempatkanku di atas mimpinya sendiri. Sampai akhirnya tahun lalu, setelah kami menikah, aku mendorongnya dengan sekuat tenaga untuk mendaftar kuliah.
YOU ARE READING
aku kembali untukmu //said stella
Teen FictionNamaku Castella Bell. Aku seharusnya sudah mati di usia dua puluh delapan, hancur oleh duka setelah suamiku meninggal. Takdirku semestinya berakhir di bawah silau lampu truk malam itu. Tapi semesta memberiku lelucon. Aku terbangun kembali di tubuh...
