Becky Armstrong kembali sebagai sebuah rima yang sengaja dipatahkan. Ia adalah narasi yang dipaksa tunduk pada garis batas yang ditarik oleh tangan-tangan penguasa di rumahnya sendiri, sebuah eksistensi yang hanya diizinkan bernapas di balik bayang...
Namaku Rebecca Patricia Armstrong, orang-orang memanggilku Becky. Aku tidak mengerti dari mana nama itu berasal, tapi dulu sekali nenekku mengatakan bahwa nama itu milik seorang perempuan hebat yang selalu memeluk dirinya sendiri suatu hari nanti.
Aku banyak bertanya kala itu, tapi hari ini aku mengerti bahwa perempuan itu adalah aku. Aku kembali tinggal bersama Ayah dan Ibu ku hari ini, dirumah yang sudah 6 tahun aku tinggalkan. Alasannya sederhana, yaitu karena Ayah dan Ibu tidak ingin keberadaanku memperburuk pertumbuhan anak laki-laki kesayangan mereka.
Namanya Ethan Arkatama Armstrong, sosok kakak laki-laki yang selalu aku banggakan saat kecil. Kakak yang selalu menjadi pelindung adiknya. Dia pintar, tapi kata orang-orang aku lebih pintar dan itu membuat Ayah marah. Aku dititipkan pada Kakek dan Nenekku di London, dengan mereka aku benar-benar merasa dikasihi. Tapi, sejak keduanya tiada, arahku tidak menentu, aku pun kesulitan mencari jalan pulang.
"Kalau bukan karena Ayah yang meminta Ibu menjemputmu, Ibu tidak akan membawa kamu kembali ke rumah ini." begitu katanya, kata perempuan cantik yang paling aku sayangi.
Keberadaan ku selalu diawasi, kata mereka aku tidak boleh pintar, tidak boleh belajar, atau bahkan mendapatkan nilai bagus di sekolah baruku nanti. Aneh memang, tapi untuk tinggal dirumah itu, aku harus membayarnya dengan semua syarat yang mereka beri.
"Jangan membuat onar, selalu ingat kata Ayah dan Ibu." celetuk Ethan yang berdiri disamping Becky seraya menatap gerbang SMANA yang mulai dipenuhi oleh murid-murid yang lain.
"Kamu seharusnya sadar, Kak. Posisi mu sekarang adalah hasil dari adikmu yang selalu mengalah ini. Belajarlah dengan benar, agar kamu bisa benar-benar layak berada diatas." balas Becky yang kemudian berjalan memasuki area sekolah tanpa menoleh pada Ethan.
*****
Langkah sepatu Becky bergema di koridor, menciptakan ritme yang tidak selaras dengan ketenangan pagi di SMANA. Ia berjalan di samping Bu Sarah dengan dagu terangkat, matanya menyapu sekeliling dengan tatapan remeh yang tak tertutup. Ketika pintu kelas XI-MIPA 1 digeser, aroma buku tua dan keringat remaja menyambutnya, namun Becky hanya memberikan senyum miring yang penuh ejekan pada keheningan yang tiba-tiba tercipta.
"Anak-anak, kita kedatangan murid pindahan dari London," suara Bu Sarah memecah suasana. "Rebecca, silakan perkenalkan diri kamu."
Becky melangkah ke tengah, berdiri dengan satu tangan di saku roknya, menatap lurus ke arah papan tulis seolah wajah rekan-rekan kelasnya tidak layak untuk dipandang. "Aku Becky," ucapnya singkat, suaranya dingin dan tajam. "Aku tidak suka membuang waktu untuk basa-basi, jadi jangan berharap aku akan mengingat nama kalian."
Suasana kelas seketika riuh dengan bisikan tersinggung. Bu Sarah menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan ketegasan yang tertahan. "Rebecca, jaga sikapmu. Kamu di sini untuk belajar, bukan untuk memamerkan keangkuhanmu. Ulangi perkenalanmu dengan sopan atau kamu saya minta berdiri di lapangan."
Becky menoleh perlahan, menatap gurunya dengan tatapan menantang yang membuat beberapa murid menahan napas. "Nama panjangku Rebecca Patricia Armstrong. Aku pindah karena tidak punya pilihan lain. Apa itu sudah cukup sopan?"
Tanpa menunggu jawaban Bu Sarah yang tampak mulai habis kesabaran, Becky diperintahkan untuk duduk di satu-satunya kursi kosong yang tersisa. Letaknya di barisan ketiga, tepat di sebelah seorang gadis yang tampak sangat kontras dengannya. Gadis itu, Freen Sarocha, duduk dengan punggung tegak tanpa sedikit pun menoleh ke arah kegaduhan yang baru saja Becky buat.
Becky melangkah menuju kursi itu dengan gaya angkuh yang sudah menjadi kulit keduanya. Ia menarik kursi kayu tersebut hingga menimbulkan derit nyaring yang memekakkan telinga, namun gadis di sebelahnya tetap bergeming. Freen tetap terpaku pada bukunya, seolah-olah seluruh dunia sedang membeku kecuali jemarinya yang bergerak tenang mencatat penjelasan di papan tulis.
Becky meletakkan sikunya di atas meja, menopang dagu sambil memiringkan kepala ke arah gadis di sampingnya. Ia tidak terbiasa diabaikan, dan keheningan gadis ini mulai mengusik harga dirinya.
"Hei," bisik Becky pelan, suaranya serak namun penuh penekanan. "Aku sudah duduk di sini hampir lima menit dan kamu bahkan tidak berkedip. Aku Becky. Kamu siapa?"
Tidak ada jawaban. Freen hanya membalik halaman bukunya dengan gerakan anggun yang sangat teratur. Becky mendengus, senyum miringnya kembali muncul, namun kali ini bercampur dengan rasa jengkel yang nyata.
"Tuli ya? Atau memang sengaja mau terlihat keren dengan cara mengabaikan orang?" Becky kembali berbisik, kali ini lebih dekat ke arah telinga Freen. "Sombong sekali. Padahal aku hanya ingin tahu siapa yang akan berbagi meja denganku sampai satu semester ke depan."
Becky baru saja hendak memutar bola matanya dan membuang muka saat ia merasakan pergerakan tipis dari arah samping. Freen tidak menoleh sepenuhnya, namun pena di tangannya berhenti bergerak. Bibirnya terbuka sedikit, mengeluarkan suara yang begitu tenang namun sanggup membungkam keangkuhan Becky seketika.
"Berikan perhatianmu untuk pelajaran, jam istirahat nanti aku akan memperkenalkan diri," ucap Freen tanpa satu kali pun melirik ke arah Becky.
Becky tertegun. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap profil samping Freen yang tetap terlihat sedingin es. Bukannya marah karena diperintah, Becky justru merasakan sesuatu yang menggelitik di dadanya. Sebuah tantangan baru yang terasa jauh lebih menarik daripada sekadar nilai sempurna yang dilarang oleh ayahnya.
Becky menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memutar-mutar pena di jemarinya sambil tersenyum-senyum sendiri. Untuk pertama kalinya sejak ia dipaksa pulang ke Indonesia, ia merasa tidak lagi bosan. Ia baru saja menemukan anomali yang berbeda, seseorang yang tidak takut pada nama besar Armstrong, dan seseorang yang justru membuatnya ingin menunggu jam istirahat tiba dengan tidak sabar.
"Aku tunggu perkenalan resminya." bisik Becky.
*****
"Freen adalah perempuan yang disukai Ethan, Bec."
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.