Hari ini aku ngeliat dia lagi jalan ke arahku-bukan, dia tengah jogging. Suara langkah kakinya yang teratur membuat suara derapan kecil layaknya metronome.
Tap tap tap tap...
Suara langkah kaki bergema di gor sekolah. Para perempuan tengah beristirahat usai melakukan set pemanasan, sekarang waktunya para laki-laki buat pemanasan.
Punggungku bersandar ke dinding gor, melihat doi, ketika berlari itu terlihat begitu mempesona, atau ini karena aku tengah menulis ulang ingatanku ke kertas ini? Entah, memangnya aku peduli.
Waktu SMP, kita pertama kali bertemu. Somehow, kita jadi sahabat dengan mudahnya. Persetan mana ada sahabat yang caper kayak aku. Dikasih code apapun juga...label kita cuman temen.
Mau aku bicara soal perasaan yang ada di hati aku pun, label status kita masih teman.
Tapi, ingatanku yang payah dalam menghafal wajah. Bentuk mukanya menjadi aneh di ingatanku, kenangan kami masih ada. Namun, wajahnya tidak begitu..
Apa ia memiliki ciri khas lain selain tahi lalat di bawah matanya? Atau bentuk bibirnya memang selalu terangkat ke atas ketika bertemu denganku?
Kadang aku melihat kantung mata dibawah matanya; apa karena tugas akhir sekolah membuatnya seperti itu?
Biasanya, di waktu istirahat kalo tidak hujan dan sohibnya, masuk sekolah. Doi bakalan main basket sampai waktu istirahat habis, sementara aku akan makan sambil berbicara dengan teman kelasku.
Raut wajah senangnya ketika berhasil memasukkan bola ke dalam ring-timnya berhasil mendapatkan poin. Bagaimana kedua alisnya yang mengkerut ketika tengah memahami situasi saat bermain basket di hari itu, biasanya pertandingan basket akan bertahan lama kalau ada kakak kelas yang ikut bermain.
Aku mengingat cerita ini layaknya menghafal lirik dari lagu yang sama selama 1 tahun pertamaku di SMP. Mungkin ini efek karena aku sering mengaitkan lirik dengan kejadian di kehidupanku? Bisa jadi, ya pokoknya...
Event paling besar di sekolahku kala itu adalah pameran sains. Hari itu menjadi tempat dimana aku menjadi sangat sibuk. Dengan ambis mendapatkan stamp dari setiap stall pameran, tentu karena ingin mendapatkan hadiah...
Voucher makan di kantin Ci Kelly!
Memang benar makanan itu sumber energi,.
Guru-guru menyuruh murid-muridnya untuk membentuk sebuah kelompok namun, kelompok itu berujung menjadi tugas individu. Tentu saja, aku dan 'doi' bekerja sama.
Aku tahu ia tidak begitu tertarik dengan sains. Doi baru bergerak setiap aku menarik tangannya ke setiap stall yang bisa aku temukan sambil menulis barang dan bahan yang digunakan dan akhir reaksinya.
Hari itu doi-atau yang biasa dipanggil panggil Hiiro, tidak tertarik dengan reaksi ini menanyakan banyak hal kepada kakak kelas. Naasnya, hari itu menjadi hari yang sulit untuk menjadi panitia.
Karena, wajah kakak kelas yang kesusahan menjadi hal utama ketika berhadapan dengan Hiiro, sungguh itu lucu. Ia sangat penasaran mengenai banyak hal, aku kagumi sifatnya itu. Walau ia sering membuatku bingung dengan pertanyaannya.
Kalau di bahasa komik luar mungkin, boy wonder. Mewah terdengarnya, tapi kalau di sini menjadi agak jelek-anak ajaib. Aku lebih suka konotasi yang pertama.
Di hari kedua pameran sekaligus hari terakhir pameran itu, Hiiro memberitahu kalau ia selalu bermimpi menjadi seorang astronot, agak aneh karena tiba-tiba banget. Tapi ngga heran, doi pintar dalam fisika.
Banyak sekali kenangan yang bisa aku tulis tentang Hiiro, hal yang paling beruntung aku dapatkan adalah ia memberikan hadiah, es krim, ketika aku ulang tahun.
Menulis ini, aku semakin sadar kalau diriku ini terlalu gampang untuk di rayu menggunakan makanan....
Tapi, sorakan keras selamat ulang tahun bergema di kelas, tepukan tangan yang memenuhi indra pendengaranku-membuat tubuhku membeku. Awalnya raut bingung lah yang aku tampilkan, namun senyumku merekah begitu melihat dirinya yang tengah mengangkat tangannya ke atas.
Dasar...
Ia datang dan menempelkan satu es krim cokelat di pipiku. Aku mengerjap kaget, sensasi dingin di pipiku berbeda dengan suasana panas khas Jakarta di siang bolong.
Aku bertanya dengan satu alisku terangkat, dari mana ia tau kalau hari ini hari ulang tahunku. Ia menatapku dengan senyuman dan entah kenapa ada rona merah di telinganya. Namun, ia tidak menjawab pertanyaanku.
Oh... dari sini aku tahu kalau ada yang memberitahunya soal ulang tahunku.
Hiiro kemudian mencubit pipiku sambil mengatakan kalau ia diberitahu oleh kawanku. Aku sudah menduga soal ini, teman-temanku terkenal tidak bisa untuk ditutup mulutnya, alias ember. Aku sudah bisa menebaknya...
KAMU SEDANG MEMBACA
hellbounds
Teen Fiction"Satu kali saja, satu kehidupan saja; dimana kedua tangan kita bisa bertaut tanpa berakhir menjadi tragedi." - Carla Khaira, penulis penuh ide yang memiliki ingatan mengenai kehidupan lamanya. Ia hanya memiliki satu penyesalan besar di antara halama...
