astagaaaa akhirnya aku publikasikan cerita ini setelah sekian lamanya aku pikir dari tahun 2024 dan baru aku publikasi ditahun 2025
aduh aku jadi gerogi dehh~
OKE GUYS THIS IS MY FIRST STORY (。•̀ᴗ-)✧
So I apologize if there are any mistakes in my typing...
So... happy reading my sweetheart~
## *PROLOG*
Hujan deras mengguyur malam itu.
Suara petir menggelegar, seolah menyatu dengan suara bentakan keras dari ruang keluarga.
"KENAPA TUHAN MEMBERIKU ANAK PEREMPUAN LAGI?! APA SALAHKU SAMPAI HARUS DIHINA DENGAN KELAHIRANMU?!"
Tangan Dewangga Adi Pratama terangkat tinggi, siap mendarat di wajah putrinya yang baru berusia tujuh tahun.
Namun sebuah tubuh halus segera memeluk Sabiru dari depan.
"Cukup, Mas! Dia masih anak kecil. Jangan kau lampiaskan amarahmu padanya!" suara Anaya Clarissa bergetar, matanya basah menahan tangis.
Sabiru hanya bisa menggigil dalam pelukan ibunya. Hatinya perih mendengar kata-kata ayahnya yang tajam seperti pisau. Kata-kata yang akan terus terukir di ingatannya:
"kenapa tuhan memberiku anak perempuan lagi!."sang ibu berbisik dengan lembut padanya "tenanglah sabiru ibu ada disini untuk mu sayang-" Sabiru memeluk sang ibu dengan begitu erat "ibu... aku takut... kenapa ayah tidak menyayangiku?"
Air mata Sabiru menetes deras, membasahi bahu sang ibu. Tubuh mungilnya bergetar hebat seakan dunia begitu kejam untuk anak seusianya.
Anaya mengelus punggung putrinya lembut, meski dirinya sendiri hampir hancur mendengar tangisan itu.
"Jangan takut, Sayang… kamu tidak sendiri. Ada ibu di sini. Selalu ada untukmu," bisiknya, mencoba terdengar kuat, padahal hatinya pun sama remuknya.
Dewangga mengalihkan pandangan, wajahnya penuh amarah bercampur kecewa. Ia melangkah pergi dengan hentakan kaki keras, meninggalkan ruang keluarga tanpa sepatah kata lagi.
Keheningan mendadak menggantikan suara bentakannya barusan, hanya tersisa suara hujan deras yang menampar jendela.
Sabiru menatap wajah ibunya dengan mata sembab.
"Ibu… kalau aku tidak ada… ayah pasti bahagia, kan?" tanyanya polos dengan suara serak, membuat hati Anaya seakan teriris ribuan belati.
"Jangan pernah berkata begitu lagi, Sayang!" Anaya segera merengkuh wajah putrinya, menatap dalam-dalam mata mungil itu.
"Kamu adalah anugerah terindah yang Tuhan titipkan pada ibu. Jadi jangan biarkan kata-kata ayahmu membuatmu merasa tidak berharga."
Sabiru mengangguk pelan, meski ia tidak sepenuhnya mengerti. Hatinya tetap menyimpan luka yang tak mudah sembuh.
Malam itu, di tengah derasnya hujan, seorang anak kecil belajar bahwa kasih sayang tidak selalu datang dari ayahnya. Dan sejak malam itu pula, Sabiru berjanji pada dirinya sendiri untuk tumbuh kuat, agar suatu hari nanti ia tidak lagi menangis karena kata-kata penuh kebencian.
**************
gimana kesel ga sama om dewangga??
anyeong yareobunn~
kalian mau part selanjutnya jangan lupa tap vote nya!
YOU ARE READING
Nasib anak bungsu 📖
Teen Fiction⚠️⚠️⚠️WARNING❗⚠️⚠️⚠️ ini mengandung unsur pembullyan! "Sabiru Aprilia Himawah."lahir sebagai anak bungsu dalam keluarga besar "Dewangga Adi Pratama." Namun, bukannya kasih sayang, yang ia dapat justru kebencian dari sang ayah-semata-mata karena ia t...
