1-Topeng dan Tatapan Terlarang

815 28 0
                                        

Malam itu, kemewahan berpadu dengan intrik di Rockefeller Centre, sebuah bangunan tua bergaya gotik yang kini berfungsi sebagai lokasi pesta-pesta rahasia kaum elite dunia bawah

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.


Malam itu, kemewahan berpadu dengan intrik di Rockefeller Centre, sebuah bangunan tua bergaya gotik yang kini berfungsi sebagai lokasi pesta-pesta rahasia kaum elite dunia bawah. Lampu gantung kristal Bohemian memancarkan kilau keemasan, memantul pada topeng-topeng berukir rumit dan gaun-gaun sutra yang membelai lantai marmer. Udara dipenuhi aroma cognac mahal, cerutu Kuba, dan parfum-parfum eksotis yang bercampur dengan nada jazz improvise yang mengalun pelan dari sudut ruangan.

Javier Luca Davide, 36 tahun, seorang pria yang mendefinisikan dirinya melalui kontradiksi, berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke kota yang diselimuti kabut malam dan kemewahan dunia. Topeng perak berukir rumit menutupi separuh wajahnya, namun sorot matanya yang tajam, gelap seperti malam Sisilia tempat ia dilahirkan, tetap memancarkan dominasi yang tak terbantahkan. Jas velvet hitamnya membalut tubuh atletis yang terbentuk dari tahun-tahun keras di jalanan dan di balik meja negosiasi yang berlumuran darah. Ia adalah seorang penguasa, namun jauh di lubuk matanya, tersembunyi kegelapan dunia bawah yang membesarkannya - brutal, liar, dan selalu menginginkan lebih. Malam ini, ia datang bukan untuk bernegosiasi bisnis, melainkan untuk mencari sesuatu yang tak terduga, sesuatu yang bisa mengoyak kebosanan dalam hidupnya yang penuh perhitungan.

Pandangannya menyapu kerumunan yang bergerak seperti bayangan elegan, hingga berhenti pada sesosok bertubuh ramping di dekat pilar. Lelaki itu mengenakan topeng hitam polos yang menutupi sebagian besar wajahnya, namun tak bisa menyembunyikan keindahan tak biasa dari bibir tipis dan garis rahang yang tegas namun lembut. Yang paling menarik perhatian Javier adalah matanya. Mata doe bermanik hazel itu, disorot oleh cahaya redup, memancarkan perpaduan antara kepolosan dan kedalaman yang misterius. Indah, sekaligus memikat. Ada sesuatu yang rapuh, namun juga berbahaya di sana.

Pemuda itu, Giandra Casielle Nicholas, 28 tahun, ia merasakan tatapan tajam yang menusuk melalui kerumunan. Bagai pedang yang menghunus jantung. Ia adalah seorang pembunuh bayaran kelas kakap, seorang hantu yang bergerak tanpa jejak, yang telah lama bergabung dengan anggota organisasi "The Veil" yang legendaris. Ia datang ke pesta ini bukan sebagai tamu, melainkan sebagai bayangan yang tengah mengincar targetnya. Pesta topeng adalah medan bermainnya.

Wajahnya yang tampan, cenderung cantik dengan kulit putih bersih, seringkali menipu korbannya. Namun di balik mata hazel doe itu, tersembunyi perhitungan dingin dan insting mematikan. Malam ini, tugasnya adalah mengamankan sebuah benda yang dicuri, dan menyingkirkan siapa pun yang menghalangi.

Giandra sengaja memilih sudut yang agak tersembunyi, mengamati targetnya yang sedang bercengkerama di tengah kerumunan. Namun, Ia merasakan aura yang sangat kuat dari pria bertopeng perak itu. Sebuah tarikan magnetis yang berbahaya. Tanpa sadar, ia balik menatap pria itu, membiarkan pandangan mereka bertemu di tengah riuhnya pesta. Sepersekian detik, sebuah percikan tak kasat mata melintas di antara keduanya. Sebuah pengakuan akan sesuatu yang familiar namun juga asing, sebuah bahaya yang memikat.

Javier tersenyum tipis di balik topengnya, senyum predator bagai menemukan mangsa yang menarik. Ia mulai melangkah, gerakannya pelan namun penuh tujuan, menembus kerumunan orang-orang yang sibuk dengan obrolan dan tawa. Giandra merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ini bukan detak ketakutan, melainkan antisipasi. Ia tahu, pria itu akan mendekat. Ia selalu tahu.

"Mata yang indah," suara Javier terdengar serak, dalam, menyapu gendang telinga Giandra, nyaris seperti bisikan yang menantang. Ia berhenti beberapa langkah di depan Giandra, tidak terlalu dekat, pun tidak terlalu jauh. Jarak yang sempurna untuk mengobservasi. "Aku belum pernah melihat mu sebelumnya di lingkaran ini."

Giandra mengangkat dagunya sedikit. "Dan aku belum pernah melihat topeng sepertimu, Tuan." Suaranya lembut, nyaris seperti musik, namun ada nada yang menggoda di dalamnya. Sebuah undangan tersembunyi.

Javier tertawa kecil, sebuah melodi berbahaya. "Panggil aku Luca. Topeng hanyalah kedok, bukan?" Matanya menyapu tubuh Giandra, menelanjangi setiap lekuk, setiap bayangan. "Dan aku tidak percaya mata seindah itu perlu bersembunyi di balik topeng yang begitu polos."

Giandra merasakan panas menjalar di pipinya, namun ia mempertahankan ekspresi netral. "Beberapa hal lebih baik tetap tersembunyi, Tuan Luca."

"Atau ingin ditemukan," balas Javier cepat, satu langkah mendekat. Aroma sandalwood dan musk dari tubuh Javier menyelimuti penciuman Giandra, memabukkan dan mengancam. "Bagaimana denganmu, pemilik mata hazel? Apa yang membuatmu bersembunyi di sudut ini?"

Giandra hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak mencapai matanya. "Hanya mengamati, Tuan Luca. Mengamati dan menunggu."

Suasana tiba-tiba terasa tegang. Musik jazz seolah meredup, suara-suara di sekitar mereka menghilang. Hanya ada mereka berdua, di tengah keramaian, terperangkap dalam percakapan yang penuh makna ganda. Javier menyadari ada sesuatu yang lebih dari sekadar pesona pada pria di hadapannya. Ada ketajaman, sebuah kewaspadaan yang tidak biasa. Ia melihatnya di tatapan Giandra, di cara pemuda itu menahan diri, di aura bahaya yang samar namun terasa jelas.

"Menunggu apa?" tanya Javier, suaranya kini lebih pelan, lebih pribadi. Dia membungkuk sedikit, seolah ingin mencuri bisikan dari bibir Giandra.

Giandra mencondongkan tubuhnya ke depan, meniadakan jarak di antara mereka. Napas Javier menerpa pipinya, membawa aroma cognac dan kekuatan yang liar. "Entah," bisik Giandra, suaranya serak. "Mungkin-takdir."

Seketika, pandangan mereka terkunci. Dua dunia yang berbeda, dua jiwa yang berbahaya, bertemu di bawah samaran topeng, di tengah kemewahan yang sarat akan dosa. Javier merasakan tarikan yang tak terbendung, sebuah panggilan dari sisi gelapnya yang paling dalam. Ia tahu, pemuda di hadapannya adalah bahaya. Dan Javier selalu menyukai yang namanya bahaya.

Sebuah lagu baru mulai mengalun, melodi yang lebih lembut dan sensual, seolah memicu hasrat terpendam. Javier mengulurkan tangannya, sebuah isyarat yang tak perlu diucapkan. "Dansalah denganku, pemilik mata hazel," ajaknya, suaranya nyaris seperti perintah, namun dibalut rayuan yang tak tertahankan. "Sebelum topeng ini jatuh dan kita harus menghadapi siapa kita sebenarnya."

Giandra menatap tangan Javier, lalu beralih ke matanya. Sebuah keputusan dibuat dalam sepersekian detik. Ia punya misi. Namun tarikan pada pria ini terlalu kuat untuk diabaikan. Ini bisa menjadi keuntungan, atau bahkan jebakan. Dan Giandra menyukai tantangan. Ia mengulurkan tangannya yang bersarung tangan, menyambut sentuhan pria di depannya. Jari-jari mereka bertemu, dingin dan panas bercampur, sebuah janji akan kekacauan yang akan datang.

Black Rose Of Poison [JossGawin]Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora