BAB 1

248 13 0
                                        

Ternyata udah lama banget hiatusnya, sampe lupa caranya nulis lagi gimana :)

Dan sekarang aku kembaliiih, jelas dong aku bakal aktif menulis lagi dengan nuansa yang baru.

Mungkin, bagi pembaca lama bakal bingung ya kenapa ceritanya enggak kayak dulu lagi. Tapi, aku rasa memang harus mencoba sesuatu yang aku mau sekarang.

Dan sebelumnya cerita ini pernah aku tulis di tahun 2019 di App sebelah, jelas tulisannya dan genrenya beda banget. Apalagi ini tulisan kedua aku waktu itu, acak-acakan sekaliih. Tapi sekarang aku rombak dari awal karena aku secinta itu sama tokoh utamanya🤓😍🥲

Aku harap kalian sukaaaa.😘

Selamat membaca.

●●●●

Lavanya Aleianasya menyadari bahwa kehidupan pernikahannya telah lama berubah. Tentu saja Lavanya kesulitan, sangat kesulitan dengan perubahan yang membingungkan.

Awalnya, Lavanya tidak terlalu peduli dengan kembalinya sosok Kamila, akan tetapi ketidakpedulian itu membawanya pada retakan kecil dalam pernikahannya. Lavanya tahu bahwa dirinya tidak perlu cemburu, karena Lavanya menerima cinta yang luar biasa dari suaminya—Adipati Malik Sanjaya.

Lavanya memiliki suami yang baik, manis dan penuh perhatian—ya ... sebelumnya Adipati memang sosok suami yang akan didambakan oleh setiap wanita.

Entah sejak kapan—atau memang Lavanya buta dengan jarak kecil itu kian membesar, hingga ... sulit direkatkan kembali. Namun, sebelum benar-benar kehilangan, Lavanya sudah banyak melakukan segala cara untuk kembali menarik perhatian suaminya.

Lavanya menarik napas panjang, tatapnya jatuh ke cairan hitam pekat—gerak kakinya memelan saat netranya menemukan Adipati duduk dengan kaki kanan bertumpu di atas kaki kiri.

"Didi ...," Lavanya mengembangkan senyuman, menghentikan kaki di sisi meja, lalu merendahkan tubuhnya bersama tangannya meletakkan cangkir kopi di sudut meja. Adipati melirik kehadiran Lavanya, lalu kembali memusatkan perhatiannya ke layar komputer tablet.

Lavanya mengatupkan bibir, ada hembusan napas berat yang samar, lalu kembali menarik sudut bibirnya. "Kamu ada janji sore ini?" tanya Lavanya, nada suaranya mengalun pelan. "Aku mau mengunjungi makam Mama dan Papa." sambung Lavanya, tatapan matanya turun melihat Adipati tidak sedikitpun mengangkat pandangan untuk padanya.

Adipati meletakkan komputer tablet ke sisinya, menurukan kakinya. "Apa kamu enggak bisa pergi sendiri saja, Asya?" Adipati bertanya dengan intonasi suara datar. Matanya menyipit, lalu sebelah alisnya naik melihat perubahan ekspresi dari istrinya.

Lavanya menatap Adipati, "Kamu ada janji yang enggak aku ketahui, Didi?" Lavanya balik bertanya, Adipati memberikan anggukan pelan.

"Ya," Punggung Adipati maju, tangan kanannya memanjang mengambil cangkir kopi—menyesapnya pelan dan kembali menatap Lavanya. Sudut mata Adipati kembali berkedut.

"Kamila?"

Lagi, Adipati kembali mengangguk membuat Lavanya tersenyum getir. Lavanya menarik napas pelan, "Apa kamu enggak bisa membatalkan pertemuanmu dengan Kamila, demi aku?" Lavanya merendahkan suaranya, memohon kepada Adipati.

"Sekali ini saja, Asya. Kamu pergi sendiri saja, ya?"

Lavanya memalingkan wajah dengan senyuman miring, lalu kepalanya bergerak mengangguk. "Sekali ini saja kamu bilang, Didi? Apa kamu tahu hampir seluruh waktumu habis bersama Kamila." Lavanya memberikan jeda panjang, ia menggeleng. "Aku hanya bisa bersama kamu ketika bekerja dan di rumah ... itu bahkan lebih sedikit dibandingkan dengan Kamila." Lavanya mengerjapkan mata tiga kali, menghalau panas yang hinggap dimatanya.

Reclaiming Love Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang