1

9 2 0
                                        

Percikan kecil api dari lampu gang rusak menambah kesan dalam gelapnya malam tanpa konstelasi nan rembulan. Suasana sunyi sekaligus dingin. Keheningan yang cukup memekakkan telinga. Hanya sesekali terdengar suara kucing mengeong mengejar tikus kotor yang begitu lincah saat lari menghindari ancaman. Ini bukan tentang tikus berdasi.

Suara derap kaki mulai memasuki gang luas tersebut, sebuah gang yang dihimpit oleh bangunan besar bak menyentuh langit, membuat suara sepasang kaki pun dapat bergema dengan jelas. Seorang pria bertubuh tegap berjalan dengan tenang di bawah cahaya remang-remang. Diikuti pasukan anak buah berjas hitam rapih, ekspresi mereka sama. Diam dan berwibawa. Karena bibir mereka tidak dilatih untuk untuk membahas perihal yang tidak berguna.

Dua orang berjas hitam maju kehadapan tuannya yang lebih tinggi dan berotot. Satu orang menyuguhkan satu rokok di hadapannya, sementara satu lainnya mengeluarkan korek api untuk menyalakan benda tersebut sebelum mundur, membiarkan bos nya menikmati suasana kelam bertabur mayat di tanah.

Alexander Hargrave, begitulah ia dikenal. Bekerja sebagai pemimpin mafia penjual sabu dan organ manusia di pasar gelap. Pria itu berjongkok sembari menghembuskan asap dari mulutnya. Netranya berkeliling mengamati puluhan tubuh yang berserakan seperti seonggok uang receh. Kernyih muncul ketika jarinya dengan santai meraba satu korban di bawahnya, menyentuhnya dari rambut sampai dagu dengan perasaan cinta yang dipaksakan. Mencoba mencairkan hati yang sudah beku sedari kecil.

Alex tertawa hambar. Ibu jarinya masuk ke mulut mayat perempuan tanpa merasa jijik. Tidak peduli jika kulitnya dikotori darah yang menggenang di dalamnya. "Benar-benar tidak ada yang membuatku berambisi. Apa semua wanita seperti ini? Rasanya membosankan melihat makhluk lemah yang hanya bisa menangis dan mengeluh."

Pria yang berdiri tegap di samping Alex hanya bisa memalingkan pandangan ke arah pemandangan mengerikan itu. Magnus—tangan kanan Alex tetap pada posisinya, kedua tangannya dilipat di belakang tubuh. "Apa anda tidak bisa tertarik pada satu wanita pun, tuan Hargrave? Semua perempuan yang kami tunjukkan padamu malah kamu ambil organnya. Kau memang pemangsa."

Senyuman Alex memudar, wajahnya serius saat ia beranjak untuk berhadapan langsung dengan Magnus. Ia menghisap kembali ujung rokok lalu menyelipkannya di lipatan telinga sang bawahan. Memastikan bagian panasnya tidak sampai mengenai kulit. Yah, bagaimanapun Magnus cukup berguna bagi Alex. Tidak mungkin seorang pemimpin membuang anak buahnya jika masih berguna, kan?

"Aku memang pernah bilang jika aku butuh penerus, tapi kau tahu maksudku, Magnus. Aku tidak perlu istri untuk mendapatkan anak. Ada belasan klub malam yang menyajikan wanita penghibur di pinggiran jalan, salah satu mungkin bisa aku gunakan untuk menampung anakku sementara, sebelum aku mengambil organnya dan ku jual," tutur Alexander menatap hampa pada kegelapan jalan. Kedua tangannya sudah di masukkan ke dalam saku celana. Ia bisa merasakan angin dingin berhembus memainkan helai rambut dan ujung pakaiannya. "Aku tidak akan mudah jatuh cinta, Magnus."

Kakinya menariknya menyusuri gang meski harus menginjak punggung dan perut mayat perempuan yang menghalangi jalannya. Alex menarik napas dalam-dalam, matanya terpejam sambil terus berjalan tanpa tahu tujuan. "Kalian semua." Matanya terbuka, tatapannya dingin saat menoleh dari balik bahu. "Seperti biasa. Sebagian kumpulkan mayatnya di truk lalu sisanya bersihkan jejak dan sidik jari kita. Jangan sampai ada polisi yang tahu."

Semua anak buah mengiyakan dan langsung mematuhinya tanpa protes. Menyeret, menggendong bahkan melempar tubuh layaknya manekin.

Alex berbalik, berdiri tegap dengan tatapan yang netral. Fokus mengawasi jalannya proses pembersihan misi. Terkadang, ia akan merenung. Tidak ada yang tahu apa yang dia pikirkan. Namun tatapan Magnus padanya sulit diartikan, mungkin seperti pandangan seorang saudara yang memikirkan masa depan saudaranya.

Magnus berjalan pelan dan membisikkan sesuatu kala mencondongkan wajah di dekat kepala bosnya. Membuat mata Alex terbelalak kaget, senyum getir lantas muncul seperti ejekan.

"Payah."

Tangan Alex dengan santainya mengambil pistol dari saku belakang Magnus. Ia hendak memainkan sedikit peluru. Namun, belum sempat rencananya terlaksana, perhatiannya ditarik ke arah bagian gang yang sempit. Melihat siluet seseorang yang membuatnya seketika waspada. Spontan matanya menyipit, menggerakkan tubuh menghadap ke arah siluet itu muncul. Sementara pistol masih dalam genggaman.

Begitupun dengan Magnus yang tetap berdiri di dekat tuannya, berjaga-jaga jika ada bahaya dari arah lain.

Siluet itu perlahan membentuk tubuh wanita begitu mendekati lampu jalan. Gerakannya halus dan anggun. Siapa saja bisa menyangka itu seorang wanita berpakaian ketat atau... Mungkin telanjang?

Alex menatapnya lekat-lekat, tak membiarkan debu mengalihkan pandangan. Genggaman pada senjata semakin erat, bersiap menekan pelatuk pada waktu mendesak sekalipun. "Siapa di sana?" Suaranya rendah namun tajam.

Suasana menegang tanpa diminta. Fokus Alex dan Magnus tetap pada siluet yang mulai terlihat bagian rambutnya. Di tengah ketegangan itu, kucing masih mengejar tikus yang kini menyeret sesuatu di mulutnya. Alex mulai merasa jengkel. Kakinya tepat menginjak tikus itu tanpa perlu melihatnya.

Magnus sempat melirik ke bawah, ia melihat kaki bos nya menginjak bangkai tikus yang menggigit uang logam berwarna kekuningan.

"Ini akan membuatku mati," geram Alex terpaksa maju untuk memastikan orang di balik bayangan. Ia sudah bersiap jika itu merupakan polisi.

Tetapi yang tidak ia harapkan adalah melihat wanita modis dengan pakaian berlumuran darah sedang menyeret mayat pria menggunakan tali tambang yang terhubung ke leher pria itu.

Eleanor laila—wanita yang bekerja sebagai pembunuh bayaran. Wajahnya menatap dingin Alex, alisnya terangkat saat ia mulai meletakkan ujung tali yang ia genggam ke tangan pria besar itu.

Alex membeku saat melihat penampilan perempuan di hadapannya. Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka dan jantungnya anehnya berdebar lebih cepat. Matanya menjelajahi lekuk tubuh ideal dan wajah yang mengeluarkan aura berbeda dari yang biasa ia lihat. Ia melihat rahangnya yang tegas, matanya yang tajam dan caranya menggenggam belati.

"Kebetulan sekali aku menemukan kalian saat aku sedang bekerja. Sekalian bersihkan yang ini juga, ya. Aku malas mengotori tanganku lagi dengan darah koruptor ini. Baunya menjijikan." Ellen menyeringai. Tangannya kemudian menepuk-nepuk dada bidang Alex yang penuh kotoran debu dan darah.

Semburat merah mewarnai wajah Alex dan jantungnya berdebar kencang sampai membuatnya merasa sesak. Ia mencoba menyembunyikannya dengan cara tertawa hambar, memutar mata jengah dan memainkan lidah di pipi bagian dalam.

"Memangnya siapa kau, mencoba memerintahku? Kau pikir kau cantik?" Senyuman Alex melebar seperti mulut buaya. Matanya menunjukkan hasrat besar saat menatap belahan dada Elea. Ia hampir mengeluarkan air liur.

Ellen mengangkat alisnya. "Aku?"

"Ya, kamu cantik!" seru Alex tiba-tiba. Ia sepertinya mulai gila dan hilang akal. Sebelumnya dia mencoba mengejek, tapi satu kata yang keluar dari mulut Elea malah membuatnya linglung dan mabuk kepayang.

Alex melempar tali yang sebelumnya Elea berikan, membutuhkan kedua tangan untuk menutupi wajah yang semakin merona. "Dasar keparat. Bagaimana bisa..." Dirinya bergumam sendiri kala napasnya terengah-engah. "Bagaimana bisa aku langsung kepayang dalam satu kali pertemuan?"

Elea menatapnya heran. Ia sulit mendengar kata-kata pria itu. "Apa kau baik-baik saja? Haruskah aku memukulmu untuk mengembalikan kewarasanmu?"

Jeritan dalam batin alex hampir keluar dari mulutnya. Ia bergegas Mendongak, menatap Elea dari sela jari-jarinya yang masih menempel di muka. "Sekali aku berambisi, maka aku akan mendapatkannya bagaimanapun caranya. Kau tidak akan bisa lepas dariku, Sayang."

Elea tertegun sejenak, cukup terkejut oleh perkataan pria yang sepertinya meremehkan sesuatu yang belum diketahui. Gelak tawa keluar dari mulut sang wanita, sembari tangannya memegangi mulut dan perut. "Oh, sayang sekali aku tidak membawa maskawin."

Balasan itu cukup mengejutkan Alex. Membuatnya menurunkan kedua tangannya dan melipatnya di dada. Memperhatikan tawa perempuan yang cukup menghibur hatinya yang sempat beku.

"Aku akan memilikimu meskipun dengan cara membunuhmu. Itu pasti akan berhasil agar kau tidak lari dariku." batin Alex tersenyum tipis. Ia menoleh pada Magnus, menyiratkan bahwa dirinya sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan untuk mendapatkan penerus.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 31, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

under threatWhere stories live. Discover now