Chapter 01

2.4K 122 20
                                        

Seiring berjalannya waktu, semester baru pun dimulai.

Selama menikmati liburan panjang, para penghuni kos tersebut lebih sering menghabiskan waktu mereka di kos dari pada pulang ke rumah atau pun pergi jalan-jalan (yang pergi jalan-jalan secara dadakan hanyalah Janied dan Haziq).

Sedangkan Raesha, dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bertemu dengan keluarganya, Edi, Lusi, dan juga teman-temannya yang ada di kos. Tiba-tiba saja semuanya kembali damai seperti sedia kala.

Secara perlahan, Raesha kembali ke setelan awal dan para penghuni kos lain tidak tahu apakah mereka harus merasa senang atau merasa takut dengan fakta ini?

"Semester baru ini, gue harus punya pacar!" seru Haziq yang sudah mengeluarkan kalimat random bin asbun nya di pagi hari ini.

Ekspresi wajah Haziq terlihat menggebu-gebu, seolah-olah dia sedang mengucapkan sebuah kalimat yang sangat mulia dan mampu memotivasi seluruh manusia di muka bumi ini. Cara Haziq mengangkat tangannya dengan tangan terkepal seperti seorang aktivis kampus yang sedang demo di depan gedung rektorat.

"Motivasi lo nggak berguna banget, anjir" sahut Janied sambil memicingkan matanya dengan kesal ke arah Haziq.

"Lo bisa, nggak sih nggak bikin orang lain kesal di pagi hari kayak gini?! Mood gue udah jelek karena dapet kelas di Senin Pagi!" gerutu Janied sambil mengacak rambutnya dengan frustasi.

Kenapa bisa dia tidak mengubah jadwal KRS yang satu ini?! Kenapa jadwal di Senin Pagi justru luput dari penglihatannya?!"

"Ck ck ck, anak muda ini benar-benar payah. Seharusnya, lo itu semangat menghadapi hari pertama kuliah! Inget, Nit. Di kampus nanti, lo bakalan ngelihat dedek-dedek gemesh dan juga gadis-gadis cantik dari keperawatan" ucap Haziq sambil merangkul Janied yang langsung ditepis oleh Janied plus dia dorong Haziq supaya menjauh darinya.

"Bodo amat! Gue bete! Siapa, sih orang gila yang mau kuliah di Senin Pagi?!"

"Gue. Mau apa lo?"

Janied memberikan senyuman manisnya ke arah Raesha yang baru saja tiba di ruang makan sambil menenteng tasnya. Kedua mata Raesha sudah memicing kesal ke arah Janied yang kembali memberikan senyuman secerah mataharinya ke Raesha.

"Gue cuma mau muji lo aja, Rae~" ucap Janied yang setelahnya dengan cepat dia mencubit bibir Haziq.

"Jangan menebar fitnah, ya Haziq. Gue tahu lo mau bikin amarah Rae tersulut, kan? Jangan macem-macem atau gue tarik bibir lo?" ucap Janied dan Haziq langsung menganggukkan kepalanya beberapa kali demi keselamatan bibir seksinya.

"Masih pagi ini, Ya Tuhan... " ucap Mauza sambil geleng-geleng kepala.

"Yang lain masih pada tidur, ya?" tanya Raesha yang baru menyadari bahwa mereka berempat yang ada di ruang makan.

"Iya, Rae. Cuma kita manusia yang sangat rajin di muka bumi ini. Bang Varel sama Bang Joe yang budak korporat aja belum bangun" ucap Janied yang masih tidak terima bahwa semester ini dia kembali merasakan mendapatkan kelas di Senin Pagi.

"Mereka itu pemalas. Mentang-mentang kantor deket, mereka malah milih molor dari pada bangun pagi" gerutu Raesha.

"Pagi-pagi udah ngomel aja lo, Rae. Nanti, lo cepet tua, loh" sahut Haziq.

"Ziq, padahal, lo itu tersangka utama yang bikin Rae ngomel-ngomel mulu" ucap Mauza dan dia memberi kode ke Haziq untuk tidak membuat mood Raesha semakin jelek.

"Apa, sih baaang?" ucap Haziq yang seperti biasa lebih suka memancing keributan.

"Rae, lo mau berangkat sama gue atau sama Janied?" tanya Mauza yang memilih mengabaikan ketengilan Haziq.

Eunoia Season DuaStories to obsess over. Discover now