Hari itu matahari belum terlalu tinggi. Suasana sekolah elit pria, Akademi Aruna, diselimuti kabut tipis pagi yang dingin. Di sudut kelas 3-B, seorang siswa duduk sendiri. Namanya Raka, murid pendiam dengan wajah teduh dan tubuh mungil yang sering jadi sasaran tatapan para senior maupun teman sekelasnya.
Tak ada yang tahu kalau belakangan ini, Raka sering merasa aneh. Mual setiap pagi, napas yang cepat saat menaiki tangga, dan yang paling aneh… perutnya yang mulai terasa penuh, meski tubuhnya tetap kecil.
“Pagi ini… aku mimpi dia lagi,” bisiknya sambil memegang ujung seragamnya.
Dia tak berani menyebut nama itu. Alvaro ketua OSIS, tampan, tegas, dengan suara berat yang kadang menggetarkan seluruh ruang kepala Raka saat mereka bicara berdua. Tidak ada yang tahu, bahwa dua bulan lalu, mereka pernah terjebak di ruang kesehatan bersama… saat hujan besar turun, dan listrik mati selama dua jam.
Tak ada yang terjadi secara gamblang hanya kehangatan, bisikan, dan pelukan yang membuat napas mereka memburu. Tapi sejak malam itu… tubuh Raka berubah.
Hari itu, saat upacara bendera, Raka tiba-tiba merasa lemas. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Alvaro yang berdiri di barisan depan langsung menoleh. Tatapan mereka bertemu, dan Raka roboh.
Raka terbangun di UKS. Perutnya hangat. Ada aroma mint dan kopi dan tangan besar menggenggam jemarinya erat.
“Aku gak nyangka… ini semua beneran terjadi,” suara berat itu membuat jantung Raka berdebar tak karuan.
Raka menoleh, menatap Alvaro yang menunduk dengan mata merah. “Kamu gak salah. Tapi aku... aku memang berbeda.”
Alvaro mendekat, jemarinya menyentuh pipi Raka yang dingin. “Kamu… hamil, Raka. Dan itu anak kita.”
Tubuh mungil itu bergetar. Entah karena takut, atau karena cara Alvaro mengucapkannya… penuh gairah, tapi juga seperti menyimpan luka. Lalu Alvaro membungkuk, mencium dahi Raka.
“Mulai sekarang, kamu gak sendirian.”
Malam-malam berikutnya, Alvaro sering diam-diam menyusup ke asrama, duduk di tepi ranjang Raka, memeluknya dari belakang. Membisikkan janji-janji, sambil tangannya membelai perut kecil yang mulai tumbuh… dan setiap sentuhan itu terasa terlalu panas untuk disebut sekadar kasih sayang.
“Kamu makin wangi,” bisik Alvaro suatu malam, membenamkan wajahnya di leher Raka.
“Karena hormon…” Raka gemetar. “Kamu gak boleh”
“Tapi aku pengen kamu… makin jadi milikku.”
Dan malam itu… meski tak ada yang vulgar, tapi pintu kamar terkunci rapat, dan suara kasur berderit pelan menyanyikan simfoni rahasia yang hanya mereka berdua tahu.
🎗️🎗️🎗️
Sudah seminggu sejak itu sejak Raka pingsan di lapangan dan kabar kehamilannya tersebar begitu cepat di antara dinding-dinding batu megah Akademi Aruna.
Ruang-ruang kelas bergema oleh bisikan kejam.
"Katanya itu anak ketua OSIS…"
"Gila, cowok bisa hamil? Jijik banget."
"Dia pasti ngelakuin sesuatu yang gak bener. Sok polos padahal…"
Setiap langkah Raka di lorong jadi beban. Pandangan yang dulu mengaguminya sekarang berubah menjadi tikaman. Bahkan guru pun mulai bersikap dingin, seakan dia aib yang seharusnya disingkirkan.
Dan yang paling menyakitkan…
Alvaro menghindarinya.
Di ruang OSIS yang dingin dan rapi, Alvaro duduk dengan wajah menegang. Ayahnya kepala yayasan baru saja memaksanya menandatangani berkas: pernyataan kesanggupan menikahi Raka secara simbolis demi menjaga nama baik sekolah.
YOU ARE READING
Berkeping-keping
Short Storyini cerita one shoot,gak semua pemikiran ku sih dan aku banyak dibantu tapi ini adalah cerita dari berbagai inspirasi novel yg pernah aku baca. gak terima kritik ya tapi kalo request boleh, makasih.
