"Arel sendiri nih, Nis. Kamu juga lajang," ungkap Bunda Arel ketika mereka sedang reuni makan malam keluarga besar. Tak seperti Arel dan Nisa yang benar-benar putus komunikasi selama bertahun-tahun, ternyata diam-diam keluarga Nisa tetap menjalin hubungan baik dengan kedua orang tua Arel. Jujur, Nisa kaget kalau dia akan bertemu teman masa kecilnya itu di meja makan rumahnya.
Mau tau seberapa dekat keluarga Nisa dan Arel? Lihat saja foto-foto masa kecil mereka. Sejak Nisa mulai bisa mengingat wajah seseorang, sejak mereka berdua masih mengenakan popok bayi, sejak saat itu lah dia mengenal Arel. Orang tua mereka juga sangat dekat. Karena saat keluarga Nisa mengalami krisis finansial dulu, orang tua Arel adalah orang yang memberikan banyak uang untuk bisa membuat Abah-ayah Nisa-bangkit dari keterpurukannya. "Gimana kalau kalian berdua kami jodohin?"
Nisa cuma tersenyum samar. Tau kalau Tante Diana, Bundanya Arel, sedang bercanda. "Haha, Bunda bisa aja," jawabnya, mencoba mengelak dengan halus. Menyendok makanan di piring tanpa niat. Arel yang duduk persis di sampingnya sudah memandang Nisa penuh selidik. Membuat Nisa kian tak nyaman.
"Jodohin aja dia, Bun. Si Nisa gak pinter nyari calon suami," celetukan Ardi, Abang kedua Nisa, membuat matanya melotot. "Lagian Nisa tuh dari dulu suka sama Arel."
"Abang!" pekik Nisa penuh peringatan. Itu kan cerita lama!
"Bunda masih ingat lho, Dek. Kamu tiap hari dulu, pulang sekolah-masih SD ya, kalau gak salah? Bilangnya kalau udah gede pengen nikah sama Arel." Bunda Nisa ikut nimbrung. "Abangmu gak salah ngomong, kok."
"Sekarang masih suka?" goda Abah, membuat lutut Nisa makin lemas.
"Abaaaah, gak usah ikut-ikutan deh." Nisa cemberut.
Dulu mungkin lucu ya, di-ceng-cengin gini. Kalau sekarang rasanya malah kesel setengah mati. Memangnya di mata mereka, Nisa masih anak remaja baru puber?
"Jadi gimana, Rel? Minggu depan mau langsung lamaran?" Canda si abang sulung di keluarga Nisa, namanya Putra. Membuat Nisa kian diam tak berkutik.
Sampai Arel menjawab dengan nada dan wajah yang kelewat serius, "Boleh, Bang. Nanti aku diskusikan dulu sama para orang tua, enaknya gimana," Arel memandang kedua orang tuanya sendiri dan kedua orang tua Nisa secara bergantian, membuat semua orang tercengang.
Nisa terdiam seribu bahasa.
You attract what you fear.
Rasanya ungkapan itu benar sekarang. Nisa masih ingat saat Sela bilang, "Lo kayaknya bakalan berjodoh sama seseorang dari masa lalu. Yang udah lo kenal dari lama, dan dia orang yang hapal lo luar-dalam. Pokoknya nih cowok bukan orang baru gitu lah."
Saat Sela bilang begitu, Nisa dengan cepat menolak mentah-mentah, "Amit-amit." Bulu kuduknya meremang seketika.
Sela jelas kebingungan. "Kok malah amit-amit, sih?"
Di kepala Nisa, dia hanya akan berurusan dengan dua orang kalau menyangkut soal masa lalu:
Satu, dengan Diki, mantannya yang agak toxic dan terpaksa Nisa tinggalkan karena tak pernah mendukung ataupun membantu Nisa dimasa-masa terburuknya. Diki bukan tipe bajingan yang banyak tingkah sebenarnya-gak seburuk cowok-cowok yang sempat Nisa lihat di TikTok. Hanya saja, bagaimana cara dia mematahkan semangat Nisa saat masih pengangguran dan hilang arah dulu, membuat Nisa merasa cinta aja gak cukup untuk melanjutkan hubungan dengan Diki.
Kalau mereka berdua ketemu pas sama-sama udah mapan, mungkin bisa jadi lain cerita.
Kedua, Shaka. Gak lucu kan ya kalau dia end up dengan orang yang notabene sudah punya istri; dan sekedar fyi, Shaka ini suami Sela, teman baiknya Nisa. Jelas sekali kenapa Nisa sampai bilang "Amit-amit." Dia anti menjadi pelakor. Itu pun kalau omongan Sela tepat sasaran, paling parah, Nisa bakal jadi istri keduanya Shaka, membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Nisa berdiri.
YOU ARE READING
Snow In Summer
RomanceMenikahi mantan suami sahabatnya sendiri gak pernah masuk ke daftar keinginan Nisa di umurnya yang keduapuluh delapan. Nisa kira Sela tuh asbun pas bilang, "Lo tuh jodohnya sama cowok yang udah lo kenal dekat dari lama." Gak pernah Nisa sangka, omon...
