9 tahun yang lalu
---
Giselle pertama kali tahu rasa takut bukan dari senjata, tapi dari keheningan.
Bukan suara tembakan yang paling mematikan di fasilitas itu—tapi sunyi.
Sunyi ketika semua anak dipanggil satu per satu, tapi nama seseorang tidak pernah disebut lagi.
Sunyi ketika kasur di sebelahmu kosong saat pagi, dan tidak pernah terisi lagi.
Sunyi yang menyiratkan satu hal: seseorang telah gagal.
Dan di tempat ini, gagal artinya mati.
---
Fasilitas tempat mereka tinggal tidak punya jendela.
Langit hanya bisa dilihat dari layar buatan di plafon yang menayangkan visual palsu berganti tiap 6 jam—biru pagi, jingga senja, lalu hitam pekat dengan bintang digital. Tapi Giselle dan Jeno tahu betul: tidak ada langit di atas sana. Hanya lapisan logam, kawat berduri, dan eksperimen berikutnya.
Mereka tidak sekolah. Tidak mengenal ulang tahun, makanan hangat, atau panggilan sayang.
Mereka belajar mengenali tekanan senjata lebih awal daripada huruf.
Mereka disuruh lari sebelum bisa benar-benar bicara lancar.
Usia mereka baru sembilan tahun, tapi mata mereka sudah tua—terlalu tua untuk seumur hidup yang belum dimulai.
---
> "Tahu nggak, kalau kita bisa kabur," kata Giselle pelan suatu malam, "aku mau tinggal di rumah atap. Kayak di film yang dulu kita lihat diam-diam."
> Jeno menyeringai, menggambar bentuk persegi kecil di debu dinding menggunakan paku kecil.
"Kita kabur ke atap, terus tidur sambil lihat bintang."
> "Langitnya palsu."
"Tapi kalau kamu yang bareng aku, ya nggak apa-apa."
---
Mereka tidak pernah disebut dengan nama. Giselle adalah 31-A.
Jeno adalah 03.
Angka-angka itu bukan nomor urut tempat tidur, melainkan peringkat kelayakan bertahan hidup.
Semakin rendah angka, semakin tinggi performa dan kekejaman pelatihannya.
Semakin dekat kamu ke angka 01, semakin kamu dianggap "sudah siap untuk misi di luar".
Jeno... dia bukan yang terkuat. Tapi dia satu-satunya yang tidak pernah membiarkan Giselle terluka.
---
Mereka punya kebiasaan kecil: saling menulis nama di balik kertas latihan, pakai serpihan arang dari sisa api simulasi.
Satu-satunya tempat di mana mereka masih bisa jadi anak-anak.
Dan satu-satunya bukti bahwa mereka pernah dianggap manusia, bukan kode.
---
Hari itu, mereka dikumpulkan untuk sesi simulasi taktis.
Senapan simulasi, waktu dibatasi, sasaran bergerak.
> “31-A, tembak sasaran kiri!”
Giselle melangkah cepat, posisi rendah.
“03, dekati sisi belakang, tutup titik buta!”
Langkah kaki mereka seperti simfoni di lorong baja.
Mereka tahu cara membaca bahasa tubuh masing-masing tanpa perlu bicara.
Tiga menit berlalu. Semua sasaran hancur.
> “Sinkron,” kata pengawas.
“Efisiensi 93%.”
Itu pujian. Dan pujian di tempat ini jarang diberikan.
Tapi Giselle tidak tersenyum.
Dia tahu: semakin sinkron mereka, semakin cepat mereka akan dipisahkan.
---
Malamnya, kamar mereka hanya diterangi satu lampu kecil.
Jeno duduk sambil mengusap luka di lengannya—tergores saat latihan.
> "Sakit?"
Giselle datang dengan kotak kecil, berisi plester dan kapas basah—dicuri dari ruang medis waktu pengawas lengah.
> "Nggak," jawab Jeno, meski napasnya tertahan saat alkohol menyentuh kulit.
> "Kamu cepat banget ambil ini tanpa ketahuan."
"Aku anak baik-baik. Cuma belajar dari yang jahat."
> "Aku jahat?"
"Kalau kamu nggak jahat... kamu nggak akan bisa jaga aku."
Jeno diam, lalu pelan-pelan menempelkan plester sendiri.
Giselle duduk di sebelahnya, memandangi langit-langit palsu yang berganti ke malam.
> "Nanti kalau kita keluar dari sini... kamu mau tetap temenin aku?"
Suaranya pelan. Ragu. Tapi tulus.
> "Kalau kita keluar... aku maunya kamu temenin aku," jawab Giselle.
> "Sampai kita lihat langit asli?"
"Iya. Dan bintang yang nggak buatan."
---
Tapi keesokan paginya, semuanya berubah.
Jeno tidak muncul saat sarapan.
Tidak saat pelatihan.
Tidak juga saat jam tidur.
Giselle bertanya—sekali. Dipukul. Bertanya lagi—dipukul dua kali.
Akhirnya dia berhenti bicara. Tapi dia tidak berhenti mencari.
---
Beberapa hari kemudian, dia dipanggil ke ruang pelatihan baru.
Layar besar menyala otomatis.
Rekaman mulai diputar.
Wajah buram. Lalu semakin jelas.
Itu Jeno. Tapi bukan Jeno yang dia kenal.
Tubuhnya lebih tinggi. Tegap. Mata kosong.
Tangan memegang pistol dan menembak tiga sasaran dalam hitungan detik.
> “Subjek 03 telah menyelesaikan simulasi eksekusi dalam 6,2 detik.”
“Siap diturunkan sebagai unit eliminasi.”
Giselle berdiri membeku.
Seluruh ruangan terasa berputar.
Jeno tidak hilang. Dia direkrut. Diubah. Dilatih untuk membunuh.
Dan jika dia naik ke posisi unit eliminasi...
...maka cepat atau lambat, mereka akan bertemu sebagai musuh.
---
> "Kamu ninggalin aku."
"Dan sekarang... kamu dilatih buat nembak aku?"
Giselle mengepalkan tangan.
Satu tetes air mata jatuh ke lantai baja, menguap dalam dingin.
Tapi dia tidak menangis. Dia tidak diizinkan untuk menangis.
---
> “Oke, Jeno,” bisiknya ke dirinya sendiri.
“Kalau kamu belajar nembak…
Aku juga.”
YOU ARE READING
Sweetheart, reload
ActionKami pernah janji akan lihat langit bareng. Tapi dunia justru ngajarin kami cara saling membunuh." Satu jadi peluru. Satu jadi target. Tapi kenapa mereka masih saling mengingat?
