PROLOG

12 2 0
                                        

Waktu adalah ilusi, kata orang bijak. Tapi bagiku, waktu adalah penantian. Penantian panjang yang tersembunyi di balik setiap detak jantung yang berdetak tak karuan, setiap senyum yang kutahan agar tak terlihat bodoh, setiap kata 'teman' yang kuucapkan seolah itu satu-satunya label yang bisa kusematkan padamu.

Ini adalah tentang mencintai dalam diam. Mungkin kedengarannya klise, atau bahkan pengecut. Tapi bagiku, ini adalah bentuk cinta yang paling murni, yang tak menuntut balasan, yang hanya ingin melihatmu bahagia, sekalipun kebahagiaan itu bukan denganku.

Di antara lorong-lorong SMA Nusa Bakti yang ramai dengan riuh tawa dan celotehan remaja, di bawah tatapan bintang yang sama yang selalu kusaksikan sendirian dari jendela kamarku, aku memilih untuk mencintaimu dari kejauhan. Aku memilih untuk menjadi penjagamu, pelindung rahasiamu, tempatmu berbagi cerita, tanpa pernah sedikit pun menodai keindahan persahabatan kita dengan pengakuan bodoh.

Aku memilih untuk melihatmu bahagia, meskipun bukan denganku. Setidaknya, itulah yang dulu kupikirkan. Sampai sebuah titik balik tiba, memaksaku bertanya: apakah takdir memang bisa diucapkan? Atau hanya akan tetap menjadi bisikan hati yang tak pernah sampai, selamanya terkubur dalam diam? Aku ingin tahu jawabannya, tapi aku juga takut.

"Maura, berulang kali aku mencoba memahami isi hatimu yang sulit sekali untuk ku tebak, Berulang kali aku mengetuk dan tak pernah sekali pun kau membukanya untuku.

Aku mencintaimu, sungguh.
Namun, mengapa sekali saja kau tak pernah menoleh ke arahku? Apakah aku tak cukup sempurna di matamu? Atau... memang bukan aku yang kau mau?"

Aku yang selalu mencintaimu, Mahatma Rajendra

————

UNTUK MAHATMAHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora